Pakar UHO: Serangan Fajar Bukan Jaminan Paslon Menang – Kendari Pos Online
Jalan Sehat

pariwara
Iklan Jalan Sehat Kenpos Iklan 10 Iklan 23
Politik

Pakar UHO: Serangan Fajar Bukan Jaminan Paslon Menang

Najib Husain

Najib Husain

kendaripos.fajar.co.id,KENDARIMoney politic (politik uang) atau yang lebih dikenal dengan istilah serangan fajar jelas-jelas salah satu pelanggaran Pilkada. Serangan fajar kerap menjadi alasan utama bagi pemilih untuk menentukan paslon yang akan dicoblos pada pemungutan suara. Dalam kondisi ini, paslon tajir diklaim berpeluang menang dengan kekuatan finansialnya.
Meski tahu konsekuensi money politic itu ada diranah pidana namun pemberi dan penerima seolah acuh. Bahkan, kecenderungan pemilih akan memilih figur bergantung kesiapan paslon memberikan uang sebagai imbalan jasa politik. Ungkapan akan memilih paslon yang ada serangan fajarnya masih kerap terdengar.

Kondisi tersebut menurut pakar komunikasi politik UHO, Dr.M.Najib Husain tipikal pemilih di Sultra berada dalam masa transisi. Dapat dikatakan belum modern namun bukan juga tradisional. Nah, kondisi seperti inilah yang punya ruang besar terjadinya politik transaksi antara calon kepala daerah dan pemilih. Salah satu transaksinya dengan uang (money politic).

“Sehingga, bila ada pertanyaan apakah kemungkinan money politic masih dominan di Pilkada, maka jawabannya dapat ditebak bahwa masih sangat berpotensi adanya politik uang. Kendati demikian, masyarakat juga tidak mengklaim bahwa paslon tajir akan memenangkan pertarungan Pilkada,” ujar Najib Husain, Selasa (13/12) kemarin.

Sebab, kenyataan di lapangan, tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkan momentum tersebut untuk mengeruk keuntungan semata, sekaligus menghukum paslon pelaku politik uang. Artinya, mereka hanya mengambil uangnya tapi tidak memilih paslon tersebut. “Akhirnya, uang habis namun suara tidak terkumpul sesuai harapan. Nah, itulah hukuman dari masyarakat kepada calon yang bermain uang dalam pilkada. Jadi, tidak selamanya paslon kaya bisa menang,” terangnya.

Terkait, belum adanya laporan money politic selama dua bulan kampanye berjalan, Najib Husain punya pemikiran sebaliknya. Menurut dosen Fisip UHO itu menegaskan politik uang sudah terjadi, namun tidak satupun pihak penerima atau pemberi yang menyampaikan  hal tersebut. Kemudian, untuk memberantas politik uang, dibutuhkan kesadaran masyarakat dan lahirnya pemilih-pemilih yang cerdas.

“Untuk mengatasi hal tersebut harus ditumbuhkan sikap penolakan money politic dan itu sudah terjadi pada beberapa daerah di Sultra, salah satunya di Konut. Kemudian, penyelenggara bisa lebih pro aktif melakukan pengawasan, tidak sekedar menunggu laporan. Namun turun lapangan mencari pelanggaran yang terjadi,” tandasnya. (helson)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top