Belajar Sukses dari Andas Petani Udang asal Kolaka, Omzet Capai Ratusan Juta, Dipuji Menteri Susi – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Kolaka

Belajar Sukses dari Andas Petani Udang asal Kolaka, Omzet Capai Ratusan Juta, Dipuji Menteri Susi

Menteri Susi memanen udang vaname di tambak milik Andas, saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Kolaka, Maret lalu. Tambak itu dipilih karena kualitasnya lebih bagus ketimbang tambak warga lainnya. fOTO : DOK/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Andas kini sudah bisa sumringah. Kerja kerasnya bertani udang telah membuahkan hasil. Bayangkan, sekali panen dia bisa meraup omzet ratusan juta rupiah. Kesuksesannya itulah yang menginspirasi Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti untuk datang panen udang di Bumi Mekongga itu beberapa waktu lalu.

Zulfadli Nur

Matahari mulai condong ke barat. Meski panasnya tidak lagi terik, namun masih terasa “menggigit” saat mengenai kulit. Namun, situasi itu tidak dihiraukan seorang pria paruh baya yang berdiri di pinggir tambak udang miliknya. Dia lebih fokus memeriksa kebersihan tambaknya satu per satu yang mulai mengering karena telah dipanen beberapa bulan lalu. Pria itulah yang bernama Andas, salah satu peternak udang paling sukses di Kabupaten Kolaka.

Penampilannya sederhana, tapi jiwanya tidak sesederhana itu. Motivasi bisnisnya sangat luar biasa sehingga dia bisa sukses seperti saat ini. Dia semakin dikenal warga Bumi Mekongga khususnya, masyarakat Sultra pada umumnya karena tambaknya pernah dipanen Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat berkunjung ke Kabupaten Kolaka, Maret lalu. Disamping itu tentu karena kualitasnya yang bagus.

“Ada banyak petani udang di Kolaka ini, hanya Menteri Susi lebih memilih milikku. Tentu ini suatu kebahagiaan tersendiri,” kata Andas saat ditemui di lokasi tambak udang miliknya, Minggu (9/7). Tambak udang milik pria 47 tahun ini ini berada di jalur by pass Pomalaa-Kolaka, tepatnya di Desa Towua 1 Kecamatan Wundulako.

Kesuksesan bisnis yang digeluti Andas dalam budidaya udang diakuinya tidak mudah. Sebab semua dilaluinya dengan penuh pengorbanan serta kerja keras. Andas bercerita, awalnya dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kolaka yang karirnya dimulai dari asisten mekanik. Setelah 12 tahun bekerja di perusahaan itu, ia memutuskan untuk keluar dan belajar bisnis udang. “Saya memutuskan keluar karena melihat mantan bosku sukses berbisnis udang vaname. Jadi pada 2016 lalu saya ke Ambon dan melihat orang sukses karena bisnis udang vaname ini,” jelasnya.

Setelah pulang dari Ambon, pria yang tidak tamat SMA itu mengajak dua kerabatnya untuk berbisnis udang vaname. Sebab, untuk memulai bisnis itu dibutuhkan modal cukup besar. “Jadi kami punya tambak itu ada 20 petak. Dan untuk memulainya itu dibutuhkan modal sekira Rp 1 miliar untuk menyewa alat berat membuat petak, membeli bibit, pakan, dan lain-lain. Sehingga saya bersama dengan H Firman dan Maharani bekerjasama untuk memulai bisnis udang vaname,” bebernya.

Ayah tiga anak itu menambahkan, alasan dirinya memilih udang vaname karena udang jenis tersebut mempunyai kualitas paling bagus dan laku di pasaran dunia. Sehingga menjanjikan omzet yang cukup besar. Sekali panen, bisa dapat sekira Rp 400 juta. Udang vaname ini mendunia, jadi tidak susah di pasarkan karena orang yang datang membeli. “Pembeli udang vaname kami itu dari Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Meskipun sekali panen menghasilkan hingga ratusan juta, namun Andas mengaku dalam budidaya udang vaname tidak mudah. Sebab, dibutuhkan kesabaran dan biaya yang besar untuk pemeliharaan. Setiap bulan misalnya, harus bayar listrik sekira Rp 40 juta. Biaya pakan yang harus dipesan dari Makassar setiap minggu Rp 9 juta. Selain itu, udang vaname ini sering terkena penyakit yang membuatnya buang air besar secara berlebihan dan menyebabkan dagingnya keropos.

Andas mengaku, dirinya belum mahir betul mengatasi udang yang terkena penyakit. Sebab dirinya baru menggeluti bisnis tersebut. “Kalau kami beli pakan itu, sudah disediakan dengan pendampingnya. Jadi pendamping itu yang mengobati udang kalau ada yang sakit. Kalau tidak bisa diobati ya terpaksa dipanen sebelum waktunya. Supaya jangan menular ke yang lain dan tidak terlalu rugi,” tuturnya.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top