Sidang Praperadilan NA, Ketua Tim Penyidik KPK Dianggap Cacat Moral – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

Sidang Praperadilan NA, Ketua Tim Penyidik KPK Dianggap Cacat Moral

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan .

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan .

kendaripos.fajar.co.id,KENDARI—Sidang praperadilan yang diajukan Nur Alam terhadap KPK kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jumat (7/10). Sidang keempat kalinya ini mendengarkan keterangan saksi ahli yang dihadirkan pihak KPK, yakni Adnan Pasalija dan Anak Agung Oka Mahendra.

Sidang kali ini cukup banyak menggali  terkait status Ketua Tim Penyidik KPK Novel Baswedan. Sidang didahului pertanyaan kuasa hukum NA terkait keabsahan status penyidik KPK yang direkrut melalui jalur independent dan keterkaitannya dengan pasal 39 ayat 2 UU KPK.

Oleh Adnan dan Anak Agung Oka Mahendra  disebutkan bahwa, pengangkatan penyidik merupakan wewenang dari KPK. Hal itu sesuai dengan UU KPK. “Boleh saja asal memiliki keahlian dibidangnya,” kata saksi ahli.

Tapi ketika Maqdir menanyakan pada ahli KPK terkait syarat moral bagi pegawai KPK, penjelasan saksi ahli KPK ternyata menyudutkan posisi  Noval Baswedan. “Jika seorang pegawai KPK menjadi tersangka apakah dia masih bisa menjalankan tugasnya sebagai pegawai KPK?” kejar Maqdir.

Terkait hal itu, ahli KPK mengaku harus fair dalam memberikan keterangan di depan persidangan. “Semua penegak hukum harus memenuhi syarat moral. Jika memang sudah tak memenuhi syarat moral, maka pegawai tersebut harus diberhentikan sementara untuk menuntaskan syarat moral tadi karena itu sangat penting,” kata Anak Agung.

Terkait jalannya persidangan yang menghadirkan ahli KPK, kuasa hukum NA, Maqdir Ismail mengaku puas. Keterangan ahli dianggapnya menguntungkan pihaknya.  Maqdir berpendapat, Novel sejatinya sudah tidak pantas untuk menyandang status sebagai penyidik KPK. Apalagi dalam kasus yang menjerat Nur Alam ini, Novel berstatus sebagai ketua tim penyidik.

Alasannya, Novel Baswedan sendiri pernah disangka membunuh tersangka pencuri sarang burung wallet pada tahun 2004 silam. Saat itu, Novel masih menjabat sebagai Kepala Satuan Reseres dan Kriminal Polres Kota Bengkulu. Novel pun sempat menjalani sidang dan menyandang status terdakwa.

Dari dua saksi ahli yang dihadirkan, lanjut Maqdir, diperkuat oleh pernyataan Anak Agung Oka Mahendra dimana saksi tersebut mengatakan bahwa Novel sudah tidak layak menjadi penyidik karena sudah cacat, baik secara moral maupun hukum.

“Apalagi yang terakhir tadi ahli dari Pak Anak Agung mengatakan bahwa cacat moral saja itu tidak bisa. Jadi kalau kita mau menegakkan hukum kalau secara moral saja sudah tidak memenuhi syarat, terlebih lagi syarat hukum itu tidak layak. Dalam hal ini menurut ahli, Novel tidak layak karena tidak memenuhi syarat moral maupun hukum,” tegasnya. (yogi/hrm/fajar)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top