Pasca Lebaran, Sayur-mayur Masih Mahal – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Ekonomi & Bisnis

Pasca Lebaran, Sayur-mayur Masih Mahal

Salah seorang pedagang sayur, Yuli, tampak menjajakan sayur-mayurnya di Pasar Lawata, Senin (3/7) lalu. Waode Sitti Febriani/Kendari Pos

kendaripos.fajar.co.id — Pasca Lebaran, harga sayur mayur di sejumlah pasar belum bergerak turun. Kenaikan harga yang dipicu oleh cuaca ekstrim tersebut, tentu mengkhawatirkan. Hasil pantauan per tanggal 3 Juni lalu, menunjukkan bahwa beberapa komoditi paling dicari, seperti bayam, sawi dan kacang panjang tetap mahal. Salah satu pedagang sayuran di Pasar Lawata, Yuli, menuturkan pra dan pasca lebaran harga seikat sayur bayam berada di kisaran Rp 12 ribu per ikat besar, begitu juga dengan kacang panjang yang tetap Rp 10 ribu per ikat. Sedangkan sawi mengalami sedikit penurunan, yang awalnya Rp 10 ribu per ikat turun menjadi Rp 8 ribu.

“Biar masyarakat bisa tetap membeli dengan harga wajar, seikat besar sayur kami bagi dua atau tiga. Lalu dijual dengan harga yang lebih murah,” ujarnya. Sama halnya di Pasar Grosir By Pass, harga seikat bayam Rp 12 ribu dan tidak ada penurunan. Sedangkan sawi yang pra lebaran Rp 10 ribu per ikat, kini turun menjadi Rp 7 ribu per ikat, namun dengan jumlah yang lebih sedikit. Selanjutnya Kacang Panjang pun sedikit mengalami penurunan harga, sebelum lebaran Rp 12 ribu per ikat dan kini menjadi Rp 10 ribu per ikat.

Pedagang Pasar Basah pun tak mau ketinggalan. Agar konsumen tetap dapat menikmati sayuran segar di masa sulit, beberapa komoditi yang harganya melambung tinggi juga dijual dalam ikatan kecil. Seperti kacang panjang seharga Rp 5 ribu per ikat kecil, lalu Sawi Rp 5-6 ribu juga bayam Rp 7-8 ribu per ikat. Kabid Perdagangan dalam Negeri Disperindag Sultra, H. Muhammad Ali mengakui, cuaca kurang bersahabat yang sampai sekarang belum reda, tidak dapat dielakkan jadi faktor utama lonjakan harga. Telah lewat sebulan Kota Kendari diguyur hujan nonstop, hingga mempengaruhi hasil panen sayuran. Makanya, harga naik sampai 50 persen.

Sejatnya faktor alam tak dapat dielakkan, namun Ali tetap mengimbau masyarakat untuk mencari solusi cerdas. “Misalnya dengan memilih bahan pangan alternatif, memilih sayuran jenis lain yang harganya masih bisa diterima atau belilah sayur sesuai kebutuhan,” sarannya. Berbanding terbalik dengan sayuran, harga beras terbilang cukup stabil. Baik sebelum dan sesudah hari raya tidak ada kenaikan harga. Ini diakui Irawati, pedagang sembako Pasar Grosir By Pass. Katanya, Beras Kepala dan Beras Ciliwung masih konstan di harga Rp 8 ribu per liter. (feb/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top