Menambang Puluhan Tahun Belum Punya Pabrik, PT Antam Didemo Warga – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Konawe Utara

Menambang Puluhan Tahun Belum Punya Pabrik, PT Antam Didemo Warga

PT Antam saat didemo warga.

kendaripos.fajar.co.id — Puluhan orang yang mengatasnamakan masyarakat Konawe Utara (Konut) menggelar demonstrasi di Mess PT Aneka Tambang (Antam) Konut, di Kelurahan Molawe Kecamatan Molawe, Kamis (6/7). Mereka menuntut agar Antam segera membangun pabrik nikel di Konut, seperti yang sudah dijanjikan perusahaan tambang milik negara itu beberapa waktu lalu.

Koordinator lapangan (Korlap) aksi, Iwan, dalam orasinya mengatakan, keberadaan Antam di Konut sudah tahunan. Namun hingga kini, perusahaan tak juga kunjung merealisasikan pembangunan pabrik pengolahan nikel-nya di daerah itu. Padahal sebelumnya, sudah melakukan peletakan batu pertama terkait rencana pembagunan pabrik pengolahan nikel di Konut. “Antam harus buktikan komitmennya untuk membangun pabrik. Kalau tidak bisa buktikan janjinya, sebaiknya tinggalkan Konut,” tegas Iwan yang diamini rekan-rekannya.

Eksternal Relation Manager PT Antam UBPN Sultra, Pamiludin Abdullah yang menemui langsung parademonstran mengatakan, pihaknya sebenarnya akan melakukan proses tahapan pertambangan (termasuk membangun pabrik). Namun sampai saat ini, masih dihadapkan pada persoalan regulasi sehingga belum bisa berbuat apa-apa. Dirinyaa menegaskan, kalau semua sudah selesai (persoalan regulasi,red), Antam pasti masuk untuk melakukan tahapan-tahapan pertambangan.

Termasuk soal rencana pembangunan pabrik smelter seperti yang pernah PT Antam janjikan, kata dia, juga sebenarnya sudah akan direalisasikan. Hanya saja, belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah, khususnya Pemkab Konut. “Kami akui, memang pernah melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda peresmian pembangunan pabrik. Namun saat itu, kami (Antam) tidak mendapat dukungan positif dari Bupati Konawe Utara yang kala itu masih dijabat Aswad Sulaiman,” ungkap Pamiluddin dihadapan para demonstran.

Lebih jauh Pamiluddin menjelaskan, persoalan tumpang tindih lahan antara Izin Usaha Pertamangan (IUP) yang diterbitkan diatas lahan Antam di Konut juga sudah mendapat putusan dari Mahkamah Agung (MA). Dan hasilnya, MA memerintahkan pemerintah daerah untuk mencabut semua IUP yang diterbitkan diatas lahan Antam. Namun hingga kini belum juga dilakukan. “Andaikan saat itu pemerintah dan masyarakat mendukung, saat ini cerobong pabrik pasti sudah berasap,” ujarnya. Setelah mendengar penjelasan Pamiluddin, massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib.

Sejak awal, rencana pembanguanan pabrik nikel Antam di Konut terbentur dengan adanya tumpang tindih IUP yang dikeluakan oleh Pemkab Konut. Belakangan, puluhan IUP yang bediri di atas lahan Antam itu mulai melakukan penjualan ore nikel ke sejumlah daerah. Direktorat Jendral Sumber Daya Mineral (Dirjen SDM) Kementrian Energi Sumber Daya Mineral mencatat, terdapat 13 IUP yang kini masih tumpang tindih diatas lahan PT Antam di Konut.

Sejumlah IUP itu dimiliki oleh CV Ana Konawe, CV Malibu, CV Yulan Pratama, PT Adhikarsa Cipta Mulia, PT Avry Raya, PT Hafar Indotech, PT James Armando Pundimas, PT Karya Murni Sejati 27, PT Rizki Cahaya Makmur, PT Sangia Perkasa Raya, PT Sriwijaya Raya dan PT Wanagon Anoa Indonesia 3 (WAI). Dari sekian IUP itu, dua diantaranya sudah melakukan penjualan ore nikel, yakni PT WAI yang sudah puluhan kali menjual ore nikel dari atas lahan Antam ke kabupaten Morowali, Sulteng. Hal yang sama juga tengah dilakukan oleh PT Sriwijaya Raya. (b/min)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top