Polisi Simpulkan Honorer Puskesmas Tewas Gantung Diri, Keluarga Tidak Percaya – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Hukum & Kriminal

Polisi Simpulkan Honorer Puskesmas Tewas Gantung Diri, Keluarga Tidak Percaya

Alias (kanan) kakak korban yang meminta polisi kembali mengusut kejanggalan penyebab meninggalnya sang adik. Helson Mandala Putra/Kendari Pos

Alias (kanan) kakak korban yang meminta polisi kembali mengusut kejanggalan penyebab meninggalnya sang adik.
Helson Mandala Putra/Kendari Pos

kendaripos.fajar.co.id, KENDARI– Kematian Darmawati (40), warga Desa Larui, Kecamatan Porehu, Kabupaten Kolaka Utara pada Kamis (3/11) pukul 06.30 Wita masih menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga. Alias (44), kakak kandung almarhumah mengaku tidak puas dengan kesimpulan pihak Polres Kolaka Utara yang menyatakan adiknya meninggal dunia karena bunuh diri di kamar kosnya. Pihak keluarga menduga, tenaga honorer di Puskesmas Lasusua itu menghembuskan nafas terakhir karena dibunuh.
Alias mengungkapkan, ada beberapa kejanggalan dalam peristiwa yang menimpa adiknya tersebut. Mulai dari posisinya yang tidak wajar, karena tempat tali terikat cukup rendah, sehingga bila korban berdiri tak akan memberi efek berarti. “Bila adik saya juga bunuh diri maka tidak mungkin ditemukan dalam posisi duduk. Keadaan di kamarnya juga cukup rapi, kursi atau meja tidak ada yang bergeser. Kalau bunuh diri pasti kakinya menendang kursi karena refleks,” asumsinya, Kamis (8/12).

Alasan lainnya, korban tidak menunjukan ciri orang bunuh diri karena lidah tak menjulur keluar, tanpa kotoran dan cairan yang keluar dari tubuh. “Saat itu adik saya juga sudah bersiap berangkat menuju Palopo dengan keadaan rapi, sudah berdandan, pakaian dalam tas siap serta uang tunai Rp 3.354.000 di dompet. Almarhumah juga diketahui tidak sedang bertengkar dengan siapapun. Dia tidak meninggalkan catatan kematian, baik di kertas, di handphone atau media sosial. Kalau niat bunuh diri, pasti ada pesan,” pendapat Alias lagi.
Pihak keluarga juga menyesalkan tindakan warga yang langsung membuka ikatan di leher korban sebelum polisi datang. Sehingga polisi kesulitan mengambil keterangan dari tempat kejadian perkara. “Saya rasa ada yang janggal dengan kematiannya, karena kami keluarga lihat kehidupannya normal, tidak ada tanda depresi. Kami minta polisi mengusut lebih dalam peristiwa tersebut karena banyak kejanggalan,” desaknya.

Darmawati pertama kali ditemukan pemilik tempatnya indekos di Kelurahan Lasusua. Saat itu, Rabania (45), pemilik kontakan mengetuk pintu kamar korban untuk membangunkan, namun tak ada respon. Karena curiga, ia bersama penyewa kamar lainnya lalu mendobrak pintu dan melihat Darmawati sudah tak bernyawa lagi. Pihak Reskrim Polres Kolaka Utara lalu datang dan membawa korban ke rumah sakit untuk kepentingan visum.
Kasatreskrim Polres Kolut, Iptu Indah Puspita yang dikonfirmasi terkait keraguan pihak keluarga memaklumi asumsi-asumsi yang muncul tersebut. Namun Dari beberapa penjelasan sumber termasuk dokter visum yang ia terima terkait peristiwa tersebut dikatakan, kejanggalan yang diungkapkan Alias tidak harus demikian. “Jika posisi tali yang melilit di leher tidak menekan tulang lidah, tidak akan keluar. Kalau terkait kotoran yang keluar, memang itu salah satu ciri menurut dokter,” paparnya.

Sedangkan menyangkut posisi tergantung namun kaki rapat di lantai, juga dikatakan bukan hal baru karena pernah ada kejadian serupa. Bahkan, menggantung diri di gorden jendela pun bisa. Kemungkinannya, bisa jadi korban yang naik ke kursi melompat namun diupayakan kakinya ditekuk agar tali lebih dahulu terhentak di lehernya sebelum kaki menyentuh tanah. “Tapi memang kita sempat kesulitan olah TKP karena posisi korban sudah dipindahkan oleh para saksi. Kita tidak sempat melihat posisi pastinya seperti apa terkecuali mengandalkan keterangan saksi yang pertama menemukannya,” ungkap Indah.

Dari penjelasan dokter yang melakukan visum, 90 sampai 5 persen di tubuh korban yang tidak ada tanda-tanda kekerasan. Makanya disimpulkan murni gantung diri. Dari pemeriksaan lokasi kamar nyaris tidak ada celah bagi pelaku untuk meloloskan diri apabila melakukan pembunuhan. Karena pintu dan jendela terkunci dari dalam. Belum lagi rentang waktu korban yang masih bertemu dengan tetangganya dan kemudian ditemukan meninggal, berlangsung singkat. “Kita sudah analisis kemungkinan penyebabnya,” kata mantan Kapolsek Ranomeeto Polres Kendari itu. Namun untuk lebih jelas, Indah berjanji akan meminta keterangan lengkap dan formal dari dokter untuk diberikan pada keluarga korban. Termasuk hasil olah TKP hingga keterangan para saksi dan fakta pendukung lainnya. (hel/rus)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top