Nur Alam Lambaikan Tangan, Keluarga dan Pembesuk Menangis di Rutan Guntur – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Nur Alam Lambaikan Tangan, Keluarga dan Pembesuk Menangis di Rutan Guntur

Putri sulung Nur Alam, Sitya Giona (celana putih) saat keluar dari pintu masuk kawasan Rutan Guntur. Fptp : Ramadan/Kendari Pos.

KENDARIPOS.CO.ID — Sudah sepekan terakhir, terhitung sejak tanggal 5 Juli 2017, Gubernur Sultra non aktif, Nur Alam menjalani hari-harinya di Rutan Guntur, Jakarta. Ia ditahan Komisi Pemberentasan Korupsi (KPK) dengan sangkaan penyalahgunaan wewenang. Kamis, (13/7) menjadi hari paling bahagia bagi lelaki yang sudah 9 tahun memimpin Sultra itu karena untuk pertama kalinya ia dibesuk orang-orang terdekatnya.

Mereka adalah Tina Nur Alam, sang istri, yang ditemani anak-anaknya. Turut bersama mereka yakni Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sultra, Nur Endang Abbas. Istri Nur Alam, yang juga anggota DPR RI, Tina Nur Alam tiba di Rutan Guntur  sekira pukul 10.04 WIB dengan menumpangi kendaraan bernomor polisi DT 1553.

Ia ditemani tiga anaknya yakni, Setya Giona Nur Alam, Radhan Al Gindo dan Enozha, termasuk Kepala BKD Sultra Hj Nur Endang Abbas. Saat tiba di sana, mereka langsung mendaftar di petugas KPK guna memperoleh izin untuk menemui tahanan. Dari balik pintu gerbang ruang

Instalasi Tahanan Militer Pongdam Jaya, Nur Alam yang mengenakan baju kaos kuning terlihat melambaikan tangan, menyapa orang-orang terdekatnya yang ia lihat datang membesuknya. Nur Endang Abbas yang melihat Nur Alam dari balik gerbang itu tak kuat menahan rasa sedih. Air matanya menetes.

Setelah prosedur administrasi beres, secara bergantian, mereka masuk menemui mantan Ketua DPW PAN Sultra itu. 40 menit kemudian, Radhan terlihat keluar dari ruang tahanan setelah menemui ayahnya. Ketua Pemuda Perindo Sultra ini memilih keluar lebih awal, tak bersama ibu dan dua saudaranya. Radhan mengaku kondisi ayahnya sehat.

Kepada putranya itu, Nur Alam berpesan agar dirinya tetap semangat menjalani hari-hari seperti biasa sekalipun sang ayah masih menghadapi persoalan hukum. Radhan diminta tetap kuat, dan terus menjadi dewasa. Sebagai laki-laki, Radhan berjanji akan setegar ayahnya. “Kata bapak, saya harus tetap semangat. Yah, begitulah pesannya. Yang jelas, bapak sehat,” ujar Radan saat ditemui wartawan Kendari Pos di Rutan Guntur.

Sementara itu, Tina Nur Alam dan dua putrinya baru keluar dari tahanan setelah jatah dua jam besuk berakhir, yakni pukul 12.00 WIB.  Tina tidak berbicara banyak seusai menemui suaminya. Raut wajah anggota DPR RI itu ekspresi sedih saat keluar dari dalam tahanan. Matanya mengeluarkan air mata. “Pak Gub (Gubernur) sehat, sama seperti biasa,” kata politisi PAN itu sambil terus berjalan didampingi Ketua BKD Sultra, Nur Endang.

Kata Tina, Nur Alam sempat menitip salam kepada seluruh masyarakat Sultra. Intinya, masyarakat harus tetap menjalankan aktifitasnya seperti hari-hari biasanya. Sementara Nur Endang, memilih tak berkomentar apapun. Ia terus berjalan bersisian dengan Tina Nur Alam menuju kendaraan yang hendak mengantar mereka keluar dari kawasan Rutan Guntur.

Ketua DPRD Sultra, Abdurrahman Saleh juga ikut membesuk Nur Alam kemarin. Ia tidak datang bersamaan dengan keluarga, tapi sendiri. Saat keluar, mantan Sekrtaris PAN di era Nur Alam jadi Ketua PAN ini mengatakan apa yang dihadapi Nur Alam merupakan konsekuensi sebagai seorang pemimpin. Nur Alam kata dia tetap menghadapi semua proses hukum dengan tabah. Lagipula belum dinyatakan bersalah oleh pengadilan. “Jadi, asas praduga tak bersalah harus selalu dikedepankan,” pesannya.

Politisi PAN itu mengatakan gubernur menitip salam kepada seluruh masyarakat Sultra. Kondisi Nur Alam selama berada dalam tahanan masih dalam keadaan baik-baik saja. “Pak Gub sehat di dalam (di Rutan). Intinya, Pak Gub kuat menghadapi proses hukum,” ujar dia saat ditemui di Rutan Guntur usai membesuk Nur Alam.

Untuk diketahui, Nur Alam ditahan KPK pada 5 Juli 2017 setelah menjalani pemeriksaan yang ke dua sebagai tersangka dugaan
penyalahgunaan wewenang penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) tahun 2008-2014 di Kabupaten Buton dan Bombana. (dan)

 

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top