Alamak… Tembakau Gorila Pun Dijual Online – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Alamak… Tembakau Gorila Pun Dijual Online

kendaripos.fajar.co.id KENDARI– Transaksi tembakau cap gorila dilakukan melalui media sosial (Medsos). BNN dan kepolisian harus melakukan pengawasan ekstra terhadap pengiriman narkotika golongan I itu. Kemajuan teknologi saat ini cukup memudahkan generasi Sulawesi Tenggara melakukan transaksi dan mendapatkan barang haram itu.

grafis tembakau gorila okee

Penggunaan tembakau gorila di Sultra diketahui setelah BNN Kota Kendari melakukan pemeriksaan terhadap 3 orang pelajar yang diduga mengonsumsi tembakau gorila. Peredaran tembakau gorila cukup cepat karena disinyalir melalui media sosial (Medsos). “Peredarannya kan melalui jejaring sosial. Proses transaksi (jual beli) barang tersebut menggunakan sistem online,” ungkap Andisak Ray, Humas BNNP Sultra, Minggu (15/1).

Andisak mengatakan, sesungguhnya keberadaan tembakau gorila tersebut terdengar sejak awal 2016. Namun saat itu masih belum tergolong sebagai narkotika, peredarannya pun masih terbatas. “Kemarin, melalui peraturan Kementerian Kesehatan yang baru, tembakau gorila sudah resmi ditetapkan masuk dalam golongan narkotika. Jadi, barang siapa yang mengedarkan dan menggunakannya, sudah dapat diproses hukum,” kata Andisak.

grafis tembakau gorilaaaaaaaaaaaaaa

Ditanyakan soal perkembangan temuan penggunaan tembakau gorila di Sultra Andisak tak dapat berkomentar banyak. “Pada prinsipnya, soal tembakau gorila ini kita tetap akan melakukan pengawasan terkait peredarannya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Resnarkoba Polda Sultra, Kombes Pol Sumarto mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pihak BNN baik provinsi maupun Kota Kendari terkait informasi peredaran tembakau gorila tersebut. “Kalau betul ada, pasti kita segera bergerak. Namun terlebih dahulu kita harus mengumpulkan informasi akurat,” katanya.

Pakar Hukum Sultra, Dr Kamaruddin MH menilai, fenomena temuan norkotika jenis baru tersebut merupkan penghancuran generasi yang sudah didesain sejak lama. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya temuan narkotika jenis baru hampir setiap tahunnya. Lolosnya narkotika jenis baru ke Sultra menandakan masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak terkait. Ia menegaskan bahwa narkotika termasuk dalam extraordinary crime, jadi proses pengawasan dan penindakannya juga tak boleh ada tawar menawar. “Narkotika membutuhkan pengawasan yang super ketat. Dalam penindakannya juga diharapkan aparat tidak tebang pilih,” jelas Dr Kamaruddin.

Efek jera yang dibuat oleh pemerintah untuk penggunan dan pengedar narkoba sudah sangat luar biasa. Namun, peredaran dan penggunaan narkotika tidak akan benar-benar tuntas jika seluruh elemen tidak bekerjasama. “Seluruh masyarakat harus bekerjasama,” ujar Dekan Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari itu.

Senada dengan Kamaruddin, Pengamat Sosial Suharty Roslan juga mengatakan kontrol sosial memiliki peran penting dalam pemberantasan narkotika di kalangan pelajar. Menurutnya ada dua faktor yakni faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi tingginya peredaran narkotika di tingkat pelajar. Pertama, pengawasan internal yakni pengawasan di lingkungan keluarga.

Lemahnya pengawasan orang tua sehingga banyak remaja yang terjerumus menggunakan narkotika. “Biasa karena orang tua sibuk jadi pengawasan anak-anaknya terbengkalai. Jadi, orang tua seharusnya sadar begitu pentingnya pengawasan terhadap anak. Sesibuk apapun orang tua tetap harus menyediakan waktu untuk bersama anak,” katanya.

Kemudian, faktor eksternal yakni lingkungan. Ia menjelaskan bahwa tak dapat dipungkiri perilaku anak itu tergantung likungan dimana si anak berada. “Untuk itu diperlukan kerjasama masyarakat dalam hal pengawasan terhadap anak dilingkuan. Kita tidak bisa mengandalkan aparat BNN atau pun kepolisian yang jumlahnya tidak memadai,” jelasnya.

Sekadar diketahui, tembakau gorila kini resmi menjadi produk yang tergolong narkotika. Kementerian kesehatan menetapkan zat yang terkandung dalam tembakau gorila sebagai narkotika golongan I. Dengan begitu, penegak hukum bisa mengganjar pengguna tembakau gorila hingga 4 tahun dan pengedar hingga 15 tahun penjara.

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek secara tegas mengatakan bahwa zat yang terkandung dalam tembakau gorila sudah dimasukkan ke dalam daftar narkotika. Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2/2017. Dalam regulasi tersebut, zat sintetis adiktif dalam tembakau gorila masuk daftar baru zat narkotika. ’’Itu masuk golongan I sesuai undang-undang narkotika,’’ ujarnya usai acara Public Expose Nusantara Sehat di Jakarta.

Sebelumnya, kasus tembakau gorila terungkap setelah ada insiden pilot Citilink Tekad Purna. ’’Kami terus evaluasi zat-zat adiktif baru yang beredar di Indonesia, karena teknologi pembuatan bahan-bahan tersebut terus berkembang,’’ tambah Sekretaris Jenderal Untung Suseno Sutarjo dalam kesempatan terpisah. Permenkes No 2/2017 sendiri sudah diundangkan pada 9 Januari 2017.

’’Untuk daftar narkotika kan sebenarnya sudah diatur dalam UU No 35/2009 tentang Narkotika. Tapi karena ada tambahan, kami terbitkan permenkes ini,’’ jelasnya. Disebutkan dalam permenkes baru, ganja sintetis merupakan zat kimia yang memiliki efek buruk bagi kesehatan, termasuk tembakau gorila. Selain tembakau gorila, ada 27 zat baru lainnya yang dimasukkan daftar golongan psikotropika.
(yog/jpg/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top