Di Balik Jeruji Besi, Umar Samiun Bersurat: Bantu Saya Selamatkan Buton – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Buton

Di Balik Jeruji Besi, Umar Samiun Bersurat: Bantu Saya Selamatkan Buton

Umar Samiun

Umar Samiun

kendaripos.fajar.co.id, JAKARTA – Kampanye akbar pemilihan kepala daerah Kabupaten Buton sudah digelar, Minggu (5/2). Dalam kampanye tersebut, Samsu Umar Abdul Samiun selaku calon bupati tunggal tidak hadir karena tengah tersandung kasus hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). La Bakry sebagai wakil calon bupati yang mengambil alih ‘posisi’ Umar Samiun.

Meski tidak hadir secara langsung ditengah-tengah ribuan massa dalam kampanye yang digelar di lapangan Banabungi, Pasarwajo itu, Umar Samiun melalui surat yang dituliskan dari Rutan Guntur tempatnya saat ini berada dibacakan oleh La Bakry dihadapan ribuan massa. Melalui tulisan tangan sebanyak 6 lembar itu, Umar Samiun menjelaskan panjang lebar mengenai pembangunan Buton selama kepemimpinannya.

Disamping itu juga, sebagai calon tunggal yang dalam pilkada ini melawan kotak kosong, Umar Samiun juga berpesan kepada seluruh masyarakat agar tidak memilih kotak kosong. Karena jika hal itu terjadi akan sangat menghambat pembangunan Kabupaten Buton kedepan karena akan kembali dipimpin oleh pejabat bupati, bukan bupati definitif.

Berikut ungkapan Umar Samiun melalui surat yang dibacakan oleh La Bakry pada kampanye akbar:

Surat ini dari Umar Samiun kepada seluruh orang tua, kakak serta adik-adikku, lebih khusus kepada seluruh masyarakat Kabupaten Buton yang saya cintai. Sulit bagi diriku memulai dengan kata apa untuk menyampaikan sesuatu berkenaan dengan situasi sekarang ini.

Hari ini tepat tanggal 5 Februari 2017 bertempat di lapangan Banabungi, oleh KPUD Kabupaten Buton telah memberikan jadwal pada pasangan Oemar Bakry untuk memenuhi kewajiban konstitusi dalam rangka hajat daerah untuk memilih bupati dan wakil bupati kabupaten Buton masa bakti 2017-2022 dalam kampanye akbar yang juga menandai berakhirnya masa kampanye kita.

Hari ini sejatinya saya berada ditengah saudara-saudaraku sekalian, kita bertemu, bertatap muka, akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Saya sekarang berada jauh ribuan kilo meter dari saudara-saudaraku sekalian, jauh dari hiruk pikuk keramaian, pandangan mataku terbatas, rasa hatiku terkoyak, jiwaku terbelenggu. Akan tetapi, akan tetapi semua itu tidak bisa mengunci mulutku untuk bicara.  Tanganku memberontak untuk menulis apa yang semestinya perlu saya sampaikan kepada saudara-saudaraku sekalian.

Empat setengah tahun bukanlah waktu yang panjang untuk mempretele Buton dari ketertinggalannya pasca 10 tahun pindah ibukotanya di Pasarwajo yang kita cintai bersama-sama. Infrastruktur lumpuh dimana-mana, poros Baubau – Banabungi, Baubau – Kapontori, Lasalimu, Lasalimu Selatan, Siotapina, Wolowa, Pasarwajo sampai Wabula menjadi sebuah pemandangan yang ironis dan menyedihkan. Sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, kelautan dan penataan kota Pasarwajo jauh panggang dari api.

Penataan aset daerah serta tata kelolah keuangan mengakibatkan Buton selama 10 tahun hanya satu kali mendapat predikat WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan RI.

Project pembangunan sarana dan prasarana dikelola jauh dari kaidah-kaidah hukum yang sepatutnya. Pembangunan kantor Bupati dan kantor DPRD Kabupaten Buton tahun anggaran 2003 yang menelan anggaran Rp. 20 Miliar tidak dilelang, akan tetapi dilakukan dengan cara penunjukkan langsung kepada PT Adi Karya oleh sang penguasa.

Ko cuhu – ka cia…

Entah mengapa mereka sama sekali tidak tersentuh oleh penegak hukum. Sebutlah mereka mempunyai beking. Tapi Insya Allah Tuhan tidak buta, siapa yang menabur angin, dia yang menuai badai.

