Kisah Safiani, Gadis yang Jadi Tulang Punggung Keluarga, Awalnya Digaji Rp 10 Ribu, Kini Punya Usaha Sendiri – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Muna

Kisah Safiani, Gadis yang Jadi Tulang Punggung Keluarga, Awalnya Digaji Rp 10 Ribu, Kini Punya Usaha Sendiri

Safiani, kini telah membuka usaha sendiri. Foto : Muh Ery/Kendari Pos.

KENDARIPOS.CO.ID — Sulit mencari sosok wanita seperti Safiani. Di usianya yang masih muda, 23 tahun, dia sudah memikul beban berat. Sebagai anak sulung, dia merasa bertanggung jawab untuk menafkahi ibu dan kedua adiknya setelah ayahnya meninggalkan rumah (cerai,red). Sempat bekerja pada orang lain, berkat kemauan dan kerja keras, kini punya usaha sendiri.

Muhammad Ery, Raha

Tangan wanita muda itu begitu cekatan. Tangan dan kakinya tak pernah berhenti bergerak, memainkan mesin jahit. Tak butuh waktu lama, satu pakaian daster telah dituntaskannya. Dialah Safiani, anak pertama dari tiga bersaudara yang kini jadi tulang punggung keluarganya.
“Alhamdulillah, selesai juga,” ujar Safiani sambil berjalan menuju tempat penyimpanan pakaian pelanggan yang sudah dijahit. Gadis 23 tahun itu merupakan satu dari sekian orang yang berprofesi sebagai penjahit di Pasar Sentral Laino itu. Hanya mungkin bedanya, dia masih muda dan tanggungan.

Ani–begitu sapaan akrabnya beruntung bisa mencicipi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN), sebab dari situlah penglaman menjahitnya didapat. Kalau tidak, dirinya tidak bisa bayangkan. Soalnya, sejak orang tuanya bercerai, tidak ada lagi yang bisa membiayai. Jangankan mau lanjut pendidikan ke perguruan tinggi, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih sulit. Maklum ibunya hanya seorang penjual pisang di pasar.

Melihat kondisi inilah, sehingga wanita yang menamatkan sekolah kejuruan pada tahun 2012 ini, rela banting stir membantu orang tuanya. Tidak ada lagi pemikiran untuk lanjut studi. Yang ada hanya bagaimana cara membantu keluarga. Dengan bermodalkan pengalaman dan skil saat diperoleh dibangku pendidikan, pada tahun 2012 pula, ia ikut salah seorang penjahit tetangganya. Momen inilah, dimanfaatkan betul wanita yang terlahir dari rahim Wa Ode Limpu.

Safiani mulai mengaktualisasikan ilmunya dan belajar lebih banyak untuk menghasilkan jahitan. Awalnya hanya digaji seadanya, malah pernah RP 10 ribu. Namun dalam jangka waktu dua tahun, setelah menabung akhirnya bisa membeli mesin jahit sendiri. “Alhamdulillah, kesempatan itu saya manfaatkan betul. Mau harapkan siapa lagi. Mama dan bapak saya cerai sejak kecil,” kata perempuan asal Lohia ini saat ditemui, Minggu (8/7) sembari melanjutkan jahitannya.

Tahun 2015, dibenak pikiran wanita anggun ini untuk memiliki usaha sendiri mulai timbul. Inisiatif ingin keluar dari sang bos direspon positif. Ditempat itu pula, ia bisa mendirikan kios berukuran 2 m x 3m. Uang tabungan yang selama ini disimpan, langsung digunakan untuk membeli dua mesin jahit. Dari situlah dia bisa mendapatkan banyak pelanggan dan pemasukan.

“Saya merasa syukur sekali, karena sekarang sudah punya enam mesin jahit. Uang yang saya dapat, sebagai tabungan dikemudian hari dan membantu ekonomi keluarga,” katanya. Saat ini, wanita berhijab ini tak mengetahui persis berapa jumlah pelanggannya. Selama menjahit pula, kata Safiani, tak ada pelanggan yang mengeluhkan soal jahitannya. Mereka merasa puas atas kreasi yang dilakukannya. Dirinya bercerita, usaha yang dilakukan sekarang, terinspirasi untuk bisa mendatangkan uang. “Jadi saat saya belum punya usaha sendiri, saat itu saya menjahit pakain sobek. Saya diberi upah Rp 10 ribu. Saya berpikir pekerjaan ini cepat mendatangkan uang. Disitu saya mulai mempersiapkan diri,” kisahnya sesekali mengeluarkan senyuman.

Saat menjahit, ia dibantu dengan keluarga mengukur pakaian yang bakal dijahit. Istimewanya, wanita ini tak menemui kendala dalam menyelesaikan jahitannya. Mulai model busana, baju batik, gamis hingga lainnya. Ia pun bisa menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu sehari. “Kalau saya itu bisa mengerjakan sehari. Jadi kalau banyak pesanan dalam waktu satu minggu, saya janji selesai. Banyak juga yang datang hanya bawa kainnya saja. Tinggal mereka bilang motif apa, saya kerjakan,” katanya.

Perempuan kelahiran tahun 1994 ini, sudah tak memikirkan lagi kuliah. Dengan profesinya yang dilakoninya, baginya sudah cukup. Yang ada dibenak perempuan berjilbab ini, ingin memiliki usaha yang besar. Tentunya, memiliki karyawan yang banyak. Sebab, kehidupannya sudah mulai tertata. Bayangkan saja, kedua adik tiri laki-lakinya mampu disekolahkan.

Tak ada yang perlu dibanggakan. Duit bukan segalanya. Selagi bisa mau berusaha, Allah SWT pasti akan membukakan jalan. Dirinya tak seberuntung seperti wanita-wanita lain. Kasih sayang seorang ayah tak didapatkannya. Namun, semangat untuk tetap hidup, selalu terpancar diraut wajahnya. Kini, Safiani terus berkarya menata kehidupannya. Menurutnya, hidup itu tak boleh bermanja-manja. Harus bekerja keras supaya menjadi sukses. Ibunya, Wa Ode Limpu mengaku bersyukur memiliki anak yang punya rasa tanggung jawab begitu tinggi. Dirinya hanya mendoakan supaya anaknya selalu diberi kemudahan dalam membangun usahanya. (b/*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top