HEBOH! Dua Anggota DPR RI Diusir dari Raha – Kendari Pos Online
Jalan Sehat

pariwara
Iklan Jalan Sehat Kenpos Iklan 10 Iklan 23
HEADLINE NEWS

HEBOH! Dua Anggota DPR RI Diusir dari Raha

Anggota Kodim Muna dan Polres Raha berjaga-jaga menghadapi aksi massa yang menolak keunjungan dua anggota DPR RI ke Raha, Sulawesi Tenggara, Jumat (22/7/2016)

Anggota Kodim Muna dan Polres Raha berjaga-jaga menghadapi aksi massa yang menolak keunjungan dua anggota DPR RI ke Raha, Sulawesi Tenggara, Jumat (22/7/2016)

kendaripos.fajar.co.id,RAHA—Panasnya situasi politik di Muna akibat Pilkada yang berlarut-larut sudah dirasakan langsung dua anggota Komisi II DPR RI, Amirul Tamim dan Arteria Dahlan. Jumat (22/7), ketika dua legislator dari PPP dan PDI Perjuangan itu datang berkunjung ke Raha dengan agenda mencari fakta-fakta seputar proses Pilkada di daerah itu, mereka dihadang sekelompok massa. Agenda bertemu Pj Bupati Muna pun gagal total karena keduanya, bersama rombongan dipaksa meninggalkan Raha, sejam setelah tiba di kota itu.

Penolakan atas kehadiran dua anggota Komisi II plus tim dari Bawaslu tersebut dilakukan dengan cara menghadang rombongan saat menuju Rujab Bupati Muna. Massa yang berjumlah ratusan juga sempat bertindak anarkis dengan memukul iring-iringan kendaraan, sembari meneriakan agar rombongan Komisi II DPR RI pulang kembali ke Jakarta. Melihat situasi yang gaduh dan nyaris tak terkendali, rombongan pun diamankan aparat TNI ke Markas Kodim 1416 Muna.

Rombongan yang sehari sebelumnya berada di Konawe Selatan ini tiba di Muna melalui jalur penyeberangan Fery di Tampo sekira pukul 10:00 Wita. Mereka dijemput pelabuhan oleh Asisten III Pemda Muna, Edy Uga. Rencannya, rombongan langsung akan menuju ke Rujab Bupati Muna untuk melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak. Namun dalam perjalanan, tepatnya di depan SMP 2 Raha, Kelurahan Laiworu, Kecamatan Katobu rombongan dihadang massa, yang disinyalir pendukung pasangan calon.

Massa menilai, kedatangan anggota DPR-RI itu membawa titipan elit-elit politik tertentu dalam rangka kepentingan pasangan calon lain. untung saja, aksi penghadangan itu dapat diantisipasi Komdan Kodim (Dandim) 1416/Muna, Letkol ARH Hendra Gunawan. Rombongan diamankan di Markas Kodim 1416/Muna yang merupakan zona bebas aman politik.

Setelah dari Kodim, rombongan disarankan kembali ke Kendari via pelabuhan Tampo. Dengan pengawalan ketat prajurit TNI mereka lalu diantar ke Tampo. Massa ikut mengejar hingga ke Tampo. Di pelabuhan mereka dicegat aparat TNI dan Polisi. Sekira pukul 12.00 Wita, rombongan Amirul dan Arteria bisa pelabuhan Tampo menumpangi spead boad menuju Kolono, Kabupaten Konawe Selatan.

Salah seorang dari massa itu, Kadaruddin mengatakan aksi penghadangan dilakukan secara spontanitas. Mereka menduga, Arteria Cs datang untuk membawa agenda politik yang terselubung. Menurutnya, moment kehadiran dua anggota Komisi II tidak tepat. Sebab, tujuan mereka ke Muna untuk menginvestigasi persoalan Pilkada, dianggap sangat tidak logis. Alasannya saat ini proses Pilkada tengah bersengketa di Mahkamah Konstitusi (MK).

Anggota Komisi II DPR-RI Arteria Dahlan membantah tudingan itu. Ia menegaskan kedatangannya bersama tim lainnya ke Muna untuk melakukan pemantauan dan pengawasan apakah pelaksanaan PSU jilid II telah dilakukan sesuai aturan atau tidak. “Kami turun, karena ada dua laporan yang masuk ke Komisi II, pertama menyangkut DPT apakah verifikasinya dilakukan sesuai aturan atau tidak dan pelaksanaan pemilihanya,” katanya.

Laporan yang diterima Komisi II, lanjut Politisi PDI-P itu, terkait DPT yang telah dilakukan verifikasi berkali-kali dengan melibatkan KPU-RI, Bawaslu RI, Menkopolhukam, Kemendagri, KPU Sultra, Bawaslu Sultra, KPU Muna, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta pemerintahan desa/kelurahan.

