Revolusi Karakter Bangsa Lewat Pendidikan – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Opini

Revolusi Karakter Bangsa Lewat Pendidikan

Marwan, S.Ag M,Pd.I

Pendidikan dan kebudayaan merupakan faktor penting dalam membentuk karakter anak bangsa. Kurikulum pendidikan 2013 sebagai bukti penguatan karakter dengan maksud menyempurnakan kurikulum tahun 2006 (KTSP). Kajian berbagai ahli turut pula mewarnai konsep, proses dan penerapan kurikulum 2013 yang syarat dengan nilai moralitas, agar nilai pendidikan mampu merubah dan memberi kontribusi yang lebih kuat pada tatanan sumber daya manusia.

Komposisi pendidikan karakter memang dirasakan belum begitu berhasil. Perilaku peserta didik di lingkungannya, baik saat intraksi sosial intern peserta didik masih terjadi perkelahian antar pelajar, pelecehan seksual, kemampuan akademik menurun disebagian mata pelajaran, masih menyontek.

Namun kita tak perlu khawatir secara berlebihan akan berdampak pada revolusi mental yang gagal baik tingkat birokrasi, sekolah dan lembaga-lembaga swasta pemerintah dan lainnya. Dalam melaksanakan kebijakan pemerintah bertanggung jawab mengimplementasikan seluruh program pendidikan dan kebudayaan serta program kebijakan lainnya menjadi berhasil, massif, systematis dan terukur keberhasilannya.

Sehingga peran pendidikan dan kebudayaan merupakan perekat kebinekaan dalam rajutan kearifan lokal daerah, kontribusi pendidikan di sekolah bagi peserta didik pada satuan pendidikan tertentu berdampak pada kemampuan mereka menerapkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang terintegrasi dalam sikap mental ketika berada di lingkungannya.

Jika saat ini rasa persatuan bangsa kita memudar, itu karena rendahnya pemahaman kita terhadap nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara 1945. Padahal dulu, di tahun 1976-1986 ada penataran P4 di sekolah-sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Semestinya penataran P4 dapat kita laksanakan kembali pada awal masuk sekolah dengan durasi waktu 6 hari di kolaborasikan dengan pendidikan berkarakter secara komprehensif pula.     Penguatan karakter bangsa tidak hanya berhenti setelah peserta didik tamat di sekolah tetapi terus berlanjut pelaksanaannya di masyarakat dengan mengubah format substansi atau model penguatan karakter pendidikan dan nilai budaya, implementasinya dimotori oleh pihak MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat RI).

BACA JUGA :  Menakar Peluang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015

Caranya melalui pembinaan dan pemberdayaan generasi muda di tingkat desa/kelurahan dengan substansi penguatan karakter para pemuda/pemudi terhadap pendidikan non formal/karang taruna dan organisasi sosial lainnya yang berbasis kecakapan hidup/ skill dalam membentuk ketahanan sosial multi ekonomi mikro kerakyatan yang sesuai dengan nilai keunggulan lokal daerah.

Jika kita menggunakan kata revolusi karakter bangsa maka muaranya adalah seluruh elemen yaitu rakyat, lembaga pemerintahan, lembaga negara, lembaga sekolah-sekolah, lembaga non pendidikan, pejabat pusat dan daerah lembaga perusahaan swasta dan lainnya. Bahwa semestinya revolusi itu mengandung unsur perubahan besar yang dapat dimaknai sebagai bentuk pembaharuan mental, tanpa harus radikal.

BACA JUGA :  Kerjasama Memberikan Nilai Positif

Inovasi yang berlebihan dapat menimbulkan sikap fasisme, anarkis, apatis, perlawanan, radikalisme, fitnah dan penyebaran berita bohong dan sebagainya. Revolusi karakter yang dipaksakan seperti menembak teroris, menghukum mati koruptor, memukul peserta didik yang bermasalah dan sebagainya, tidak mencerminkan karakter bangsa yang sejak dulu dikenal ramah, sopan dan bersahabat, menjunjung tinggi nilai hukum dan norma-norma kebinekaan. Itu hanya akan mencoreng nama baik bangsa Indonesia di mata dunia serta menimbulkan masalah yang berat bagi bangsa ini.

Namun itulah revolusi. Ada pergerakan yang tajam dan menonjol untuk dilakukan, maka yang timbul dari sikap perlakuan tersebut biasanya timbul paham-paham radikalisme dan perlawanan opini atau bentuk kekerasan terulang jika pemerintah kurang masif memperhatikan penanganan yang menyeimbangkan faktor physikologis pelaku kejahatan dan norma-norma hukum, agama yang kita anut serta pengendalian diri terhadap kebencian yang kurang manusiawi.

Untuk melakukan revolusi karakter generasi bangsa dari titik satuan pendidikan terendah, budaya adalah perekat  rasa kebangsaan dengan melakukan iven kesenian, maka akan lahir sikap kedewasaan berpikir untuk maju melalui pendidikan baik secara nasional maupun global.

Pertanyaannya apakah revolusi karakter bangsa di Indonesia sudah sukses? Maka jawabannya sebagian sudah baik, dan sebagian lagi harus  terus kita tingkatkan,  sedangkan yang belum baik kita belum terlambat, masih banyak waktu untuk terus berupaya agar pendidikan maju dan berkarakter bagi semua elemen bangsa ini dapat kita wujudkan.

BACA JUGA :  Media Jangan Hanya Mengejar Rating

Adapun model penguatan revolusi karakter berbasis sekolah yakni, guru berfungsi mendidik, mengajar transfer ilmu dan membina. Menurut hemat penulis model penguatan karakter yakni, Integration Education and Cultural of Carakter Building in Nasionalis  Assesment Scientific Comperhensif Basic Of School (IECCBNS).

Konsep model ini ialah penyatuan karakter pendidikan dan budaya dalam membentuk sikap dalam pemahaman sifat kebangsaan yang dibentuk melalui penilaian ilmiah pada semua mata pelajaran di sekolah secara menyeluruh dalam fakta empiris, artinya peserta didik diharapakan menguasai IPTEK namun memiliki sikap atau karakter yang baik dilingkungan masyarakat luas (sipil society).

Kemudian, menganalisa perkataan revolusi sebagai isu actual saat ini yang pokok kita cermati adalah pendidikan diawali sejak usia dini hingga dewasa yang bermula dari pendidikan dalam keluarga. Sedangkan secara formal dan inklusif sekolah sebagai lokomotif dan fundamental menyelenggarakan konsep materi pengetahuan dan membentuk sikap anak menjadi baik, guru di sekolah tak boleh lagi bijaksana terhadap anak didik meluluskan ketika anak didik tersebut tak memperlihatkan attitude (sikap) yang terpuji. (***)

# Penulis Adalah Pemerhati Pendidikan, Tinggal di Kendari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top