Empat Ahli Sepakat Status Tersangka Bupati Buton Tidak Sah – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Empat Ahli Sepakat Status Tersangka Bupati Buton Tidak Sah

kendaripos.fajar.co.id, JAKARTA – Empat orang saksi ahli yang dihadirkan oleh pihak pemohon dalam hal ini Bupati Buton nonaktif Samsu Umar Abdul Samiun di sidang praperadilan melawan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah selesai memberikan keterangannya baik dihadapan hakim tunggal Noor Edi Yono maupun dihadapan pihak termohon dalam hal ini KPK.

IMG_20170118_141201_HDR

Keempat saksi tersebut diantaranya Prof. DR. Laica Marzuki, DR. Margarito Kamis yang memberikan keterangan ahli dalam bidang Hukum Tata Negara dan DR. Chairul Huda serta Prof. DR. Mudzakir yang memberikan keterangan ahli dalam bidang Hukum Pidana. Intinya, dari keterangan keempat saksi ahli tersebut berpendapat bahwa status tersangka yang disematkan kepada Umar Samiun tidak sah karena tidak sesuai dengan prosedur sesuai yang diatur dalam KUHAP Pasal 184 mengenai alat bukti yang sah dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka.

“Menurut KUHAP harus ada 2 alat bukti yang sah, tetapi dua alat bukti ini juga tidak cukup sebelum si calon tersangka juga harus dan mutlak untuk dipanggil agar diperiksa. Jadi tidak boleh seseorang ditetapkan sebagai tersangka sebelum diperiksa,” tegasnya.

“Tidak dibenarkan dalam hukum acara menetapkan seseorang sebagai tersangka sebelum memeriksa calon tersangka. Karena keputusan MK mengikat jadi mestinya calon tersangka diperiksa lebih dulu apalagi perkara berbeda,”,” sambung mantan Hakim Agung ini.

Hal senada juga diungkapkan ahli Hukum Tata Negara Margarito Kamis. Menurutnya hukum positif mengharuskan penyidik memeriksa calon tersangka terlebih dahulu sebelum menetapkan seseorang menjadi tersangka. Kalau informasi hanya diperoleh dari putusan perkara lain yang putusannya mengikat, kata dia harusnya lebih dulu calon tersangka diperiksa sebelum jadi tersangka.

“Tidak bisa ditetapkan sebagai tersangka sebelum penyidik melakukan pemeriksaan kepada calon tersangka,” ungkapnya.

Tidak jauh berbeda dengan keterangan saksi ahli, Chairul Huda. Pakar Hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Jakarta ini mengatakan seseorang sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh penegak hukum harus terlebih dahulu melakukan proses penyelidikan dengan mengumpulkan bukti-bukti dan pemeriksaan saksi-saksi sesuai dengan KUHAP. Jika sudah terpenuhi dan maka bisa langsung dinaikkan statusnya ke tahap penyidikan.

“Harus kumpulkan dulu buktinya katakanlah seperti putusan perkara lain, barulah tetapkan orang sebagai tersangka.  Jangan tetapkan dulu tersangka baru cari bukti. Itu keliru,” katanya.

Chairul juga menyinggung persoalan keterangan terdakwa maupun saksi didalam pengadilan yang dijadikan alat bukti oleh penyidik untuk melakukan proses penyelidikan maupun penyidikan dalam kasus yang berbeda. “Memang benar keterangan terdakwa maupun saksi bisa dijadikan sebagai alat bukti, tapi alat bukti didalam persidangan itu, bukan dijadikan alat bukti dalam kasus yang lain. Jika ingin menggali kasus lain, maka harus kembali dilakukan pemeriksaan terhadap para saksi maupun tersangka,” urainya.

Sementara itu saksi ahli terakhir Prof Mudzakir juga penjelasannya tidak jauh berbeda dengan apa yang diutarakan oleh saksi-saksi ahli yang lainnya. Bahwa, dalam penetapan seseorang sebagai tersangka terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi baik dalam proses penyelidikan maupun penyidikan. Begitu juga sangat perlu calon tersangka ikut dipanggil untuk dimintai keterangannya.

“Pihak-pihak terkait yang dianggap tahu suatu persoalan harus dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. Begitu juga dengan calon tersangka yang mutlak harus dipanggil juga untuk memberikan keterangannya. Jika bukti dianggap cukup dan calon tersangka dianggap terbukti melakukan tindak pidana maka barulah ditetapkan sebagai tersangka. Olehnya itu, penetapan tersangka harusnya diakhir proses penyidikan,” tutupnya. (Hrm/Fajar)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top