Lima Hari Sekolah Sulit Diterapkan di Madrasah – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Edukasi

Lima Hari Sekolah Sulit Diterapkan di Madrasah

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis), Kementerian Agama, Kamaruddin Amin

kendaripos.fajar.co.id — Polemik program lima hari sekolah terus saja bergulir. Program yang digadang-gadang mampu memberikan waktu lebih pada program pendidikan karakter bagi siswa tersebut cukup sulit diterapkan di sekolah madrasah. ”Madrasah tidak mungkin menerapkan aturan lima hari sekolah pada tahun ajaran 2017/2018, sebagaimana diatur Permendikbud 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah,” tegas Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis), Kementerian Agama, Kamaruddin Amin di Jakarta, kemarin.

Pasalnya, kata Kamaruddin, dengan penerapan enam hari sekolah saja durasi pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) sampai pukul 15.00 wib dan 16.00 wib sore. ”Kalau program lima hari sekolah, siswa bisa pulang jam 6 malam. Itu kan tidak mungkin, masa sekolah dari jam 7 pagi sampai jam 6 malam,” terangnya.

Kamaruddin menjelaskan, madrasah memiliki perbedaan dengan sekolah formal lainnya. Setiap minggunya, madrasah mendapat tambahan 10 jam pelajaran agama, sementara sekolah formal lainnya hanya 2 hingga 3 jam dalam seminggu. Karena itu, lanjut Kamaruddin, idealnya siswa sekolah SMP dan SMA bisa belajar agama di madrasah diniyah. Hal itu, untuk menambah pemahaman siswa tentang agama. Tidak sedikit, menurutnya pemerintah daerah membuat perda tentang wajib belajar di madrasah diniyah. ”Kalau hanya 2 sampai 3 jam per minggu, pemahaman agama siswa tentang agama sangat minim. Untuk itu sekolah umum (SMP, SMA, Red) idealnya bisa belajar agama di madrasah,” tegasnya.

Kamaruddin mengaku, sudah menyampaikan hal ini ke tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui diskusi belum lama ini. Disinggung soal rencana penyusunan Peraturan Presiden yang akan menggantikan Permendikbud No 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah, Dirjen Pendidikan Islam mengaku masih menunggu draft yang sedang disiapkan Kemdikbud.

Kendati demikian, Kamaruddin menilai bahwa Prepres tersebut nantinya tidak sekedar mengatur tentang hari sekolah sebagaimana Permendikbud. Lebih dari itu, Perpres harus mengatur hal-hal yang lebih substantif terkait dengan Penguatan Pendidikan Karakter di lembaga pendidikan. ”Jadi bukan lagi Perpres tentang Hari Sekolah, melainkan tentang Pendidikan Karakter,” ungkapnya. (nas)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top