Pengawas Kemenaker Pantau TKA di Sultra – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Sulawesi Tenggara

Pengawas Kemenaker Pantau TKA di Sultra

kendaripos.fajar.co.id,KENDARI—Isu masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) di Sultra dalam jumlah besar menarik perhatian pemerintah pusat. Akhir pekan lalu, tim pengawasan dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) secara mendadak berkunjung di Sultra. Kawasan pertambangan menjadi lokasi pemantauan. Apalagi beberapa perusahaan tambang asal Tiongkok di Sultra tengah membangun pabrik pengolahan.

Indikasi adanya serbuan pekerja asal Tiongkok di Sultra pun terlihat. Dari hasil operasi, jumlah TKA yang berada di Sultra melebihi data yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sultra yang hanya 98 pekerja. Data yang diperoleh baru berasal di kawasan industri Morosi di Konawe. Padahal aktivitas pembangunan pabrik di beberapa daerah masih berlangsung. Seperti di Kolaka dan Konawe Selatan.

“Ternyata pemerintah pusat cukup konsen dengan keberadaan TKA di Sultra. Bersama provinsi dan kabupaten Konawe, tim dari kementerian telah melakukan kunjungan di beberapa lokasi. Termasuk kawasan industri Morosi yang selama ini diduga telah dibanjiri TKA. Dari hasil pendataan, jumlah TKA cukup banyak. Berdasarkan data PT Virtue Dragon, Daftar Rencana Penggunaan Pekerja Asing (DRPP) sebanyak 319 orang. Namun yang baru mengantongi Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (Imta) sebanyak 200 pekerja,” beber Kabid Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja Disnakertrans Sultra, Makner Sinaga di ruang kerjanya, Jumat (29/7).

Hanya saja, tim belum sempat mengkroscek lebih lanjut. Apalagi ada beberapa lokasi yang masih akan dikunjungi. Untuk itulah, dalam waktu dekat tim dari provinsi akan turun ke lokasi. Tidak hanya PT Virtue Dragon, namun aktivitas perusahaan tambang lain. Sebab ada beberapa perusahaan di daerah itu tengah membangun pabrik smelter. Data awal yang telah dihimpun akan dikroscek satu persatu. Bila ada TKA yang tidak memiliki Imta, ia berjanji akan merekomendasikan pendeportasian ke Imigrasi.

“Kalau kami temukan di lapangan, kami pasti akan tindaki. Tapi kalau masih di penginapan, tentunya tidak bisa. Siapa tahu, izin kerjanya bukan di Sultra. Apalagi Sultra kerap dijadikan daerah transit sebelum ke Sulawesi Tengah atau Morowali,” ujar Sekretaris Dewan Pengupahan Provinsi (DPP) Sultra ini.

Meskipun jumlah TKA dipastikan lebih besar dari data yang dimiliki pemerintah provinsi, namun ia memprediksi jumlahnya tidak sebesar dengan isu yang beredar. Sebab hanya beberapa daerah di Sultra yang tengah membangun pabrik. Khusus di Konsel jumlahnya sudah mulai berkurang. Pasalnya, pembangunan pabrik smelter tengah vakum. Termasuk daerah tambang lainnya seperti Konawe Utara, Kolaka Utara dan Bombana. Saat ini, hanya Konawe dan Kolaka yang tengah membangun smelter.

“Dari hasil pertemuan bersama utusan DPD RI dua hari lalu, isu-isu yang berkembang ternyata tidak didasarkan pada fakta. Data yang diperoleh hanya pengakuan orang perorang. Misalnya saja, data dari security. Itupun hanya perkiraan. Apalagi tidak semua daerah tambang dibanjiri TKA. Kalau tidak ada kegiatan, buat apa pekerja asing ke sana,” pungkasnya. (Amal)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top