“Laporan itulah yang kita akan cek, agar tidak terjadi PSU lagi dengan alasan tidak masuk akal akibat daftar pemilih.  Padahal DPT itu sudah dicek sama-sama yang melibatkan semua kepentingan serta semua pihak menyatakan DPT itu sah untuk PSU pertama dan kedua. Semua Paslon teken,”tuturnya.

Ia tidak inginkan lagi dilakukan PSU yang kesekian kalinya. Berangkat dari  hal itu, Komisi II lebih mencermati fakta dan objektif yang ada. Artinya, kalau masih ada ditemukan parmasalahan, maka harus ditindak lanjuti. Namun bila tidak ada masalah lanjutnya,kegaduhan yang terjadi selama ini segera dihentikan. “Sudah hampir Rp. 54 miliar uang keluar untuk Pikada. Itu konyol,” katanya.

Arteria juga menyangkan aksi penghadangan yang dilakukan tim pendukung salah satu calon bupati. Sebab, saat penghadangan terjadi tak ada satu orang pun anggota Polres Muna yang ada dilokasi. Ia malah berterima kasih pada Dandim 1416/Muna yang cepat melakukan aksi pemulihan. “Saya sudah sampaikan ke Kapolres tadi, bahwa kejadian ini sebagai pelajaran terakhir agar kedepan tidak terjadi lagi. Negara ini tidak boleh kalah dengan kekuasaan. Artinya, tidak boleh ada tekanan sebesar apapun yang dapat mengganggu jalannya pemerintahan,”tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiranya jangan dikait-kaitkan dengan partainya yang saat Pilkada Muna mengusung Rumah Kita. Di Komisi II tidak melihat partai. Terlalu kecil bila PDIP hanya mengurusi Muna. “Hanya kebetulan saya dari PDI-P. Tapi, saya katakan, Komisi II datang bukan untuk mengurusi Muna, tapi menyelesaikan persoalan,”tegasnya lagi.

Saat dalam perjalanan ke Kendari kemarin, Kendari Pos kembali menghubungi Arteria Dahlan. Ia pun menolak bahwa aksi yang terjadi di Muna itu adalah penghadangan ataupun pengusiran terhadap dirinya. “Ah bukan penghadangan itu. Itu hal biasa, masyarakat menghampiri untuk mencari tahu apa maksud dan tujuan kami datang ke sana. Biasalah masyarakat menanyakan seperti itu,” ungkapnya.

Soal kepulangannya yang terlalu cepat, Arteria menjelaskan bahwa itu karena keinginan dirinya untuk segera tiba ke Kendari karena pesawatnya akan berangkat ke Jakarta pukul 18.00 Wita, kemarin. “Kalau saya tidak pulang saya bisa ketinggalan pesawat jadi bukan karena diusir oleh warga, itu salah,” tegasnya.

Mantan pengacara ini juga menjelaskan bahwa ia buka tipikal yang takut akan hadangan orang-orang yang tak suka pada dirinya. “Saya kerja tidak akan terpengaruh hal-hal seperti itu apalagi dengan aksi seperti itu. Kalau saya mau lanjutkan bisa-bisa saja ke lokasi (Rujab) namun karena ada agenda mendadak di Jakarta jadi saya harus segera bertolak ke Kendari,” pungkasnya.

Sementara itu Amirul Tamim menjelaskan bahwa kedatangan ia bersama rekannya di Komisi II ke Muna terkait dengan pekerjaanya sebagai wakil rakyat. “Saya kunjungan untuk mengetahui masalah-masalah di Sultra tapi bukan masalah PSU. Kalau soal Pilkada atau PSU kita sudah tahu bersama. Kini kita tinggal menunggu putusan MK saja,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, mantan Bupati Muna, Ridwan Bae yang kini berstatus sebagai anggota DPR RI mengaku menyayangkan aksi massa tersebut yang dinilianya berlebihan. Padahal, sepengetahuannya, tipikal orang Muna itu ramah dan bersahabat. Harusnya, berilah kesempatan untuk menjelaskan tujuan kehadiran dua anggota DPR RI, apalagi mereka diperjalankan oleh negara. Jika perlu sampaikan secara santun aspirasi dan penolakan mereka, termasuk keresahan soal Pilkada.

“Tapi harusnya juga dua rekan saya itu tidak memaksakan ke Muna saat ini karena kita tahu kondisi psykologis warga sedang memanas karena Pilkada. Harusnya, kalau mau mencari persoalan di Raha, sejak jauh-jauh harilah, jangan setelah PSU dan sedang menunggu vonis MK. Wajar kalau situasinya agak tak terkendali, saya bisa paham itu,” kata anggota Komisi V DPR RI, yang saat dihubungi semalam berada di Pangkal Pinang, Kepulauan Riau. (YAFRUDDIN)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top