Alamak… Kasus Narkoba Bupati Bengsel Ternyata Direkayasa – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Hukum & Kriminal

Alamak… Kasus Narkoba Bupati Bengsel Ternyata Direkayasa

kendaripos.fajar.co.id – Badan Narkotika Nasional (BNN) sangat serius membersihkan internalnya dari permainan kasus. Yang paling baru, lembaga yang dipimpin Komjen Budi Waseso itu mengungkap rekayasa kasus narkotika yang menjerat Bupati Bengkulu Selatan (Bengsel) Dirwan Mahmud.

misteri-narkoba-di-ruang-bupati-bengkulu-selatan-akhirnya-terkuak-Fh05kO36qj

Tak tanggung-tanggung, mantan Kabid Pemberantasan BNN Bengkulu berinisial HY dan mantan Bupati Bengkulu Selatan berinisial RE menjadi tersangka. Keduanya bersama lima tersangka lain diduga merekayasa atau menjebak Dirwan dengan kasus narkotika. Lima orang itu, yakni anggota Polri BNN Bengkulu SA, dua PNS BNN Bengkulu DA dan KD. Lalu, RU mantan sekretaris daerah Bengkulu Selatan, serta MU seorang pekerja media massa di Bengkulu.

Kepala Humas BNN Kombespol Slamet Pribadi menuturkan, awalnya Dirwan Mahmud itu melapor ke BNN dan dilakukan tes narkotika, dari tes urine hingga rambut. Hasilnya, memang Dirwan tidak menggunakan narkotika. ”Dari asumsi itulah kemudian dilakukan penyelidikan,” paparnya.

Senin lalu (20/2), BNN melakukan gelar perkara bersama Divpropam Polri, Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipid Narkoba) Bareskrim dan BNN Bengkulu. Hasilnya, ternyata memang diduga terjadi rekayasa kasus narkotika. ”Maka, Kabid Pemberantasan BNN Bengkulu HY dijadikan tersangka bersama enam orang lain,” tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui mantan Bupati Bengkulu Selatan RE melalui MU meminta bantuan pada HY agar bisa menjebak Dirwan Mahmud. Penjebakan itu dengan modus menaruhkan narkotika pada ruang kerja Dirwan, sehingga bisa dijerat dengan pidana penyalahgunaan narkotika. “Lalu, HY bersama DA dan SA bertemu dengan RE dan MU di sebuah rumah di jalan Lingkar Barat, Bengkulu. Pertemuan ini membicarakan bagaimana teknis peletakan narkotika tersebut,” ungkapnya.

Slamet menjelaskan, HY, SA dan DA kemudian mendapatkan uang Rp 10 juta untuk membeli narkotika berupa satu paket sabu dan empat butir ekstasi. ”Dalam pemeriksaan SA mengaku mendapat sabu dari bandar berinisial BO. Untuk ekstasi dari seorang PNS berinisial KD. Keduanya sedang dikejar,” ujarnya.

Narkotika yang telah dibeli itu kemudian diberikan pada RE. Selanjutnya, RE memerintah RU untuk menaruh narkotika itu di ruang kerja Bupati Dirwan. ”Setelah dapat informasi narkotika telah ditaruh, mantan Kabid Pemberantasan BNN Bengkulu HY langsung melakukan penggeledahan dan menangkap Dirwan,” tuturnya.
Selain Rp 10 juta, HY juga dijanjikan Rp 200 juta untuk melakukan penjebakan dengan modus narkotika tersebut. ”Tapi, yang baru diterima baru 10 juta ya,” jelaa polisi dengan tiga melati di pundak tersebut.

Informasi yang diterima, Komjen Budi Waseso marah besar dengan kejadian penjebakan yang melibatkan oknum dari BNN Bengkulu tersebut. Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Slamet menuturkan bahwa upaya bersih-bersih terus dilakukan. ”Komjen Budi Waseso tidak mentolelir perbuatan semacam itu. Ini bukti konkrit BNN menindak tegas siapapun pelaku kejahatan narkotika,” paparnya.

Dia menuturkan, ketujuh tersangka diancam pasal 114 ayat 1 dan 112 ayat 1 jo pasal 132 ayat 1 UU 35/2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. ”Ya, bisa sampai hukuman mati,” jelasnya.
Menurut internal BNN, ternyata Dirwan tidak hanya sekali dijebak dengan kasus narkotika. Beberapa tahun sebelumnya, saat melakukan perjalanan dari Bengkulu ke Lampung, Dirwan juga pernah terjerat kasus narkotika yang ditemukan di mobilnya saat ada razia dari kepolisian. ”Saat itu juga sedang Pilkada, akhirnya Dirwan tidak bisa mengikuti pilkada,” tutur sumber yang tidak ingin disebut namanya tersebut.

Slamet Pribadi menambahkan, untuk motif penjebakan tersebut kemungkinan besar karena RE merasa sakit hati karena kalah dalam pilkada pada 2016. ”Saat itu RE saingan Dirwan,” paparnya. Dia juga memberikan tips dan trik agar masyarakat terhindar dari upaya penjebakan yang bisa jadi dilakukan oknum tertentu.

Slamet menuturkan, bila ada razia narkotika di mobil, yang bisa dilakukan adalah berhenti beberapa meter dari petugas. ”Jangan berhenti tepat seperti yang diminta petugas. Sebab, bisa jadi narkotika ditaruh di lokasi tersebut,” ungkapnya.

Setelah itu, keluar dari mobil dengan posisi mobil harus dikunci. Saat itu, masyarakat bisa langsung menjelaskan ke petugas bahwa bersedia untuk digeledah mobilnya. ”Tapi, hanya satu orang saja yang menggeledah, jangan perbolehkan dua orang. Karena sulit mengawasi kalau dua orang. Untuk penggeledahan di ruangan hal yang sama juga bisa dilakukan, biar pengawasan mudah. Gerakan tangan dan sebagainya bisa terlihat,” paparnya. (idr)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top