Lima Keluarga di Kolaka Ini Bertahan Hidup dari Gula Aren – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Kolaka

Lima Keluarga di Kolaka Ini Bertahan Hidup dari Gula Aren

Risal saat membuat gula Aren.

Beberapa tahun lalu, Desa Tikonu Kecamatan Wundulako di Kabupaten Kolaka terkenal sebagai penghasil gula aren. Ratusan kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari olahan air pohon enau tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu dan harga gula aren kian turun, kini tinggal lima keluarga yang masih bertahan.

Zulfadli Nur, Kolaka

Langit di Desa Tikonu Kecamatan Wundulako mulai gelap. Tampak seorang pemuda bergegas meninggalkan sebuah gubuk yang ada di hutan Tikonu. Jarak hutan itu sekira 1 kilometer lebih dari Desa Tikonu. Dia menenteng kayu bakar dan sebuah ember berisi air enau yang baru saja disadap.

Butuh waktu sekira 45 menit untuk sampai di rumahnya. Pemuda itu adalah Rizal, satu dari lima keluarga asal Desa Tikonu yang masih setia menjalani profesi sebagai pengolah air enau untuk dijadikan gula aren. “Pekerjaan ini sudah digeluti keluargaku sejak 40 tahun lalu,” ujar Rizal saat ditemui disela mengolah air enaunya, Selasa malam (11/4).

Rutinitas itu yang dilakukan pria 23 tahun setiap hari. Pohon enau merupakan sumber mata pencaharian Rizal dan keluarganya. Awalnya, dia hanya membantu ayahnya, Biorodi. Namun setelah dia tidak bisa lagi kerja karena faktor usia, maka tanggung jawab itu diambil alih olehnya. “Pekerjaan ini sudah turun temurun di keluarga kami, makanya saya tidak mau ganti profesi,” jelasnya.

Anak ke empat dari lima bersaudara ini mengaku, dirinya mulai membantu ayahnya mengurus pohon enau sejak sepuluh tahun lalu. Awalnya hanya membantu saja, tapi setelah bisa, akhirnya bekerja sendiri. Menurut dia, proses pembuatan gula aren cukup rumit. Sebab butuh waktu hingga berjam-jam untuk menyelesaikan. Belum lagi, proses menadahnya dari pohon enau. “Melakukan pekerjaan ini harus sabar. Namun karena hanya ini sumber penghasilan kami, maka harus dilakukan,” jelasnya.

Bayangkan saja, dalam satu hari, keluarga Rizal hanya bisa menghasilkan gula aren paling banyak lima buah. Untungnya, saat ini harga perbiji mencapai Rp 20 ribu. Tapi kadangkala juga dibawah harga tersebut.

Rizal mengungkapkan, dalam pembuatan gula aren, ia memiliki kendala yakni bahan bakar. Dimana kayu atau ranting yang digunakan sebagai bara untuk memanaskan gula aren di dalam wajan semakin sulit di dapatkan. Sehingga, ia banyak menghabiskan waktu hanya untuk sekadar mencari kayu. “Kami membutuhkan waktu sekira dua jam untuk mencari kayu. Padahal, kalau kayu bakarnya cepat didapat mungkin bisa lebih dari lima biji gula merah yang kami buat,” katanya.

Azhar, warga Desa Tikonu yang juga masih setia mengolah gula aren membenarkan kalau tantangan membuat gula aren makin besar. Kurangnya perhatian pemerintah menjadi salah satu masalah. Padahal, kalau dikelola dengan baik, bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut dia, kualitas gula merah di Tikonu sangat baik. tak heran pembelinya tidak hanya dari Kolaka saja. Tapi juga dikirim ke beberapa daerah di Sultra. “Dulu, gula merah Tikonu ini terkenal sampai di Kendari. Sehingga kalau ada orang dari Kendari yang datang ke Kolaka dan mau beli gula merah, pasti ke Tikonu,” katanya.

Aparat Desa Tikonu, Neno Marsidin membenarkan kalau desanya pernah menjadi pusat pembuatan gula aren. Kala itu, hampir seluruh warga menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian. Namun, setelah harganya jatuh, banyak yang banting stir, ganti pekerjaan. “Makanya pernah berhenti selama empat tahun, tidak ada yang produksi gula aren,” katanya.

Peristiwa itu, terjadi tahun 2002. Kala itu, harga gula merah sempat anjlok hingga Rp 2 ribu per biji. Jadi, karena proses pembuatannya yang cukup lama dan harga jualnya rendah, sehingga warga memutuskan berhenti membuat gula merah. Sekarang, meski harga sudah mulai normal, namun tinggal lima keluarga saja yang masih bertahan.

Dia berharap, supaya produksi gula aren dapat bertahan dan berkembang, Pemkab Kolaka khususnya instansi terkait memfasilitasi warga dengan mmeberikan bantuan. “Kami berharap Dinas Koperasi dan UKM melihat atau mendengarkan apa kendala warga dalam memproduksi gula aren ini. Kalau misalkan peralatannya kurang maka harus difasilitasi. Dan kalau pasarannya sulit, harus dibantu dicarikan pembeli. Soalnya kalau diseriusi bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Neno menuturkan, bergelut dengan industri terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, beberapa warga Tikonu yang pernah menekuni pembuatan gula merah, berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke bangku kuliah. Bahkan, ada warga yang anaknya sudah jadi dosen. Jadi, pemerintah harus benar-benar menjaga dan meningkatkan industri gula merah di Tikonu. (b/*)

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top