Inflasi Sultra Capai 3,24 Persen, Tekanan Volatile Food Jadi Pemicu – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
Ekonomi & Bisnis

Inflasi Sultra Capai 3,24 Persen, Tekanan Volatile Food Jadi Pemicu

Waode Sitti Febriani/Kendari Pos
Sayur-mayur yang harganya melonjak selama Ramadan hingga Lebaran di sejumlah pasar tradisional Kota Kendari, menjadi pemicu utama terjadinya inflasi di Kota Kendari Juni lalu.

KENDARIPOS.CO.ID — Lonjakan inflasi Kota Kendari yang naik hingga level 3,58 persen sepanjang bulan Juni, ternyata memberi pengaruh besar pada angka inflasi Bumi Anoa. Berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia (BI), diketahui Sultra mengalami inflasi hingga 3,24 persen, melonjak cukup tinggi jika dibanding status bulan Mei yang tercatat 0,54 persen saja. Penyebabnya, tak lain adalah lonjakan harga sayur mayur akibat cuaca esktrim menyerang sentra produksi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sultra, Minot Purwahono menjelaskan, secara spasial inflasi Kota Baubau turut menyumbang angka inflasi Sultra. Peningkatan harga sayur-sayuran dan ikan segar seiring dengan tingginya curah hujan di bulan Mei-Juni jelas mengganggu proses produksi dan distribusi komoditas.

“Sayur-sayuran yang masuk kelas volatile food memberi andil sebesar 1,85 persen, sedangkan ikan segar kasih andil 0,70 persen. Beberapa jenis sayuran yang alami peningkatan signifikan antara lain bayam, kangkung, kacang panjang dan sawi hijau. Sementara komoditas ikan segar yang inflasi utamanya ikan kembung dan ikan cakalang,” terangnya.

Peningkatan inflasi komoditas sayuran dan ikan segar karena tingginya curah hujan. Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Kendari menunjukkan bahwa curah hujan bulan Mei dan Juni di wilayah Kendari dan sekitarnya sebesar 840 mm/bulan dan 446,6 mm/bulan. Ini masuk kategori sangat tinggi, jauh lebih tinggi dibanding periode sebelumnya yang tercatat dalam kategori menengah atau 101-300 mm/bulan. “Perayaan Idul Fitri yang jatuh pada akhir periode laporan juga ikut mendorong peningkatan permintaan pasar khususnya bahan makanan,” singkatnya.

Di sisi lain, pencabutan subsidi listrik untuk kelompok pelanggan 900 VA golongan pasca bayar juga ikut mempengaruhi. Inflasi Sultra pada bulan Juni jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi bulan Juni dalam 3 tahun terakhir yang tercatat sebesar 0,69 persen, dan jadi inflasi bulanan tertinggi sejak terakhir kali terjadi di bulan Juli 2013. Saat itu tercatat sebesar 5,10 persen.

Selama bulan Ramadan hingga Idul Fitri, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sultra terus meningkatkan intensitas kegiatan pengendalian harga via sidak dan pemantauan harga pasar, distributor, gudang Bulog dan pelabuhan. Selain itu, pasar murah tahap 2 juga digelar pada periode H-6 hingga H-3 hari raya untuk menenkan spekulasi harga dan menjaga daya beli masyarakat.”Belilah sesuai kebutuhan,” tutupnya. (feb)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top