Pesona Tenunan Khas Daerah Muna, Kualitasnya Bisa Diadu Berharap Bantuan Pemerintah – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Muna

Pesona Tenunan Khas Daerah Muna, Kualitasnya Bisa Diadu Berharap Bantuan Pemerintah

Tenunan khas daerah Muna sebenarnya tidak kalah menarik dari daerah lain. Hanya saja, belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun Dekranasda. Nah, dijadikannya Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga sebagai Kampung Tenun bisa menjadi pembuka jalan awal untuk mengenalkannya di kancah nasional maupun internasional.

Muhammad Ery, Raha

“Hampir semua perempuan di desa ini pintar menenun,” ujar Wa Ode Marniati, salah seorang warga Desa Masalili yang ditemui usai mengikuti lomba menenun yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi, Minggu sore (16/4). Perempuan 25 tahun ini mengaku bisa menenun berbagai jenis pakaian, seperti sarung, baju, celana dan lainnya. Kemampuan menenun pakaian khas Muna mulai terlihat sejak menempuh pendidikan dasar.

“Hampir semua orang tua di desa ini mengajarkan anak perempuannya untuk menenun,” katanya lagi. Wa Ode Marniati adalah satu dari sekian perempuan yang menekuni pembuatan tenunan khas Muna. Terutama ibu rumah tangga, hampir semua pintar menenun. Makanya tidak salah kalau Dekranasda Sultra menetapkan Desa Masalili ini sebagai Kampung Tenun.

Desa Masalili Kecamatan Kontunaga terletak di sebelah barat Kabupaten Muna. Untuk menjangkaunya, dari pusat kota (Kota Raha,red), kalau menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, paling lama 45 menit. Jalanan juga sudah teraspal, sehingga tidak akan menemukan kendala berarti jika ingin kesana. Kalau menggunakan angkutan umum, mungkin bisa lebih lambat sedikit.

“Banyak orang kota sering datang kemari untuk sekadar beli pakaian tenunan,” ungkap Wa Ode Salia, warga Desa Masalili lainnya yang mengaku sudah puluhan tahun melakoni kegiatan ini. Wanita 46 tahun ini menjelaskan, urusan tenun menenun sudah dikenal masyarakat sejak tahun 1930-an. Kala itu masih serba manual dan hanya untuk kebutuhan sendiri saja.

Kegiatan menenun pakaian khas Muna terus diturunkan kepada anak gadisnya. Sehingga biar sudah puluhan tahun tidak pernah mati. Seperti dirinya, sudah mahir memainkan alat tenun sejak duduk di bangku kelas dua SMP. Sampai menikahpun terus digeluti, sehingga bisa menambah pemasukan untuk menyokong ekonomi keluarga. Maklum suaminya hanya seorang pekerja serabutan.

Hebatnya lagi, dari hasil menenun (baju batik, selendang dan lainnya,red), dia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. “Alhamdulillah, dengan menenun saya bisa bantu tambah penghasilan keluarga. Anak juga bisa sekolah,” ungkap ibu empat anak ini, tanpa menjelaskan lebih jauh kemana saja anak-anaknya lanjut studi.

Soal harga, ternyata hasil tenun cukup menjanjikan. Bayangkan saja, untuk tenunan khas yang punya motif dibanderol dengan harga Rp 350 ribu. Paling murah harganya Rp 250 ribu, tapi tanpa motif yang menarik. Harga tersebut berlaku semua jenis. Baik sarung, baju maupun selendang. Hanya saja, kendala yang dihadapi, soal pasaran saja. Sebab, produk mereka dilakukan hanya dengan pesanan saja. Sehingga sangat terbatas. Padahal, mereka bisa menghasilkan tenunan sampai tiga lembar dalam sepekan. “Kami kesulitan dalam memasarkan. Kalau ada jaminan dari pemerintah daerah, pasti kami akan buat banyak. Kalau sekarang, hanya berdasarkan pesanan saja,” jelasnya.

1 of 2

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top