Kisah Heroik “Pahlawan” Kesehatan di Buton Utara, Status Honorer Bekerja Tanpa Gaji – Kendari Pos Online
Jalan Sehat

pariwara
Iklan Jalan Sehat Kenpos Iklan 10 Iklan 23
Buton Utara

Kisah Heroik “Pahlawan” Kesehatan di Buton Utara, Status Honorer Bekerja Tanpa Gaji

Tenaga medis honerer di Puskesmas Kambowa tetap semangat bekerja, kendati tanpa imbalan gaji. Foto : Hadrian/Kendari Pos.

kendaripos.fajar.co.id — 10 tenaga kesehatan di Puskesmas Kambowa, Buton Utara ikhlas bekerja sukarela. Pemerintah belum sanggup membayar mereka. Diberi status honorer, mereka menunggu kebijakan kepegawaian diubah Jakarta

Hadrian Indra Mappa, Buranga

Tujuh bulan terakhir, Enci Karisma merawat dengan telaten semangat pengabdian di hatinya. Dari rumahnya, perempuan berusia 22 tahunan ini, saban hari kerja, harus melintasi medan yang tak ramah. Dengan sepeda motor pemberian orang tuanya, ia berangkat dari rumahnya di Desa Konde, Kecamatan Kambowa di Buton Utara ke Puskesmas di kecamatan itu. Namanya tercatat sebagai tenaga perawat.

Tapi ketika awal bulan, kala koleganya di Puskesmas itu meneken slip gaji, ia hanya tersenyum kecut. Alih-alih digaji, dapat honor pun tidak. Mulai dari urusan transportasi, makan serta keperluan lainnya, ditanggungnya sendiri. “Yah, sebulan lebih dari Rp 300 ribulah harus saya keluarkan untuk biaya bolak-balik dari rumah ke sini (Puskesmas). Orang tua yang talangi. Kan status saya disini masih honorer,” kata Enci, ketika disambangi Kendari Pos, kemarin di tempatnya mengabdi.

Tapi perempuan muda ini tak merasa kecewa. Setidaknya, ia masih diberi izin menggunakan seragam perawat, yang serupa dengan tenaga medis “asli” di tempat itu. Kebanggaan menjadi seorang perawat, sudah lama ia idamkan. Ia amat paham, bagaimana terbatasnya kondisi keuangan di Puskesmas tempatnya bekerja, hingga ia tak sekalipun menuntut macam-macam.

Enci tak sendiri. Di Puskesmas yang berdiri megah di pusat kecamatan itu, juga ada 9 tenaga honorer yang nasibnya serupa. Selama ini, kata dia, modal mereka mengabdi adalah surat keputusan (SK) pengangkatan yang dikeluarkan Kepala Puskesmas Kambowa. Mereka baru boleh diberi honor bila SK-nya diteken Bupati.

Alumni kampus Akademi Keperawatan (Akper) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kendari ini mengaku tetap senang bisa diberi kesempatan mengaplikasikan ilmunya di tempat kelahirannya itu. Jadi, meski tak menerima honor, ia tak mengeluh. Padahal, jika mau jujur, tantangannya untuk sampai ke tempat kerja, tak ringan. Jalan menuju Puskesmas, masih tergolong rusak. “Tiap hari, hampir 30 kilometer bolak balik saya lewati jalan lumpur dan berlubang,” kisah sulung dari lima bersaudara ini.

Dari pengakuannya, sudah ada permohonan yang pernah ia ajukan ke Bupati Buton Utara agar nasibnya bersama kawan-kawannya yang lain bisa naik menjadi honorer daerah yang digaji lewat APBD. Kendati sedikit, tapi itu sudah jalan menuju terbukanya lahan pengabdian yang permanen, dan setidaknya mengurangi beban pengeluaran yang mereka tanggung sendiri.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top