Eks Model Cantik Ini Sanggah Analisis Bang Hotman di Kasus Jessica – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Eks Model Cantik Ini Sanggah Analisis Bang Hotman di Kasus Jessica

Nadi Saphira. Foto: dokumen JPNN.Com

Nadi Saphira. Foto: dokumen JPNN.Com

kendaripos.fajar.co.id,JAKARTA – Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea belum lama ini menyodorkan analisisnya tentang rekaman CCTV dari Cafe Olivier yang dihadirkan pada persidangan atas Jessica Kumala Wongso merupakan barang bukti ilegal.

Merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam uji materi atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2011 tentang  Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang diajukan Setya Novanto, maka Hotman menganggap dokumen atau data elektronik yang sah untuk dijadikan alat bukti hanya yang direkam oleh aparat penegak hukum.

Namun, praktisi hukum Nadia Saphira dari kantor Lucas & Partners Law Firm menganggap Hotman telah membuat analisis keliru. Ia menegaskan, perkara pembunuhan Wayan Mirna Salihin oleh terdakwa Jessica berbeda dengan kasus rekaman pembicaraan Setya Novanto dalam kasus Papa Minta Saham.

Menurut Nadia, dasar permohonan uji materi  Novanto berawal dari rekaman pembicaraan Papa Minta Saham yang dilakukan secara melawan hukum, melanggar privasi dan melanggar hak asasi seseorang. Namun, rekaman itu dijadikan alat bukti untuk mengkriminalisasi Novanto.

Karenanya Nadia meminta Hotman membaca Putusan MK Nomor 20/PUU_XIV/2016 tanggal 7 September 2016 secara menyeluruh supaya jelas.  “Jika suatu putusan dibaca sebagian saja, tentu akan menghasilkan penafsiran yang keliru dan sesatnya pemahaman hukum,” ujar Nadia di Jakarta, Sabtu (8/10).

Dia mengatakan, Hotman mestinya mencermati penjelasan pasal 31 ayat (1) UU ITE. Intinya, penyadapan adalah kegiatan mendengarkan, merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau mencatat transmisi informasi elektronik atau dokumen elektronik yang tidak bersifat publik.

Sedangkan dalam kasus tewasnya Mirna, substansinya berbeda dibandingkan perkara Novanto. Nadia menegaskan, CCTV di Cafe Olivier adalah bersifat publik sehingga tidak melanggar privasi maupun hak asasi siapa pun.

“Oleh karenanya, CCTV tersebut jelas merupakan alat bukti yang sah dan harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan oleh majelis hakim pada perkara pembunuhan Mirna,” paparnya.(boy/jpnn)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top