La Salapa, Pria Stroke yang Hidup Sebatang Kara, Petaka Awal Datang dari Malaysia – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Konawe Kepulauan

La Salapa, Pria Stroke yang Hidup Sebatang Kara, Petaka Awal Datang dari Malaysia

La Salapa pria asal Konkep yang hidupnya sangat memprihatinkan. (Foto : Mursalim/Kendari Pos)

Gagal di tanah rantau, lalu pulang ke kampung halaman menanggung derita. Itu adalah sebagian kecil kisah hidup seorang pria bernama La Salapa. Laki-laki asal Konawe Kepulauan itu kini malah diasingkan keluarganya.

La Ode Mursalim, Langara

Sulit mencari literatur kehidupan seperti yang dianut seorang bernama La Salapa, warga Wawonii Barat, di Konawe Kepulauan (Konkep). Bila ada orang yang menyerah dengan nasib dan malas memperjuangkan hidup, bisa jadi sosok ini adalah cerminannya. Setelah gagal di perantauan, ia pulang membawa derita dan tak pernah lagi entas dari kesuraman hidup.
Lelaki berusia 31 tahun itu hidup seorang diri di rumah peninggalkan orang tuanya, di Desa Matabaho. Tak ada pekerjaan, hidup sebatang kara, makan tak tiap hari, tubuh tak terurus, jarang mandi dan lebih parah, tak punya aturan soal tinja dan berkemih. Semua dilakukan serampangan. “Dia tidak gila itu, hanya dia malas urut dirinya. Makanya ditinggalkan saudaranya,” kata warga bernama Misda, yang rumahnya tak jauh dari gubuk La Salapa.
Kondisi bangunan tempat anak ketiga dari 8 bersaudara itu hidup memang sangat memprihatinkan. Pria yang biasa di panggil Amin itu, tidur beralas papan di gubuk yang berukuran 4×10 meter. Di dalam rumah itu berantakan. Kotoran tikus ada dimana-mana, atap rumah dari seng dan rumbia sudah bolong. Dinding rumah dari papan juga sudah lapuk dimakan usia. Akar rumput liar bahkan menjalar di dalam rumah.

Perabotan rumah tangga tak terurus. Kalaupun ada piring dan gelas, tak ada yang ingat kapan terakhir kali dicuci. Saat hujan turun, dalam rumah itu semuanya basah. Halaman rumah tergenang air, akibat banyaknya tumpukan sampah di sekitar rumahnya. “Begini mi kondisi saya sekarang ini, tidur beralaskan papan. Duduk lama pun, saya tidak tahan,” kata, La Salapa saat ditemui Kendari Pos di Matabaho, desa yang berjarak 3 kilometer dari Langara, pusat kota Konkep.

Hidup Salapa memang ironi. Enam tahun lamanya, tepatnya tahun 2006-2012, ia bekerja di Malaysia. Pria itu tercatat sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berangkat melalui jalur resmi. Meski bekerja sebagai pekerja bangunan di negeri jiran itu, penghasilannya lumayan. Sehari ia bisa meraup 50-60 ringgit atau bila dikonversi setara 180 ribuan sehari. Duit banyak, status bujangan dan gampang berurusan dengan perempuan.
Itu rupanya jadi petaka. Ada rekan kerjanya yang tak suka dengan tingkah laku La Salapa selama di kamp pekerja, khususnya urusan perempuan. “Suatu saat, saya ribut dengan teman. Cemburu lah istilahnya sama saya. Tidak lama, saat sedang kerja, saya jatuh,” katanya. Kecelakaan itu mengakhiri era kejayaannya. Sejak itu, ia tak bisa lagi berdiri dan berjalan normal, sampai kemudian ia dipulangkan tahun 2012 lalu ke Indonesia dalam kondisi tubuh yang stroke.

Di tahun-tahun pertama di Wawonii, La Salapa masih cukup diperhatikan keluarganya. Ia dirawat dengan baik. Tapi belakangan saudaranya yang kini semua ada di Langara sudah enggan mengurusi pria yang sampai kini tak beristri itu. “Dia malas urus dirinya juga. Makanya saudaranya malas mi perhatikan. Dulu itu masih sering di kasih mandi, dikasih makan. Tapi sekarang dibiarkan saja hidup sendiri,” tambah Misda, tetangga Salapa.

Kondisi kejiwaannya La Salapa juga terlihat normal. Dengan orang lain pun ia bisa berkomunikasi wajar. Hanya saja jika kepalanya terbentur, sakit ayan yang ia idap bisa muncul mendadak. Saat ini, kondisi Salapa memang cukup memiriskan hati. Pakaian di badan itu satu-satunya yang ia miliki. Untuk mandi dan buang air harus berjalan merangkak, seperti orang ngesot. Makan hanya dari belas kasihan masyarakat dan tetangganya. Dalam dua hari dirinya kadang tidak akan.

“Saya tunggu saja pemberian orang. Kadang juga saya tidak makan,” kata Salapa. Tapi ia rupanya tak pernah menyesali kondisinya sekarang ini. Menurutnya, ini sudah takdir yang diberikan oleh sangkuasa. Dirinya juga tidak menuntut banyak kepada pemerintah. “Hanya Rokok dan makanan yang saya butuh,” ungkap pria 31 tahun itu.
Ditempat terpisah, Kadis Sosial Konkep Muh. Rustam Arifin, sangat prihatin dengan kondisi La Salapa. Pihaknya juga sudah mendatangi kediaman pria itu untuk mencari tahu apa yang dialami warga Desa Matabaho tersebut.

Sebagai langkah awal, pihak Dinsos sudah member bantuan alakadaranya berupa, tikar, terpal serta selembar sarung. Dirinya juga mengajak semua elemen untuk memberikan perhatian. Kata dia, siapa saja bisa menbantu pria itu. “Kami sudah menyampaikan kepada keluarganya untuk segera diurus data kependudukannya. Dia ini diterlantarkan keluarganya. Dinsos punya peran disini, tetapi alangkah baiknya dinas lain serta media bisa terketuk hatinya,” kata Rustam (***)

Komentar

komentar

1 Comment

1 Comment

  1. Abdullah

    23 Mar 17 09:18 at 09:18

    Apa ada ormas atau lembaga yang bisa dipercaya untuk menyalurkan bantuan kepada Pak La Salapa? Saya butuh infonya. Terima kasih.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top