Kerasnya Hidup Para Perempuan Pemecah Batu di Kontunaga Muna, Seember Dihargai Rp 7 Ribu – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Muna

Kerasnya Hidup Para Perempuan Pemecah Batu di Kontunaga Muna, Seember Dihargai Rp 7 Ribu

Para perempuan pemecah batu di Muna.

KENDARIPOS.CO.ID — Tangguh, kuat dan sabar. Itu modal utamanya. Perempuan-perempuan dari Desa Kontunaga di Muna, melewati hari dengan bekerja sebagai pemecah batu. Melawan kerasnya hidup, yang seringkali lebih keras dari batu.
Yafruddin Yadi

Martil seberat 5 kilogram sesekali goyah dari genggaman tangan kanannya yang sudah dimakan usia. Sebongkah batu gunung di depannya sedari tadi belum juga bisa terbelah. Tapi perempuan uzur ini tak menyerah. Setelah beberapa kali mencoba, batu seukuran kepalan tangan orang dewasa ini akhirnya terbelah, lalu berkeping. Senyum dari bibirnya yang dipenuhi cairan sirih, tersungging.

Pecahan batu lalu ia singkirkan, disatukan dengan tumpukan yang dipecahkannya sehari sebelumnya. Ia menghitung, sudah sekira lima ember. Masih ada setengah kubik kurang di depannya, menumpuk dan belum tuntas. “Belum ada yang pesan, jadi kita pecah-pecahkan saja dulu,” kata perempuan tua itu, sembari membetulkan posisi sarungnya yang bergeser karena gerak.

Namanya, Wa Metombo. Usianya 80 tahunan. Sejak 30 tahun lalu, ia menekuni profesi ini bahkan “diwariskan” ke anak-anaknya. Saat Kendari Pos menyambangi tempatnya bekerja, persis di bawah sebuah tenda di pinggir jalan, Wa Metombo siang itu ditemani anak perempuannya bernama Wa Nembe, berusia 40 tahun. Ia juga bekerja sebagai pemecah batu.

Di belakang desa itu, banyak bukit-bukit batu yang digali penduduk desa untuk dijual. Biasanya digunakan sebagai bahan dasar fondasi bangunan. Bila tak terjual dalam bentuk bongkahan besar, para perempuan yang turun tangan. Memecah batu menjadi suplit, yang juga jadi material penguat cor, termasuk bahan pelapis jalan. “Suamiku, yang kumpul batunya. Kita yang pecahkan,” kata Metombo, yang berkomunikasi dengan bahasa daerah, Muna.

Tak hanya batu gunung, batu kapur juga biasa dipecahkan perempuan ini. Berkat ketekunannya mengangkat martil, ia mampu menghidupi tujuh anak-anaknya. Profesi ini, ternyata dilakoni banyak perempuan di kampung itu. Mereka membantu suaminya, mencari tambahan penghasilan. “Soalnya hidup ini keras, jadi kita kerja keras, pecahkan batu yang keras,” timpal Wa Nembe, mencoba berfilsafat sembari tetap mengangkat martil.

1 of 3

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top