Bidan Cantik Korban Pembunuhan Dimakamkan di Konsel, Harma Dikenal Ramah – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
HEADLINE NEWS

Bidan Cantik Korban Pembunuhan Dimakamkan di Konsel, Harma Dikenal Ramah

Foto Bidan Arma yang diambil di akun face boooknya

Foto Bidan Arma yang diambil di akun face boooknya

kendaripos.fajar.co.id,ANDOOLO—Kesedihan mendalam masih dirasakan keluarga bidan cantik, Harmawati hingga saat ini. Meski jasadnya sudah kebumikan, kepergian wanita yang ditemukan terbunuh di Kajuara, Bone, Senin (15/8) lalu itu masih menyisakan duka bagi kerabat gadis kelahiran 30 Juli 1995 itu di Kelurahan Tinanggea. Apalagi, Harma ternyata adalah anak tunggal dari pasangan (alm) Dolka dan Hasia (61).

Ibu gadis itu kini benar-benar terpukul. Anak semata wayang yang jadi tumpuan hidupnya kini sudah pergi. Dari pantauan Kendari Pos di rumah duka, suasana haru terus terpancar. Beberapa kerabat dan tetangga yang berada di rumah Harma seperti tak percaya bila bidan cantik itu kini sudah tiada, dan pergi dengan tragis. Almarhumah dikenal baik di kampung itu yang kini meninggalkan banyak kesan keramahannya di rumpun keluarga.

Seorang kerabat Harma bernama Rahmawati menceritakan, terakhir sebelum meninggal Harma sapaan akrab almarhumah Harmawati, sempat kontak BBM-man dengan adik sepupunya itu. “Terakhir tanggal 7 Agustus saya masih sempat BBM-man tanya kabar, namun setelah itu tidak ada lagi kontak hingga sampai kami dengar dia sudah meninggal,” kenangnya dengan sedih.

BACA JUGA :  Bidan Cantik Asal Konsel Tewas Dibunuh di Bone, Pelakunya Oknum Polisi

Sementara itu, Siti Hawania Anwar yang mengaku saudara satu bapak dengan Harma mengungkapkan bahwa ia terakhir kali mendapat kontak dari almarhum pada tanggal 11 Agustus 2016. “Tanggal 11 itu terakhir dia telponan dengan mama (Siti Hasia red). Sekitar pukul 21.00 Wita kemudian sudah tidak aktif nomornya sampai kami dengar ia sudah meninggal,” ceritanya.

Dengan diliputi kesedihan, Hawania menunjukan foto adiknya yang terpajang di dinding sambil menjelaskan perjalanan studi hingga ia diwisuda di Akademi Kebidanan Syekh Yusuf Gowa pada tanggal 17 Oktober 2015 lalu. “Pas selesai wisuda dia pernah kerja di perusahan Bosowa Makasar selama tiga bulan,” kata Hawania sambil menatap sedih foto wisuda Harmawati adiknya.

Dikatakannya, terakhir kali bertemu dengan adiknya yakni saat Idul Fitri, Juli 2016 lalu. Saat itu kata Hawania, ia merasakan ada yang janggal dari tingkah adiknya itu. “Saat itu saya baru pulang dari Kendari, pas di depan rumah, dia sedang menunggu mobil mau ke bandara untuk balik ke Makassar. Kita sempat berfoto bersama, bahkan dia peluk erat saya sambil bersedih tidak pada biasanya,” kenangnya sambil meneteskan air mata.

Secara terpisah, paman korban bernama Rahman meminta kepada pelaku untuk mempertanggungjawabkan kematian keponakannya itu. “Informasi yang kami dapat, itu pelaku sudah serahkan diri dan sudah ceritakan kronloginya. Jadi itu perjalanan antara Makasar- Bone tanggal 11 Agustus malam. Hasil keterangan BAP pelaku, Katanya di dalam perjalan ada cekcok, kemungkinan disitulah dia habisi nyawa keponakan saya,” katanya via selular.

BACA JUGA :  Polisi Terus Dalami Motif Pembunuhan Bidan Cantik

Pelaku tersebut lanjut Rahman baru kenal Harmawati, 6 Agustus 2016 lalu. Namun apapun ceritanya mengenai kematian itu, pihaknya tidak terlalu pusingkan. Dirinya hanya mempertanyakan kenapa keponakannya dibunuh. “Sekarang yang kami tuntut kenapa dia bisa dibunuh, kenapa dia tewas. Pengorbanan orang tuanya untuk dia sekolah berat sekali. Bahkan dia bilang kalau nyawa saya harus melayang saya siap yang penting anak saya sekolah. Karena dia adalah harapan satu-satunya,” ucapnya.

Sosok Harmawati, korban pembunuhan yang dilakukan pacarnya sendiri tak hanya dikenal baik di kampung halamannya, di lingkungan tempat tinggalnya di Makassar pun dikenal suka berbagi. Bukan hanya teman satu kosnya yang menikmati kebaikannya tersebut, anak kecil yang sering main di sekitaran pondoknya juga mendapatkan rezeki yang sama.

Meski terbilang sedikit tertutup dengan penghuni lainnya, namun Armha bisa dikatakan murah senyum. Dia tidak segan melemparkan senyumnya kepada orang yang dia ketemui di jalan. Penjaga Pondok Orange, Harfan Syaiful mengatakan korban terbilang sedikit tertutup dengan penghuni lainnya, namun dia murah senyum. Meski ketemu di luar dengan penghuni pondokan lain dia selalu senyum, entah dia tahu namanya atau tidak.
“Bahkan kepada teman-teman saya yang sering datang ke tempat ini (Pondok Orange) tetap dia senyum dan sesekali menyapanya. Yang paling saya kenang dia korban adalah dia sering membagikan makanan meski itu lauk-pauk atau sayur yang dia buatnya sendiri,” ucap Harfah dengan nada rendah, Kamis (18/8/2016).

BACA JUGA :  BIADAB! Muhlis Ternyata Sudah Lamar Gadis Lain, Bidan Cantik Hamil pun Dibunuh

Harfan juga menuturkan beberapa anak kecil yang pernah dia beri makanan juga datang bertanya kepada dirinya terkait dengan kabar kematian Amha (alm). “Ka katanya mati ki’ kakak yang sering kasihki roti itu”. “Jadi saya katakan saja iya. Mau diapa ditutup mereka semua sudah tahu,” ungkapnya

Sementara itu, Kapolsek Tinanggea, Iptu Gusti Komang Sulastra mengungkapkan, jasad Harma tiba di Tinanggea, Rabu (17/8) malam sekitar pukul 20.00 Wita. Jasadnya diangkut menggunakan mobil ambulance RSUD Tenriawaru, Bone. Sekitar pukul 20.25 Wita, jenazah langsung disalatkan dan dimakamkan di TPU Kelurahan Tinanggea. Ada sekitar 300-san orang yang mengantar jasad Harmawati ke penguburan.(kamal/fajar)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top