Manga Rundu, Tradisi Leluhur yang Masih Dilestarikan Masyarakat Wakatobi – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Wakatobi

Manga Rundu, Tradisi Leluhur yang Masih Dilestarikan Masyarakat Wakatobi

Tradisi manga kandea dilaksanakan saat perhelatan festival pulau Tomia oleh pemerintah dan masyarakat pulau Tomia. Foto : Asty Novalista/KP

kendaripos.fajar.co.id — Kabupaten Wakatobi tidak hanya dikenal dengan keanekaragaman sumber daya hayatinya. Tapi juga kekayaan budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satunya adalah tradisi Manga Rundu, yakni makan bersama antara masyarakat dengan pejabat daerah. Bukan hanya ajang silaturahmi, tradisi ini juga diyakni bisa membawa keberkahan dalam kehidupan masyarakat.

Asty Novalista, Wangiwangi

Bupati Wakatobi, H.Arhawi terlihat anggun menggunakan baju kebesaran adat. Didampingi para pejabat teras lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi, dia tak canggung berbaur dengan masyarakat menikmati hidangan yang disiapkan dalam acara Manga Rundu (makan bersama). Tradisi ini digelar sebagai rangkaian festival Pulau Tomia yang berlangsung selama tiga hari di Pulau Tomia.

Dalam tradisi Manga Rundu, masyarakat bersama pemerintah daerah duduk bersama dalam satu tempat yang sudah disiapkan. Biasanya lokasi yang dipilih di lapangan terbuka supaya bisa memudahkan masyarakat. Diawali dengan doa bersama meminta keberkahan kepada sang pencipta, kemudian diakhiri dengan santap bersama.

“Tradisi ini (Manga Rundu,red) masih tetap dipertahankan masyarakat sampai sekarang. Ini sebagai ajang silaturahmi untuk mempererat persaudaraan dan memupuk kebersamaan (poasa-asa pohamba-hamba),” kata Kunuddin, Menatu’u (tokoh) Agama Kecamatan Tomia, kemarin.

Tradisi Manga Rundu merupakan warisan leluhur yang mengandung nilai kearifan lokal masa lalu. Dengan maksud bisa berkumpul lagi dengan masyarakat Tomia khusunya dengan perantau dalam suasana kekeluargaan, handai taulan, persaudaraan, kebersamaan serta kegembiraan (te tuha, te hambata, te libu, te kampo, tebharakati). Sebelumnya, tradisi ini biasanya hanya diadakan saat perayakan maulid Nabi Muhammad SAW saja, tapi kini bisa digelar setiap ada hajatan penting. “Salah satunya seperti festival Pulau Tomia ini,” ujarnya.

Seiring perkembangan zaman, dimana pengaruh syariat Islam semakin menyusupi ajaran-ajaran ke-Sangiaan, maka tata karma dalam tradisi Manga Rundu diatur supaya tertib, santun dan beradab. Termasuk, budaya Kesultanan Butuni juga menyempurnakan Manga Rundu hingga identik dengan kande-kande’a. Sehingga belakangan sebutannya lebih familiar dengan nama tradisi ‘Manga Lewu-lewu’.

Biasanya, tradisi Manga Rundu digelar di pantai, kemudian dilanjutkan dengan Manga Lewu-lewu di masjid, di langgar atau di alun-alnu pada hari tertentu. Penyempurnaan tata cara seperti ini berawal pada masa Kemeantu’uan (tokoh adat) tentu mengandung muatan-muatan yang bertendensi pada syariat Islam dan kesultanan. Misalnya, ketika Manga Rundu atau yang kini dikenal dengan sebutan Manga Lewu-lewu dilaksanakan di rumah-rumah ibadah atau alun-alun, maka pada lesehan (paseba, bahasa adat red), masing-masing yang hadir telah menyadari status sosialnya tempat mana yang semestinya dia tempati. Sehingga nampak sebuah majelis hikmat, bermartabat, sakral dan kharismatik.

Di tengah-tengah lesehan diletakkan ‘paedudu’ (talang besar) berisi aneka kunliner lokal berupa lauk pauk yang dikelilingi oleh Sara dan Hokumu (pemuka adat dan agama) bersama segenap masyarakat yang hadir. Manga Rundu atau Manga Lewu-lewu hakekatnya memiliki makna makan bersama-sama dengan penuh kebebasan, kekeluargaan dan penuh rasa kebersamaan yang tinggi. Tradisi yang diturunkan nenek moyang sejak ratusan tahun lamanya ini dipercayai oleh warga Tomia sebagai bentuk hajatan akbar yang diyakini bisa membawa keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Berbagai kuliner itu disajikan di atas wadah yang biasa disebut masyarakat setempat Kande’a (kandea, pajuju/paidudu/ talang besar). Makanan yang disediakan umumnya seperti kue karasi, kue cucuru, lapa-lapa, nasi putih, nasi merah, puluhan telur rebus, daging ayam goreng, ikan, pisang goreng, serta kuliner khas lainnya. Sebelum dimakan, kuliner yang disajikan di atas Kande’a itu didoakan keberkahannya oleh sejumlah Meantu’u agama. Artinya, masyarakat belum mau menikmatinya sebelum doa usai dipanjatkan. “Nanti setelah didoakan, barulah ribuan masyarakat yang hadir berlarian menuju kandea-kandea yang sudah disiapkan,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Wakatobi, Nadar mengatakan, tradisi Manga Rundu memang masih dilestarikan masyarakat Tomia. Malah kini dijadikan sebagai salah satu kekayaan budaya dan diakui pemerintah daerah. Makanya, dalam festival Pulau Tomia dimasukan sebagai salah satu rangkaian kegiatannya. “Ini salah satu upaya kami supaya tradisi ini tidak punah,” ujarnya. Dirinya juga minta agar masyarakat tetap melestarikan budaya lain yang sudah mengakar dan turun temurun. (b/*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top