Empat Bulan Buron, Terpidana Diringkus di Bandara Baubau – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Hukum & Kriminal

Empat Bulan Buron, Terpidana Diringkus di Bandara Baubau

KENDARIPOS.CO.ID — Pelarian Medi Marsela, terpidana kasus penggelapan sertifikat BTN Medi Brata 2016 silam akhirnya terhenti. Ia berhasil diringkus oleh aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Baubau di ruang kedatangan penumpang, sesaat setelah turun dari pesawat, Rabu (12/7) 2017.

Penangkapan terpidana yang buron sejak empat bulan lalu itu bermula dari informasi Asisten Pengawasan (Aswas) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra, Yeni Andriani, SH,MH. Pagi kemarin, Yeni Andriani bersama rombongan jaksa Kejaksaan Tinggi Sultra sedang dalam perjalanan menuju Baubau menggunakan pesawat Wings Air. Dalam pesawat dia melihat Medi. “Saya kebetulan dapat tempat duduk didekat pintu kedua yang dibagian belakang,” ujar Yeni, (12/7/2017).

Duduk di seat belakang, Yeni leluasa melihat para penumpang yang akan masuk kedalam pesawat. Dan ketika Medi Marsela masuk yang diketahuinya adalah DPO Kejari Baubau, Yeni terus memerhatikan Medi yang kebetulan duduk tidak jauh darinya. “Saya ingat dan memastikan itu Medi salah seorang terpidana yang menghilang setelah vonis.

Setelah memastikan wanita tersebut adalah DPO Kejari Baubau, Yeni Andriani segera berkoordinasi dengan rombongan dan Kejari Baubau. Dia memberitahukan bahwa terpidana yang lama dicari berada satu pesawat dengan dirinya. Saat pesawat landing, Yeni tidak langsung mendekati Medi namun menunggu terpidana itu keluar lebih dulu. “Saya tunggu sampai dia keluar, dan ternyata dia tahu saya ada karena pada saat itu saya juga mengenakan seragan dinas. Jadi sama-sama menunggu. Sampai-sampai tersisa kami berdua dalam pesawat,” paparnya.

Yeni lalu mendekati Medi dan menyentuh tangannya sembari menanyakan nama lengkap Medi. Terpidana pun menyebutkan nama dan rupanya sesuai dengan data DPO. Yeni Andriani pun membawa tersangka tersebut keluar dari pesawat. Namun setelah menuruni tangga pesawat, Medi mencoba melarikan diri. “Dia tepis tanganku dan genggamanku terlepas, tapi dia tidak bisa melarikan diri karena sebelumnya saya sudah koordinasi dengan teman-teman. Medi kami serahkan kepada Kejari Baubau,” jelas Yeni Andriani.

Sementara itu, Kajari Baubau, M. Rasul Hamid, SH melalui Kasi Intelijen Kejari Baubau, Ruslan, SH,MH mengatakan setelah mendapat informasi Medi Marsela sedang menuju Baubau menggunakan pesawat, pihaknya bergegas menuju bandara Betoambari dan melakukan penjagaan. “Kita langsung cek kebenarannya. Ternyata betul, terpidana (Medi Marsela, red) tiba dengan menggunakan pesawat Wings Air rute Kendari-Baubau. Makanya, yang bersangkutan kita amankan,” terangnya saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Kata dia, proses eksekusi sempat ditentang oleh Medi Marsela dan keluarga yang kebetulan satu pesawat. Mereka mempertanyakan landasan pelaksanaan eksekusi. “Pada dasarnya terpidana kooperatif. Karena setelah kita sampaikan dasar pengamanannya, dia langsung ikut,” terangnya.

Setelah diamankan, Medi Marsela langsung di jebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Baubau sembari dikawal ketat. “Yang bersangkutan kita serahkan ke Lapas Kelas II A Baubau untuk menjalani masa hukuman 10 bulan penjara,” kata Ruslan.

Menurut Ruslan, perkara yang menjerat Medi Marsela adalah dugaan penipuan terhadap pengelolaan BTN Media Brata. Yang mana, kala itu, dia sebagai pengembang. Dalam perjalanannya, masyarakat merasa dirugikan, sehingga langsung dilaporkan ke aparat kepolisian. Dalam sidang Medi dinyatakan terbukti bersalah melakukan penipuan atau penggelapan. 25 September 2016, Medi mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Kendari. Memori bandingnya diterima dan dinyatakan bebas.

Kejari Baubau pun mengajukan kasasi di Mahkamah Agung. Kasasi diterima dan Medi Marsela terbukti bersalah dan diganjar hukuman 10 bulan penjara. “Setelah adanya putusan Mahkama Agung dan kami terima pada Mei 2017, kita langsung melakukan pemanghilan pertama kepada Medi Marsela sebagai terpidana. Untuk menjalani masa hukuman. Tetapi, yang bersangkutan tidak hadir hingga panggilan ketiga pada April 2017. Rupanya tidak berada di rumah. Dia DPO dan hari ini kita eksekusi,” tutup Ruslan. (ahi/kmr/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top