KPK Turun Tangan Selidiki Dugaan Suap Pengadil Jessica – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

KPK Turun Tangan Selidiki Dugaan Suap Pengadil Jessica

Jessika dan para majelis hakim. FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Jessika dan para majelis hakim. FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

kendaripos.fajar.co.id,JAKARTA—Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelidiki kasus dugaan suap yang menyeret nama Partahi Tulus Hutapea. Dia merupakan salah seorang hakim dalam sidang tewasnya Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso. Partahi diduga menerima suap SGD 28 ribu (setara Rp 280 juta) dari pihak yang beperkara.

Dugaan suap itu terungkap saat sidang pembacaan dakwaan dengan terdakwa Ahmad Yani di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu  (12/10). Ahmad Yani merupakan anak buah pengacara Raoul Adhitya Wiranata Kusumah, penyuap Panitera PN Jakarta Pusat Muhammad Santoso dalam perkara perdata.

Menurut jaksa, Ahmad Yani turut melakukan perbuatan berupa memberi atau menjanjikan sesuatu Yaitu, uang SGD 28 ribu kepada Partahi (hakim ketua) dan Casmaya (hakim anggota) melalui perantara, Muhammad Santoso.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, fakta persidangan itu bisa menjadi bahan kajian bagi penyidik untuk mendalami kasus tersebut. “Akan kami pelajari,” katanya. Komisi antirasuah tidak langsung memeriksa Partahi dan Casmaya. Jika memang dibutuhkan, dua hakim itu akan dimintai keterangan oleh penyidik.

KPK akan berkoordinasi dengan Mahkamah Agung (MA). Sebab, MA merupakan lembaga yang me­naungi semua hakim. Juru Bicara MA Suhadi menyatakan, kasus dugaan suap terhadap Partahi dan Casmaya akan ditangani badan pengawas (bawas). Sanksi bagi keduanya bergantung pada hasil pemeriksaan. Jika ditetapkan sebagai tersangka, dua hakim itu bisa diberhentikan sementara. Sebelum mereka menjadi tersangka, bawas-lah yang berwenang melakukan pemeriksaan. Kalau mereka hanya melanggar kode etik, tentu akan ada sanksi tersendiri. Suhadi menegaskan, MA serius menangani perkara tersebut.

Sementara itu, penasihat hukum Jessica melanjutkan pembacaan pleidoi atau nota pembelaan di PN Jakarta Pusat kemarin. Resume pleidoi setebal 245 dibacakan tuntas. Kesimpulan pleidoi tersebut ada­lah tuntutan jaksa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

Pleidoi menyoroti pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang harus memiliki empat unsur. Yakni, unsur barang siapa, dengan sengaja, direncanakan terlebih dahulu, dan menghilangkan nyawa orang lain. “Keempatnya tidak terpenuhi,” kata Otto Hasibuan, ketua tim pengacara Jessica.

Otto juga menyoroti tuntutan jaksa yang menyebut Jessica mengambil 5 gram sianida dari dalam tas. Padahal, lanjut dia, tidak pernah terungkap fakta tersebut. “Perbuatan jaksa yang memasukkan fakta 5 gram dalam tuntutannya adalah tidak berdasar hukum, manipulatif, dan harus ditolak,” tegasnya.

Mengenai unsur direncanakan terlebih dahulu, Otto menyebut jaksa tidak bisa membuktikan. Sebab, tidak ada satu pun saksi maupun alat bukti yang menerangkan Jessica telah mencari, menyimpan, maupun mempersiapkan racun sianida. Sianida tidak ditemukan di tubuh Mirna. Tujuh puluh menit setelah korban meninggal, tidak ditemukan sianida di cairan lambung yang diambil.

Otto optimistis majelis hakim melihat fakta yang telah disampaikan. “Sangat yakin,” katanya. Di sisi lain, jaksa Ardito Muwardi menyiapkan replik yang salah satunya membahas asal mula 5 gram sianida yang disebutkan. “Itu kesimpulan kami,” ujarnya.

Replik akan dibacakan Senin (17/10). Lalu, duplik dari kuasa hukum pada 20 Oktober. Sidang vonis akan diatur pada 21-26 Oktober. (lum/nug/c10/ca)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top