Kasihan, Keluar Kampung Warga Maroko di Kolut Harus Bergelantung Lewati Sungai – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Kolaka Utara

Kasihan, Keluar Kampung Warga Maroko di Kolut Harus Bergelantung Lewati Sungai

Warga Desa Maroko berjuang melewati sungai. Foto : Muh Rusli/Kendari Pos.

KENDARIPOS.CO.ID — Ada 45 kepala keluarga (KK) yang menghuni Desa Maroko Kecamatan Rante Angin, Kolaka Utara (Kolut). Letak geografisnya berada diperbukitan plus dikelilingi sungai yang dalamnya lebarnya sekira 7 meter dan lebar 50 meter serta berarus deras, sehingga membuat mereka terisolasi dari desa tetangga. Untuk bisa keluar kampung, aksesnya hanya satu jalan, yakni bergelantung di atas tali.

Muhammad Rusli, Kolaka Utara

Nia terlihat mulai panik. Warga Desa Maroko Kecamatan Rante Angin ini sudah tak sabaran untuk segera menyeberangi sungai membawa dagangannya, karena hujan mulai turun. “Cepat tarik saya,” ujar Nia kepada salah seorang warga yang bertugas menarik tali di seberang sungai selebar 50 meter itu.

Tidak ada raut tegang di wajah perempuan paruh baya itu saat menyeberang sungai  yang ke dalamannya sekira 6-7 meter. Maklum karena memang sudah menjadi menu hariannya saat ingin keluar desa. Ditambah lagi, arus sungai tidak begitu deras dan kedalaman air pada pertengahan hanya berkisar 4 meter saja.

Nia atau biasa dipanggil mamanya Jumi, merupakan satu dari sekian banyak warga Maroko yang hampir tiap hari harus melewati sungai tersebut untuk membawa dagangannya ke pusat kota Kolut. Seperti kemarin (11/7), menyeberangi sungai itu menggunakan penyeberangan darurat menggelantung pada sebuah tali besi (warga menyebutnya slenk) melintang yang menjadi satu-satunya sarana menyeberangi sungai.

Ada papan sepanjang kurang lebih satu meter dan setebal 3 cm yang diapit tali nilon serta dibungkus dua potongan bambu sebagai pegangan untuk menggelantung pada slenk itu. Agar mudah bergeser, katrol berperan utama mempermudahnya meluncur dan bergeser yang diikuti gerakan menarik sebuah tali jenis nilon yang sedikit lebih kendor terpampang.

Ada juga Wardi, warga Kecamatan Rante Angin yang juga menyeberangkan dua karung panen cengkihnya dari Desa Maroko menggunakan tali itu. Dia juga tidak khawatir. Kata dia, yang berbahaya kalau lagi turun hujan, karena selain arusnya deras, sungai mencapai 6-7 meter. “Repot kalau bawa anak kecil atau barang dagangan, karena khawatir jatuh,” katanya.

1 of 3

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top