Duit Korupsi e-KTP Mengalir ke Kendari – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

Duit Korupsi e-KTP Mengalir ke Kendari

kendaripos.fajar.co.id, Jakarta — Nama Kota Kendari mendadak muncul di di ruang sidang Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (16/3) lalu saat sedang digelar persidangan kasus korupsi KTP elektronik. Adalah Mantan Mendagri, Gamawan Fauzi yang mengucapkannya. Ada apa? Rupanya dalam dakwaan yang dibacakan jaksa KPK, selain disebut menerima duit aliran uang Rp 876.250.000, USD 73.700, dan SGD 6.000, Gamawan juga disebut menerima duit Rp 50 juta dari mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri, Irman, yang kini jadi terdakwa perkara itu.

Urusan Rp 50 Juta itulah yang membuat Kota Kendari muncul di persidangan. Mendagri era tahun 2009-2014, bersikukuh bahwa duit itu bukan hasil bancakan proyek KTP elektronik, tapi honor dia sebagai pembicara saat ke lima daerah di Indonesia, dimana salah satunya adalah Kota Kendari. “Itu (Rp 50 Juta) bukan duit korupsi KTP Yang Mulia, itu honor saya jadi pembicara,” bantah  Gamawan saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (16/3).

Di depan majelis hakim, mantan Gubernur Sumatera Barat itu mengakui bahwa ia memang menerima duit dari Irman sebesar Rp 50 juta. Tapi menurut Gamawan, merupakan honornya sebagai pembicara saat masih menjabat Mendagri. “Saya perlu clear-kan, Yang Mulia, karena banyak yang bertanya kepada saya. Uang itu (Rp 50 Juta) honor saya pembicara, Yang Mulia, di lima daerah,” kata Gamawan.

BACA JUGA :  Terungkap! DPR yang Pengin e-KTP Pakai APBN

Lima daerah dimana Gamawan menerima uang Rp 50 juta dari Irman itu pada saat kunjungan kerja di Balikpapan, Batam, Kendari, Papua, dan Sulawesi Selatan. Gamawan lalu menjelaskan, saat menjadi menteri, dia mendapatkan honor Rp 5 juta per jam. Menurut Gamawan, hal itu sesuai dengan aturan.

Menurut aturan, kata pria berkacamata itu, 1 jam menteri bicara itu Rp 5 juta. Jika bicara 2 jam, Rp 10 juta. “Saya menerima komisi, jadi itu honor resmi, saya tanda tangani. Bukan uang dikasih (dari duit KTP), (Itu) uang operasional saya, Yang Mulia,” ujar Gamawan.

Gamawan menjabat Mendagri pada periode 2009-2014. Entah aturan mana yang dimaksud Gamawan. Proyek e-KTP sendiri merupakan proyek multiyears dari 2010-2012. Mengacu pada Permenkeu Nomor 36 Tahun 2012, yang merupakan perubahan atas Permenkeu Nomor 84 Tahun 2011 tentang standar biaya tahun anggaran 2012, honor menteri sebagai pembicara adalah Rp 1,5 juta.

Dalam aturan tersebut tak dijelaskan apakah Rp 1,5 juta tersebut untuk satu jam atau sekali menjadi pembicara. Dalam surat dakwaan KPK, mantan Dirjen Dukcapil Irman, yang kini telah duduk sebagai terdakwa, menerima aliran uang Rp 876.250.000, USD 73.700, dan SGD 6.000. Uang itu disebut digunakan untuk membiayai kepentingan pribadi dan diberikan kepada beberapa orang, termasuk Gamawan.

BACA JUGA :  PWI Anggap Larangan Siaran Langsung Sidang Korupsi e-KTP Renggut Kemerdekaan Pers

Dalam catatan Litbang Kendari Pos, Gamawan Fauzi setidaknya tiga kali melakukan kunjungan kerja ke Kota Kendari selama ia menjabat sebagai Mendagri. Pertama, bulan Oktober 2011 saat mendampingi Wapres Boediono menghadiri Pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) XIII tingkat nasional. Saat itu Gamawan menyerahkan secara simbolis nugerah dan bantuan TTG kepada sejumlah daerah dan kelompok usaha yang dinilai berprestasi.

Kehadiran Gamawan yang kedua kali di Kendari yakni pada tanggal 18 Februari 2013. Agendanya saat itu adalah melantik Nur Alam dan Saleh Lasata sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra periode 2013-2018. Tak ada dokumen apapun yang menjelaskan bila di dua agenda kehadirannya di Sultra, sang menteri jadi pembicara dalam kegiatan seminar atau simposium tertentu.

Sedangkan kali ketiga, Gamawan berada di Kendari saat menghadiri undangan Pemprov Sultra yang menggelar acara HUT Sultra ke 50, April tahun 2014 lalu. Mendagri tiba di Kendari pada tanggal 26 April, atau sehari sebelum puncak acara. Dalam dua hari tersebut, tercatat ada tiga agenda yang dihadiri suami Vita Gamawan ini.

BACA JUGA :  Korupsi e-KTP Sudah Dirancang Sejak Awal

Pertama, ia hadir di acara Gelar Pemberdayaan Adat dan Budaya Nusantara di alun-alun Kota Kendari, sesaat setelah melantik Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra. Selain itu, Gamawan Fauzi didampingi Wali Kota Kendari, Asrun dan Gubernur Sultra juga berkunjung ke pasar sentral Kendari di daerah kota lama.

Saat sidang digelar, Kamis (16/3) lalu, pihak-pihak yang diduga menerima aliran dana korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) berusaha sekuat tenaga berkilah. Hanya mantan Sekretaris Jenderal Kemendagri Diah Anggraeni yang mengakui menerima aliran dana. Lima saksi lain membantah ikut menerima suap, termasuk Gamawan Fauzi.

Di antara para saksi yang hadir, Gamawan menjadi yang paling keras membantah dugaan aliran dana tersebut. Dia meminta masyarakat berdoa agar dirinya dikutuk Tuhan bila menerima Rp 1 dari korupsi e-KTP. Di surat dakwaan jaksa KPK, Gamawan diduga menikmati duit haram e-KTP sebesar USD 4,5 juta dan Rp 50 juta. ”Satu sen pun tidak pernah terima, demi Allah kalau saya terima, saya dikutuk Allah,” katanya berapi-api.(tyo/c5/c10/ang/dan)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top