WASPADA! DBD Mulai Rengut Nyawa – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Sulawesi Tenggara

WASPADA! DBD Mulai Rengut Nyawa

kendaripos.fajar.co.id KENDARI– Wabah penyakit musiman Demam Berdarah Dengeu (DBD) kembali mengancam. Selama periode musim penghujan, tercatat sebanyak 178 pasein harus mendapat perawatan karena serangan penyakit yang diakibatkan virus dengue ini. Dua pasien diantaranya bahkan tak bisa tertolong. Bila merujuk pada grafik, penyakit yang penyebarannya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti menunjukan tren peningkatan sejak Oktober 2016 hingga Januari 2017. Bila pada bulan Oktober 2016 lalu, hanya 10 pasien, maka pada Januari 2017 ini sudah mencapai 72 penderita.

download (6)

Penyebaran virus berbahaya ini baru terdeteksi di 9 kabupaten/kota. Diantaranya, Kendari, Muna, Bombana, Wakatobi, Baubau, Konawe Selatan (Konsel), Buton Utara (Butur), Kolaka dan Konawe. Dari 8 daerah itu, Wakatobi tercatat menjadi penderita terbesar yakni 62 kasus disusul Kendari 40 kasus dan Kolaka 28 kasus. Sementara daerah lain masih berada dibawah 10 kasus terkecuali Konsel dan Bau-bau yang masing-masing tercatat 17 dan 12 kasus.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Pencegahan Lingkungan Dinkes Sultra, drg. Heny Triviani, M.Kes mengatakan pasien DBD yang mendapat perawatan menunjukan peningkatan. Namun bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlahnya relatif kecil. Januari tahun lalu, penderita DBD mencapai 524 kasus dengan 5 penderita meninggal dunia. Sementara Januari tahun ini hanya 72 kasus. Makanya, masih jauh untuk dikategorikan Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti periode lalu.

“Seiring dengan masuknya musim hujan, diperkirakan kasus DBD akan terus bermunculan. Apalagi musim penghujan masih cukup panjang. Kemungkinan memasuki bulan Mei-Juni grafiknya baru menurun. Namun berkaca pada kejadian tahun lalu, hampir sepanjang tahun 2016 kasus DBD di Kendari dan Kolaka terdeteksi. Kendari hanya bulan September tidak ditemukan. Sementara Kolaka periode DBD hingga bulan September.

Nanti pada bulan Januari kasusnya baru ditemukan. Yang menjadi perhatian adalah Wakatobi. Sebab sudah ada pasien DBD yang meninggal dunia,” jelas mantan Kabid Farmasi dan Bina Upaya Kesehatan (BUK) ini, Kamis (23/2).

Kasus DBD di daerah yang telah terjangkit virus ini kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini, fluktuatif. Kendari misalnya, pada bulan Oktober-November 2016 lalu naik, namun pada bulan Desember turun menjadi 3 kasus dan naik 7 kasus pada bulan Januari 2017. Begitupun dengan Wakatobi dan Bombana. Namun yang konstan naik yakni, Muna, Baubau, Konsel, Butur dan Kolaka. Hanya saja, jumlahnya masih terbilang kecil terkecuali Kolaka yang langsung meningkat menjadi 28 kasus.

Peningkatan kasus DBD terjadi setiap musim hujan, hal ini berkaitan dengan tempat perindukan nyamuk aedes aegypti yaitu penampungan air di dalam maupun di luar rumah dan benda-benda lain yang dapat menampung air hujan di halaman. Tahun lalu, kasus BDB naik signifikan. Kasus DBD yang sudah dilaporkan sebanyak 3.307 kasus dengan pasien yang meninggal 33 orang. Warga Kendari tercatat sebagai penderita terbesar yakni 1.084 kasus diikuti Kolaka 677 kasus dan Konsel 466 kasus.

Dinkes Sultra sudah berkoordinasi dengan kabupaten/kota melakukan berbagai upaya. Mulai dengan melakukan penyelidikan epidemiologi, penyuluhan, abitasi, fogging hingga pemberantasan saran nyamuk melalui gerakan 3 M Plus yaitu dan mendaur ulang barang-barang bekas yang menjadi tempat perindukan nyamuk DBD. Untuk menekan korban meninggal, Dinkes proaktif melakukan perawatan pasien yang terkontaminasi virus ini termasuk mengonfirmasi ke laboratorium setiap kasus pasien DBD.

“Kami juga telah mengirimkan surat upaya kewaspadaan dini sebelum masa penularan. Tidak hanya dengan Dinkes kabupaten/kota, provinsi juga berkoordinasi dengan lintas sektor. Makanya, kasus DBD tahun mengalami penurunan. Apalagi peran serta masyarakat dalam penanggulangan DBD cukup meningkat. Respon cepat terhadap kasus yang dicurigai DBD baik dari petugas kesehatan maupun masyarakat. Penyuluhan dan memotivasi masyarakat secara terus menerus untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk 3 M Plus,” jelas dr Henny. (b/mal)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top