Wow, Banyak Janda di Kampung Ini, Penyebabnya …. – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Nasional

Wow, Banyak Janda di Kampung Ini, Penyebabnya ….

kendaripos.fajar.co.id BONTANG –Peningkatan angka perceraian di Bontang bisa dikatakan yang paling tinggi. Per tahunnya jumlah Janda disini tidak pernah menyusut dari 300 orang, selalu bertambah. Penyebabnya masih ‘lagu lama’, faktor ekonomi yang paling mendasar.

psk1

Dari data yang dilansir Pengadilan Agama (PA), di sepanjang tahun ini saja sudah ada 349 kasus (selengkapnya lihat grafis). Ternyata 60 persen dari alasan perceraian adalah faktor ekonomi. Ada dua alasan dominan yang melatarbelakangi gugatan cerai. Yakni istri merasa kurang nafkah, ataupun istri dominan ingin menguasai keuangan dalam keluarga.

Humas PA Kelas II Bontang, Anton Taufiq Hadiyanto mengatakan, selain faktor ekonomi perceraian juga dipicu alasan lain. Beberapa diantaranya adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang mencapai 20%, sisanya disebabkan persoalan beragam, mulai dari penggunaan narkoba, selingkuh, bahkan langsung main kabur dari rumah.

“Tapi dalam satu perkara cerai ada beberapa penyebab. Tidak hanya satu sebab saja. Salah satu contohnya ada cerai karena tiga hal. KDRT, mengkonsumsi obat terlarang, dan tidak memberi nafkah,” tutur dia, kemarin (25/10).

Soal ekonomi paling dominan itu, antara 50-60%. Anton menjelaskan kasus perceraian tak hanya menyasar rumah tangga ekonomi lemah. Akan tetapi juga menyasar rumah tangga menengah ke atas. Ekonomi lemah biasanya akibat dari suami berhenti kerja dan kurang memberi nafkah per bulan.

“Suami awalnya kerja lalu tidak lagi. Atau suami punya penghasilan tapi ada kebutuhan, sehingga memberi uang tidak layak. Kadang sebulan hanya memberi Rp 200 ribu,” jelas dia.

Sementara rumah tangga menengah ke atas, sambung dia, cerai diakibatkan keinginan istri untuk memegang kendali keuangan. Bahkan Anton mengatakan, kehendak istri mengelolah keuangan menjadi penyebab perceraian. Yang muaranya, perselingkuhan dari sang istri akibat mendapat kelimpahan uang.

“Terutama masalah pengelolaan keuangan. Setelah diberikan, ada perselingkuhan dari pihak istri, lalu suami mengajukan cerai. Jadi ekonomi masuk, selingkuh juga masuk menjadi penyebab cerai,” terang dia.

Kata Anton, perceraian justru didominasi rumah tangga menengah ke atas. Pasalnya, rata-rata permohonan atau gugatan cerai ditangguhkan sendiri. Tanpa proses pladeo atau berperkara di pengadilan secara  cuma-cuma (gratis).

“Yang mengajukan cerai tahun ini hampir dua kali lipatnya sang istri. Bahkan ada juga yang suaminya tidak tahu apa-apa, tiba-tiba digugat cerai. Makanya melayangkan keberatan,” pungkas Anton. (fajar/prokal/pre)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top