OJK Pacu Transformasi Bank Sultra – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Ekonomi & Bisnis

OJK Pacu Transformasi Bank Sultra

Widodo, Kepala OJK Sultra, saat memberikan penjelasan di ruang kerjanya.

Widodo, Kepala OJK Sultra, saat memberikan penjelasan di ruang kerjanya.

kendaripos.fajar.co.id,KENDARIKegiatan bisnis Bank Sultra saat ini, masih didominasi kredit konsumtif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, kredit jenis ini tidak membawa dampak multiplier effect yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Sehingga, bank berplat merah inipun didorong untuk bertransformasi menjawab tantangan zaman.

Kepala OJK Sultra, Widodo menyampaikan, harapan terbesar OJK adalah transformasi yang mendalam. Artinya, Bank Sultra harus lebih upgrade diri dan didukung oleh SDM yang profesional dengan budaya dan pola kerja maksimal, infrastruktur IT yang memadai, serta penerapan GCG, manajemen resiko hingga pengendalian internal yang lebih efektif. Apalagi, perkembangan perbankan sangat pesat, jika mempertahankan pola lama, jelas terancam ditingggal nasabah.

“Nah, disinilah Bank Sultra perlu menentukan sikap, akan dibawa kemana ke depan (blue brandnya). Tentu tidak dapat meninggalkan keperluan masyarakat, termasuk pesaingnya yang harus dilihat seperti apa perkembangannya,” kata Widodo.

Jadi, lanjutnya, capasity building benar-benar dikawal oleh OJK. Sehingga, arah perkembangannya pun tidak bakal melenceng dari konstruksi yang telah direncanakan. Menurutnya, semua pihak terkait harus paham bahwa Bank Sultra bukan lembaga sosial. Melainkan, perusahaan yang dituntut memberikan profit, sekaligus wajib berkontribusi dalam peningkatan ekonomi daerah.

Selama ini, ia kembali menerangkan, Bank Sultra masih didominasi oleh kredit konsumtif yang nilainya mencapai 90-an persen, berupa pinjaman pegawai dan penggunaan lainnya dengan sistem pengembalian potong gaji. Jika multiplier effect dijadikan sebagai parameter, tentu tidak banyak memberi dampak pada sektor riil. Sementara itu, yang diharapkan adalah kredit produktif untuk menghidupkan sektor usaha hingga industri, yang seluruhnya menuntut penyerapan tenaga kerja. Karena kredit konsumtif hanya berefek langsung bagi si nasabah sendiri dan sama sekali tidak mengandung multiplier effect.

“OJK tidak memaksakan besaran tertentu, karena paham bahwa infrastruktur, organisasi dan SDM yang disiapkan jelas akan berbeda, jika harus mengelola kredit produktif untuk modal kerja. Berbanding terbalik dengan pengelolaan kredit konsumtif yang jauh lebih simple,” ulas Widodo.

Dalam mengelola kredit produktif, perlu analisa khusus untuk memahami karakteristik dan keadaan industri yang bakal dibiayai, modal bakal digunakan untuk menjalankan usaha yang seperti apa, dan tidak terbatas pada sektor perdagangan saja. Untuk ini, dibutuhkan SDM (account officer) yang memahami industri, termasuk bagaimana memasarkan produk yang bakal dibiayai. Selanjutnya adalah mekanisme pemutusan juga harus diperhatikan secara detail, karena keputusan yang salah akan membawa dampak kurang baik.

Ia pun menantang Bank Sultra untuk menyiapkan SDM yang mumpuni dalam memulai pengelolaan kredit produktif tahun ini. Karena jika tidak dipersiapkan dini, maka Non Performing Loan (NPL) terancam meningkat karena ketidaksiapan.

Namun kembali ia tegaskan, pengelolaan kredit produktif tidak boleh sembarangan karena kerugiannya akan ditanggung pihak bank hingga 25 persen. Makanya, edukasi dan literasi ke masyarakat atau calon nasabah sangat perlu dilakukan. Jika tidak, akses yang tinggi tidak akan dibarengi dengan pengetahuan yang mendalam sehingga hasilnya juga nihil. Pada akhirnya, KUR hanya akan dianggap sebagai hibah oleh masyarakat, padahal sejatinya KUR ada untuk modal usaha. “Plafon Bank Sultra yang kita rekomendasikan adalah 25 miliar untuk kesempatan perdana,” imbuhnya.

Menurutnya, capasity building untuk penyaluran kredit produktif harus diperhatikan baik dari kesiapan SDM, SOP, mekanisme penyaluran hingga penerapan manajemen resiko, untuk mengantisipasi mitigasi resiko. Di sini, OJK bertugas memantau kesiapan bank dan terus memonitor. Dan jika meningkat, maka percepatan peningkatan ekonomi daerah pasti terjadi.

“Inilah arah kontribusi Bank Sultra terhadap pembangunan daerah, khususnya untuk lebih meningkatkan pengelolaan kredit produktif. Sehingga, multiplayerr effectnya benar-benar terlihat. Seluruh masyarakat harus bisa terlayani dengan ide-ide smart yang dibangun oleh Bank Sultra pasca transformasi,” tandasnya. (febri)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top