Komnas HAM Monitor Kasus Dahlan – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Nasional

Komnas HAM Monitor Kasus Dahlan

kendaripos.fajar.co.id SURABAYA- Komnas HAM menaruh perhatian terhadap penanganan perkara korupsi yang dilakukan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim terhadap Dahlan Iskan. Mereka memantau adanya laporan pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan penyidik. “Kami sedang lihat perkembangan penanganan perkara DI (Dahlan Iskan). Termasuk juga melihat kondisi beliau,” kata Komisioner Komnas HAM Siane Indriani dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Surabaya kemarin (8/12).

download-13

Siane memang sempat menemui Dahlan. Dia menanyakan apa saja hak-haknya yang sempat diabaikan oleh penyidik Kejati Jatim. Siane mengaku sempat menerima laporan bahwa penanganan perkara Dahlan Iskan dilakukan semena-mena. Hak-hak Dahlan sebagai tersangka sempat diabaikan. Misalnya, jaksa tidak mempertimbangkan kondisi sakit Dahlan Iskan saat melakukan penahanan. Juga, ketika Dahlan sakit di rumah sakit, ada jaksa yang memaksa menemuinya malam-malam.

“Kami tidak mencampuri proses hukumnya. Tapi, hanya memantau untuk memastikan dipenuhinya hak-hak DI sebagai tersangka,” ujar perempuan yang mengawali karir sebagai guru fisika itu. Pemantauan juga dilakukan agar penanganan perkara berjalan fair dan tidak terjadi kriminalisasi.

Menurut dia, penanganan perkara memang memiliki mekanisme. Tapi, aspek-aspek kemanusiaan tetap harus diperhatikan oleh penegak hukum. Siane sangat menyayangkan ketika kejati sempat memaksa menahan Dahlan. Padahal, saat itu risiko yang dihadapi Dahlan adalah nyawa.

Sebagaimana diketahui, ketika ditahan di Rumah Tahanan Medaeng Kamis malam (27/10), nyawa Dahlan Iskan berada dalam bahaya. Sebab, setelah menjalani transplantasi hati pada 6 Agustus 2007, segala sesuatu yang dikonsumsi maupun barang yang berada di sekitar Dahlan harus memenuhi standar tertentu. Sekali standar tersebut dilanggar, kesehatannya berada dalam bahaya besar.

Sebagaimana diterangkan dalam surat Sun Xiaoye, ahli di Departemen Transplantasi Tianjin First Centre Hospital (TFCH), Dahlan harus menjalani sekian banyak medical follow-up untuk menjaga badannya tetap sehat. Sebab, setiap pasien transplantasi hati memiliki risiko yang sangat tinggi untuk mengalami infeksi.

Bukan hanya infeksi, setiap orang dengan riwayat transplantasi organ juga memiliki risiko penolakan. Untuk menanggulangi risiko penolakan itu, setiap pasien transplantasi organ harus minum obat imunosupresan. Bila tidak, maka daya tahan tubuh seseorang menurun. Karena itu, pasien transplantasi harus hidup serbasteril. Mulai makanan, pakaian, tempat mandi, hingga lingkungan.

Dengan pemicu sedikit saja, infeksi bisa muncul. ”Apabila infeksi serius terjadi, itu bisa menyebabkan pasien harus dilarikan ke ICU. Dalam kondisi seperti itu, sangat sulit menyelamatkan pasien,” jelas Sun Xiaoye dalam suratnya.
Di dalam penjara, tentu saja kondisi yang dibutuhkan Dahlan itu sangat sulit dipenuhi. Berkumpul dengan banyak orang, risiko dia tertulari penyakit orang-orang yang berada di dekatnya sangat besar. Belum lagi, Dahlan harus menjalani serangkaian tes untuk memantau kondisi kesehatannya.

Dalam kondisi sehat pun, Dahlan harus mengecek tekanan darahnya dua kali setiap hari. Kadar gula darah juga harus senantiasa dipantau. Sebab, obat-obatan yang dikonsumsi bisa meningkatkan kadar gula darah.  Setiap bulan dia juga harus menjalani pemeriksaan ginjal untuk memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Itu perlu dilakukan karena setiap hari dia harus meminum obat. (bjg/tel/rul/c6)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top