Pemakai Narkoba di Sultra Mayoritas Pelajar, Per Maret 66 Orang Terjaring BNN – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Pemakai Narkoba di Sultra Mayoritas Pelajar, Per Maret 66 Orang Terjaring BNN

KENDARIPOS.CO.ID — Saat para ibu sibuk ribut akibat anaknya tak diterima di sekolah favorit karena terbentur zonasi, kala Dinas Pendidikan pusing akibat protes publik karena kebijakan penerimaan siswa baru, ternyata ada masalah yang jauh lebih serius mendera dunia pendidikan kita, khususnya di Sultra. Peredaran Narkoba sudah mulai masuk kategori memprihatinkan. Para pelajar teridentifikasi sebagai pemakai paling dominan sepanjang 2017 ini.

Itu berarti, penelitian BNN dan Universitas Indonesia (UI) di tahun 2015 lalu yang menyebut bahwa Sultra darurat narkoba tidaklah berlebihan. Versi UI, pelaku penyalahgunaan narkoba di Sultra telah mencapai 26.357 orang. Sebanyak 66 persen atau 17.402 pengguna masih berstatus pelajar. Sisanya, 34 persen atau 8.965 orang dari berbagai kalangan seperti PNS, karyawan swasta dan aparat hukum.

Dari data itu, Sultra memang masih berada di urutan ke 30 dari 34 provinsi di Indonesia, namun kondisi tersebut harus diantisipasi lebih dini. Hasil pengamatan dan evaluasi BNN bersama dengan Polda Sultra dengan instansi terkait, jumlah pengguna narkoba yang teridentifikasi bisa berkembang pesat jika tidak ditangani secara serius. Bumi Anoa akan menjadi lumbung peredaran narkoba di masa mendatang.

Bagaimana tahun 2017? Badan Narkotika Nasional (BNN) Sultra merilis, hingga Maret 2017 ini, sudah ada 66 pengguna narkoba dari kalangan pelajar. Dari total 137 orang yang terjaring operasi penyalahgunaan zat-zat aditif ini. Ini makin mengkhawatirkan, karena jumlahnya sudah setengah dari jumlah pelajar yang terkena narkoba tahun 2016 lalu, yang mencapai 127 orang. Bila tiga bulan saja sudah 66, bagaimana setahun?

Inilah yang menjadi kekhawatiran Kepala Bidang Pemeberantasan BNNP Sultra, AKBP Bagus Hari Cahyono. Ia amat menyayangkan peredaran narkoba di Sultra yang bukannya menurun, malah makin meningkat. Ironinya, sebagian dari angka itu justru disumbang dari kalangan pelajar. “Para pengedar ini memang mengincar mereka yang masih dalam golongan usia rentan yakni mulai dari anak SD hingga SMA,” katanya, saat ditemui, Kendari Pos.

Bagus tidak menampik bahwa kalangan umum juga ikut menyumbang tinggi angka peredaran Narkoba di Sultra mulai dari mereka yang tidak bekerja, karyawan hingga PNS. Tapi terjeratnya banyak pelajar, ini jauh lebih membahayakan. “Pelajar masih mendominasi penyalahgunaan narkoba di Sultra mulai dari tingkat SD hingga SMA. Itu ada,” ungkapnya.

Untuk kalangan pelajar tersebut, narkoba yang paling banyak digunakan adalah jenis tembakau gorila, yang masuk dalam golongan ganja karena kandungan narkotikanya sama. Narkoba yang digolongkan oleh BNNP Sultra sendiri adalah sabu, ineks, ganja, benzo dan lem fox. “Ada yang paling baru itu namanya Flakka namun itu belum ditemukan di Indonesia,” ungkpanya.

Terkait dengan modus penyebaran narkoba di Sultra sendiri masih tetap menggunakan modus lama yakni beli putus. “Pembeli dan penjual itu tidak saling mengenal. Sedangkan untuk modus terbaru itu sendiri adalah melalui media sosial, cara inilah yang dipakai memasarkan tembakau gorila,” katanya.

Disinggung soal jalur masuk narkoba di Sultra, Bagus menyebut ada banyak jalur masuk barang terlarang itu baik dari darat, laut dan udara. Ada yang dari Kalimantan lalu ke Makassar kemudian menyeberang ke Kolaka Utara. Sedangkan jalur laut itu melalui Baubau dan Muna, sementara udara dari Jakarta bisa masuk langsung ke Kendari.

“Jangan salah, Narkoba ini juga ada yang masuk melalui jasa pengiriman. Tergantung dari kemasan. Kalau bagus pengemasannya itu bisa lolos,” paparnya. Ditanyakan soal keterlibatan TKA yang ramai masuk ke Sultra, Bagus mengaku belum ada. “Untuk TKA sendiri BNNP belum pernah mendapatinya,” imbuhnya.

Data yang tak berbeda juga diutarakan BNN Kota Kendari. Lembaga yang dipimpin Murniati ini juga mengakui bahwa pelajar kini makin banyak yang terjerat kasus narkoba. Yang paling banyak diminati adalah ganja jenis tembakau gorilla. “Belum lama ini, kami meringkus mahasiswa yang jadi pengedar. Ada juga tiga pelajar kedapatan mengonsumsi tembakau gorilla,” kata Murniati, kemarin.

Ia menyebut, tahun 2016 lalu ada 138 orang yang terjerat penyalahgunaan narkoba, dengan 101 orang diantaranya berusia kurang dari 17 tahun, yang teridentifikasi menjadi pengguna. Sedang pada 2017 ini, hingga Juni sudah 56 orang masuk rehabilitasi. Nah, dari jumlah itu, 31 diantaranya berusia dibawah 17 tahun.

“Itu yang ketahuan saja. Sesungguhnya narkoba di Kendari ini sudah menghawatirkan, paling parah justru pelajar, generasi kita. Caranya, kayak gorila, itu tenyata mereka beli online. Oleh bandar dikirimkan via jasa pengiriman. Kalau lem fox, itu karena murah dan mudah didapatkan di toko-toko” ujarnya, Rabu (12/7) kemarin.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top