Badai Chaba Pemicu Cuaca Buruk di Sultra – Kendari Pos –
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Metro Kendari

Badai Chaba Pemicu Cuaca Buruk di Sultra

cuaca

kendaripos.fajar.co.id , KENDARI– Memasuki bulan Oktober ini, intensitas curah hujan mengalami peningkatan. Hujan disertai petir dan angin kencang menerjang sejumlah wilayah Sultra, termasuk Kendari. Cuaca buruk ini dipengaruhi badai tropis Chaba yang terjadi di Laut Cina Selatan. Siklon tropis ini memicu ganguan shearline. Adanya belokan massa udara di atas wilayah atmosfir menyebabkan terjadinya penumpukan awan konvektif. Peristiwa alam ini memicu pertumbuhan awan Cumulusnimbus.

Bukan hanya gangguan shearline, meningkatnya curah hujan dipengaruhi kondisi suhu muka laut perairan Sultra yang menghangat. Data Sea Surface Temp (SST), menunjukan suhu mencapai 29 derajat celcius. Hal ini menambah suplai massa udara basah di atmosfir. Akibatnya, sebagian wilayah Sultra berpotensi diguyur hujan dan mengalami cuaca buruk. Berdasarkan pengamatan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi ini diprediksi terjadi hingga dua hari kedepan.

“Dari hasil pemantuan melalui citra satelit, kelembaban udara pada lapisan 850 milibar (mb) dan 700 mb menunjukan nilai 70 hingga 90 persen. Kondisi ini menggambarkan keberadaan uap air cukup banyak. Penumpukan uap air inilah yang mendukung tumbuhnya awan hujan. Makanya, beberapa daerah di Sultra terjadi hujan lebat,” jelas Aris Yunatas, Kasie Observasi dan Informasi Stasion Metereologi Maritim Kendari, Minggu (2/10).

Jika melihat kondisi atmosfir, delapan daerah di Sultra berpotensi diguyur hujan, mulai dari Kendari, Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Kolaka Utara, Kolaka Timur, Muna dan Buton. Apalagi terjadi anomali out going long wave radiation (OLR) di atas wilayah Indonesia yang bernilai negatif (MJO aktif). Pergerakan ini akan berdampak pada cuaca di wilayah indonesia terutama di Sultra. Kelembaban udara yang tinggi lantaran suhu muka laut cukup hangat sehingga memicu curah hujan.

“Meskipun meningkat, hujan tidak terjadi secara terus menerus. Bila merujuk pada analisis atmosfir, hujan turun menjelang sore dan malam hari. Namun pergerakan awan mulai terlihat pada siang hari,” kata Aris. Cuaca buruk tidak hanya terjadi di wilayah daratan katanya, namun juga diperairan. Siklon tropis Chaba memicu gelombang tinggi. Arah angin yang bertiup dari timur berkisar antara 10 sampai 37 kilometer perjam. Di beberapa wilayah perairan, potensi gelombang antara 2,5 hingga 4 meter. Untuk itulah, pengguna dan operator jasa transportasi laut, nelayan dan masyarakat yang berlibur di daerah pesisir lebih waspada.

“Masyarakat dihimbau meningkatkan kewaspadaan. Sebab cuaca ini berpotensi menyebabkan banjir, tanah longsor, genangan air hingga pohon tumbang. Di wilayah perairan, gelombang tinggi bisa menyebabkan musibah kapal karam. Kalau cuaca tidak memungkinan, jangan memaksakan keberangkatan,” warning Aris. Namun fenomena alam ini kata prakirawan cuaca, tidak berlangsung lama. Badai tropis Chaba misalnya, hanya bertahan beberapa hari saja. Saat mendekati wilayah daratan, badainya semakin mengecil. Begitupun dengan keberadaan suhu muka laut. Apalagi secara global, Sultra masih berada periode musim kemarau. (mal)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top