Orang tua, kakak serta adik-adikku sekalian, empat tahun setengah Oemar Bakry bersama-sama rakyat sudah membuktikan kerja yang nyata. Infrastruktur sudah kita buka, jalan-jalan yang tadinya hanya 3 meter kita perlebar 8 sampai 20 meter. Sumber daya alam kita berupa asphalt kita jadikan keunggulan komperatif.

Nilai-nilai budaya sudah kita ekspos sampai ke manca negara sebagai suatu imperium atas kejayaan kita di masa lalu. Sebuah peradaban yang mestinya menjadi entitas dan identitas bagi kita orang-orang Buton dimanapun berada, di Papua, di Maluku, di Makassar, di Kalimantan dan di Jawa bahkan sampai di Sumatera.

Kita hanya bisa tegak berdiri di Republik ini apabila kita bisa menjadikan Buton sebagai sebuah pilar dari Sabang sampai Merauke. Jangan pernah bermimpi kita bisa mengambil peran ditingkat nasional kalau Buton hari ini hanyalah sebagai sebuah pecahan-pecahan kabupaten dan kota saja.

Kita tidak akan pernah bisa menempatkan putra putri terbaik kita menjadi mentri, pejabat-pejabat eselon 1 dan 2 di kementerian dan BUMN, lalu apa bedanya kita dengan saudara-saudara kita di Makassar, Manado, Ambon, Jawa dan Sumatera. Jawabnya adalah kita belum menjadi Propinsi yang sebagai pilar dalam Negara Kesatuan RI.

Apakah saudara-saudaraku sadar bahwa betapa kita sudah jauh tertinggal dengan saudara-saudara kita dari Muna, Kendari dan Kolaka?

Saudara-saudaraku sekalian, sadarlah bahwa Buton dalam sejarah perjuangannya pernah menjadi sebuah imperium besar pada masa lalu yang ditandai dengan dilantiknya Wa Kaka dikisaran tahun 1200 Masehi sebagai Raja pertama.

Saudara-saudaraku, kita tidak pernah berkeinginan untuk keluar dari NKRI ini. Tidak…

Kita hanya meminta agar pemerintah pusat dapat menghargai eks Kerajaan dan Kesultanan yang pernah menjadi sebuah imperium.  Menjadi sebuah propinsi dalam bingkai NKRI agar kita punya identitas kebutonan dengan seluruh kejayaannya dimasa lampau.

Saudara-saudaraku sekalian, sebelum saya akhiri, saya ingin berpesan kepada seluruh masyarakat Buton, bahwa apa yang terjadi pada diri saya bukanlah aib bagi daerah yang kita cintai. Saya bukan perampok, saya bukan koruptor yang merampok uang negara. Ini permainan dendam segelintir orang yang haus akan kekuasaan, yang tidak menginginkan terbentuknya propinsi Kepulauan Buton. Para Abu Jahal, Abu Lahap yang hanya mementingkan diri mereka sendiri.

Terus lakukan pergerakan kita sampai tanggal 15 Februari nanti. Menangkan Oemar Bakry, selamatkan daerah kita, jangan biarkan mereka memanfaatkan kotak kosong untuk kepentingan pribadi mereka.

Saya yakin, saudara-saudaraku mampu melakukan ini tanpa saya disisimu. Disini saya hanya sendiri yang tersandung, tapi kalian disitu banyak, banyak sekali. Yakinlah, perjuangan kita didasari dengan keikhlasan, sebab sebuah perjuangan yang didasari dengan keikhlasan akan mendapat dukungan dari rakyat dan Insya Allah diridhoi Allah SWT.

Saya menulis surat ini dengan uraian air mata yang membasahi pipiku karena mengingat kalian semua dan daerah kita. Ruangan sempit ini sungguh membatasi gerakanku, semuanya yang ada disini seolah tidak nyata. Hitungan detik, menit, jam dan hari bagian lain yang menyiksaku.

Kalaulah sekarang saya menjadi tegar, karena mengingat kalian semua, aku sayang kalian, aku cinta kalian. Demi Allah bantu saya selamatkan daerah kita pada tanggal 15 nanti. Insya Allah Tuhan meridhoi kita semua.

Allahu Akbar

 

“Umar Samiun”

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top