Sahur di Ponpes Darul Mukhlisin Kendari, Dua Perempuan Siapkan Makanan 470 Santri – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
Metro Kendari

Sahur di Ponpes Darul Mukhlisin Kendari, Dua Perempuan Siapkan Makanan 470 Santri

Para Santri bersiap santap sahur. Foto : Ade/Kendari Pos

kendaripos.fajar.co.id — Sahur itu tidak hanya soal makan. Selain bernilai ibadah, juga punya batasan waktu. Lalu bagaimana mengelola urusan sahur 470 orang setiap hari. Pengelola Ponpes Darul Mukhlisin, Kendari tahu jawabannya.

Adwin Barakati, Kendari

Kesunyian malam di salah satu sudut di Jalan Mekar, Kota Kendari pecah saat waktu menunjuk pukul 03.00 dinihari, Senin (19/6) lalu. Raungan bel menyusup ke sudut-sudut ruang dan bangunan. Sejurus kemudian, ratusan anak manusia bangkit dari peraduan masing-masing. Bangkit menyongsong hari baru, bersiap menjalani ibadah puasa.

Ratusan orang itu adalah santri dan santriwati Ponpes Darul Mukhlisin di Jalan Mekar, Kelurahan Kadia, Kecamatan Kadia. Bel yang meraung saat mereka lelap itu adalah penanda bahwa saatnya menunggu santapan sahur. Di depan kamar, mereka bersiap lalu bersama-sama ke ruang makan. “Kalau ada yang telat, bisa saja tidak kebagian jatah makan sahur,” kata kata pemilik Ponpes itu,  Jamaluddin S.Ag.

Pagi itu, Kendari Pos memang sengaja bertandang ke Ponpes itu, setelah sebelumnya meminta izin melihat dari dekat bagaimana semangatnya para santri mengawali ibadah puasa dengan sahur berjamaah. Menurut Jamaluddin, rutinitas itulah yang dilakoni anak-anak asuhnya, selama Ramadan, khususnya ketika sahur. Mereka sangat tertib mengambil makanan di ruang makan untuk kemudian disantap di kamar masing-masing. Setelah sejam berlalu, akan ada bel yang mengingatkan mereka untuk segera menghentikan aktivitas yang berkaitan dengan sahur. “Mereka harus segera bersiap untuk salat subuh berjamaah,” tambah Jamaluddin.

Begitu bel kedua dibunyikan, akan terlihat satu demi satu santri keluar dari kamarnya sudah dengan pakaian rapi, guna menunaikan kewajiban lain yakni salat. Kata sang pemilik Pondok, aktivitas seperti ini tidak terlalu berbeda di hari biasa. Hanya saat bukan Ramadan, bel itu berbunyi sebagai penanda bangun tahajud.  “Ini dilakukan sebagai strategi Pondok. Kalau tidak begini, susah tertibnya,” ucap pria beranak dua ini.

Lalu siapa yang ditugasi mengurusi makanan bagi 470 santri itu? Ternyata hanya ada dua orang ibu setengah baya bernama Mariam dan Wandya yang diserahi tanggungjawab itu. Setiap hari, ketika para santri tidur, dua perempuan ini mulai meracik makanan. Beras sekira 75 kg habis untuk memenuhi kebutuhan para santri. Selain nasi, menu wajib adalah sayur. Tentang lauk, menyesuaikan dengan kondisi.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top