4 Kelainan Mata Penyebab Ambliopia yang Perlu Diketahui – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Kesehatan

4 Kelainan Mata Penyebab Ambliopia yang Perlu Diketahui

4 Penyebab Ambliopia yang Perlu Diketahui. fOTO:IST

4 Penyebab Ambliopia yang Perlu Diketahui. fOTO:IST

kendaripos.fajar.co.id—Menurut hasil penelitian, penyebab gangguan ambliopia adalah karena otak hanya memproses informasi visual/penglihatan dari salah satu mata yang lebih dominan, sehingga berakibat gangguan penglihatan pada anak.

Direktur EDC, dr Erry Dewanto SpM mengatakan, kondisi seperti itu akan semakin parah dan mengakibatkan kebutaan permanen bila tidak segera ditangani.

Gejala kelainan ambliopia sangat kentara bila dilihat langsung, biasanya kedua mata anak tidak bergerak secara bersamaan. Selain itu, terkadang anak cenderung memiringkan kepala disaat melihat sesuatu objek, dan kelopak matanya turun.

Kelainan pada mata yang dapat menyebabkan ambliopia (mata malas) di antaranya adalah; Pertama, kelainan refraksi (hiperopia, miopia, dan astigmatisma) yang tidak terkoreksi sejak kecil.

Hal ini dapat terdeteksi jika anak sering memicingkan matanya atau mendekatkan dirinya kepada barang yang ditujunya atau melihat televisi.

Kelainan penglihatan refraktif adalah kelainan yang terjadi akibat bentuk mata tidak normal sehingga menyebabkan bias penglihatan yang berakibat terhadap pandangan menjadi kabur.

Gangguan penglihatan ini bisa berupa rabun jauh atau rabun sekat. kelainan mata pada anak yang ini biasanya disebabkan oleh faktor genetik (keturunan).

Kedua, perbedaan refraksi yang besar antara mata kanan dan kiri yaitu ukuran kacamata minus, plus atau silinder di kedua mata berbeda terlalu jauh sehingga terjadi kesulitan penggabungan dua bayangan yang tidak sama besarnya dari dua mata oleh otak.

Misalnya mata kiri minus 2 sedangkan mata kanan minus 6.

Ketiga, mata juling atau gangguan gerak bola mata yang lain seperti nystagmus, kelumpuhan saraf, sindroma kelainan gerak bola mata dan kondisi mata tidak berada dalam posisi yang sejajar.

Untuk mengetahuinya, mata yang terjangkit strabisnus dapat dilihat langsung terhadap respon mata anak terhadap benda atau objek- objek penglihatan.

Ada beberapa bentuk gejala kelainan mata strabismus/ juling yaitu; satu mata atau dua mata mengarah ke luar eksotropia. Sedangkan satu atau dua mata yang mengarah ke hidung disebut dengan stabismus esotropia.

Bila mata mengarah ke atas disebut dengan hypertropia. Dan mata yang mengarah ke bawah disebut hipotropia. Bila kelainan pada mata anak terdeteksi seperti yang digambarkan, berarti anak Anda sedang mengalami kelainan.

Dan, keempat, yaitu hambatan masuknya cahaya kedalam mata (kelopak mata jatuh/ ptosis sejak lahir, katarak kongenital, glaukoma kongenital, kekeruhan kornea, trauma dan lain-lain).

Pada bayi (infants), tes dilakukan dengan bantuan objek bergerak untuk mengetahui respon pergerakan mata, sekaligus melihat potensi adanya mata juling (strabismus).

Pada balita (toddlers), tes dilakukan dengan photo screening, red reflect est, atau autorefraction. Pada anak pra sekolah, tes dilakukan dengan huruf dan gambar dengan menutup sebelah mata. (jpg)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top