Ritual Mo’oli, Sarana Berkomunikasi dengan Makhluk Gaib yang Masih Dilestarikan Masyarakat Konawe – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Konawe

Ritual Mo’oli, Sarana Berkomunikasi dengan Makhluk Gaib yang Masih Dilestarikan Masyarakat Konawe

Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa (baju putih) menyaksikan Ritual Mo’oli yang digelar
dalam rangka pembangunan rumah sakit (RS) Konawe beberapa waktu lalu.

kendaripos.fajar.co.id — Kemajuan teknologi tak banyak mempengaruhi budaya masyarakat Konawe. Faktanya, hingga saat ini masih banyak ritual gaib yang tetap dilestarikan, salah satunya Ritual Mo’oli. Ritual ini digunakan sebagai sarana berkomunikasi dengan makhluk gaib. Sampai sekarang, budaya ini masih tetap digunakan, terutama ketika membangun rumah. Bahkan, saat pembangunan gedung RS Konawe juga menggunakan ritual ini.

Helson Mandala Putra,Unaaha

“Ritual Mo’oli masih dilestarikan masyarakat Konawe,” ujar Ajemain Suruambo, pemerhati budaya Tolaki. Budaya ini memang sangat erat kaitannya dengan adat istiadat atau budaya para leluhur. Ritual Mo’oli artinya memohon kepada penghuni alam gaib agar dijauhkan dari bencana. Namun, segala sesuatunya tetap mereka bersandarkan atas kehendak Tuhan.

Menurut Ajemain, Ritual Mo’oli dilaksanakan bila ingin membuka jalan atau mendirikan bangunan. Pertama kali, mereka harus memohon kepada penghuni gaib di alam, dengan harapan apa yang dibangun maupun sedang dikerjakan, tidak diganggu mahluk gaib. Ritual Mo’oli juga biasa disebut pamitan kepada mahluk gaib.

Selain itu, Ritual Mooli juga biasa dilakukan ketika ada korban hilang. Misalnya, korban tenggelam atau korban kecelakaan, dimana tempat korban terkena musibah itu dianggap sangat keramat. “Ketika jenazahnya tidak ditemukan, kita beranggapan bahwa karena mahluk gaib yang menyembunyikan jenazah korban. Sehingga dengan ritual ini, bisa membuka mata kita untuk melihat adanya korban yang sudah beberapa hari tidak ditemukan,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Om Ajo ini bercerita, awal mula Ritual Mo’oli dilakukan sejak adanya masyarakat Tolaki pertama yang mendiami Konawe. Pada saat itu, orang Tolaki percaya kepada para dewa yang disebut sangia. “Semenjak adanya manusia, Tolaki sampai zaman kerajaan hingga saat ini Ritual Mo’oli masih dipercaya sebagai budaya para nenek moyang suku Tolaki. Orang yang dipercayakan melakukan ritual kala itu, dipercaya mampu melihat mahluk seperti jin, atau dalam bahasa Tolaki disebut owali. Dengan kebiasaan melakukan ritual itulah, maka tercipta budaya Ritual Mooli hingga sekarang,” beber pria yang juga Putubo Wonua lembaga Adat Tolaki (LAT) Konawe ini.

Dalam prakteknya, Ritual Mo’oli dilakukan tiga orang, dipimpin oleh seorang yang disebut Mbuakoi. Mbuakoi ini adalah orang yang dipercaya mampu mengucapkan mantra atau melantunkan mantra pengantar untuk memancing kedatangan mahluk gaib. Sementara itu, dua orang pendamping yang berada di belakangnya disebut Sudono Mbuakoi yang artinya penopang. Kedua orang Sudono Mbuakoi ini dipercaya mampu menembus alam gaib.

“Jadi kedua Sudono Mbuakoi inilah yang mampu mengetahui datangnya mahluk gaib itu. Tugas mereka memastikan kalau prosesi ritual itu diterima atau tidak. Kalau mahluk gaib datang, berarti prosesi diterima, tapi kalau mereka tidak datang, berarti prosesi belum diterima,” katanya.

Nah, untuk menjadi Mbuakoi dan Sudono Mbuakoi tidak harus berasal dari keturunan mbuakoi yang sudah diamanahkan oleh terdahulu. Akan tetapi, bila bukan berasal dari keturunan, maka mereka perlu pengajaran yang rutin dari mbuakoi sebelumnya. Selain itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yakni harus Sinehengako atau Pineseheako.

Sebelum melakukan proses Ritual Mo’oli, para mbuakoi harus menyiapkan sesajen berupa pakaian satu pasang, kopiah (topi), sarung, daun sirih, buah pinang yang dibelah empat, dan tembakau yang digulung menggunakan daun palem hutan (dalam bahasa Tolaki disebut Wiu). Para umbakoi tidak lupa menyiapkan koin dan emas. Yang mana emas ini menurut para leluhur mampu memikat penglihatan para jin. Sehingga mereka tertarik untuk datang di upacara mo’oli. (b/*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top