Awas… Penyakit DBD Mengintai ! – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Metro Kendari

Awas… Penyakit DBD Mengintai !

KENDARIPOS.COO.ID KENDARI– Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) tahun lalu tentunya menjadi pelajaran bagi Pemda di Sultra. Lebih dari tiga ribuan pasien harus mendapatkan perawatan intensif. Sebanyak 50-an diantaranya bahkan meninggal dunia. Meskipun belum mengarah ke KLB, namun penyebaran penyakit melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti menunjukan tren peningkatan.

download (1)

Agar kejadian tak terulang, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra, dr. Asrum Tombili meminta warga lebih waspada. Apalagi kondisi cuaca saat ini sangat potensial untuk pengembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. Genangan-genangan air menjadi wadah paling cocok untuk tempat bertelur. Makanya, ia mengimbau warga untuk kembali menggalakan upaya pencegahan melalui gerakan 3 M Plus. Apalagi telur-telur ini tidak gampang mati. Bila belum sempat menetas, telur nyamuk bisa bertahan selama 6 bulan.

“Penyebaran wabah DBD patut diwaspadai. Di beberapa daerah, laporan kasus mulai meningkat. Namun indikasi penyebaran belum mengarah pada KLB seperti halnya tahun lalu. Kendati demikian, harus dilakukan antisipasi. Agar terhindar, masyarakat harus menjalani pola hidup sehat. Jangan lupa untuk selalu membersihkan endapan air karena itu berpotensi jadi sarang nyamuk. Sayangnya, kesadaran ini baru timbul setelah ada korban,” kata dr. Asrum, akhir pekan lalu.

Mantan Direktur RSJ Sultra ini menambahkan, wilayah perkotaan merupakan zona merah penyebaran DBD. Katanya, hampir tak ada satupun kawasan yang bukan endemik. Makanya, kasus DBD di Kendari, Kolaka, Bau-bau, Muna, Konawe setiap tahunnya selalu tertinggi. Sementara daerah Buton Utara, Konawe Utara atau daerah pemekaran masih kurang. Makanya, kasus DBD di Wakatobi tahun lalu cukup mengejutkan. Apalagi selama ini Wakatobi bukan daerah endemik. Namun setelah dikroscek, pasien DBD berasal dari luar daerah.

“Kalau di kota, mungkin karena banyak tumpukan sampah dan pemukiman yang cukup padat. Makanya, cukup banyak wadah pengembangbiakan sedangkan di daerah masih kurang. Untuk kawasan, bisa dikatakan semuanya endemik. Sebab kasus DBD setiap kecamatan atau kelurahan berbeda-beda. Terkadang tahun ini, di kecamatan tertentu minin, namun tahun depan naik. Begitupun dengan kawasan lainnya. Hal ini lebih pada kesiapan warga mengantisipasi wabah DBD ini,” jelas mantan Kepala Dinkes Konawe ini.

Sebagai langkah antisipasi, Pemprov telah menginstruksi Dinkes kabupaten/kota segera melakukan upaya pencegahan. Seperti kegiatan sosialisasi dan penyuluhan melalui gerakan 3 M plus (Menguras, Mengubur, Menutup) dan gerakan Pembasmian Sarang Nyamuk (PSN). Di sisi lain, semua fasilitas kesehatan terutama Puskesmas telah disiagakan termasuk ketersediaan obat-obatan. Bukannya hanya itu, pihaknya juga akan melakukan foging dan membagikan bubuk abate.

“Khusus untuk kegiatan foging dan pembagian bubuk abate, Dinkes tidak melakukan pungutan. Masyarakat tinggal melaporkan hal itu ke pemerintah setempat dan Puskesmas, nanti Dinkes akan turun melakukan pengasapan. Jadi semuanya gratis, bila ada yang mencoba menarik pungutan jangan dilayani atau laporkan saja. Saya mengimbau warga rajin menguras berbagai genangan akibat hujan. Perilaku masyarakat harus lebih rajin jika tidak ingin terkena penyakit itu. Selama ini, banyak peristiwa penyebaran DBD akibat perilaku masyarakat itu sendiri,” saran Asrum. (b/mal)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top