Awas, Vaksin Palsu Meluas Peredarannya – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Metro Kendari

Awas, Vaksin Palsu Meluas Peredarannya

kendaripos.fajar.co.id. KENDARI– Pasca teridentifikasinya 14 Rumah Sakit (RS) plus 37 fasilitas kesehatan (Faskes) menggunakan vaksin palsu, pengawasan pengunaannya diperketat. Apalagi masih terbuka kemungkinan RS maupun klinik penyedia vaksin palsu ini terus bertambah. Hasil penyidikan Bareskrim Mabes Polri terbaru mengungkapkan adanya peredaran vaksin ini hingga daerah luar pulau Jawa seperti Sumatera Utara (Sumut) hingga Aceh.

vaksin_20160625_091716

Tak ingin kecolongan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra terus memperketat pengawasan pendistribusian vaksin. Mata rantai peredaran vaksin melalui distributor perusahaan farmasi terus ditelusuri. Itu untuk memastikan vaksin yang beredar selama ini tidak terkait dengan para penyedia vaksin palsu. Meskipun kasus peredaran vaksin palsu belum ditemukan, namun tak ada jaminan Sultra terbebas dari penggunaannya.

“Sejuah ini, peredaran vaksin palsu di RS maupun klinik di Sultra masih negatif. Kendati demikian, pengawasan tetap ditingkatkan. Sebab kami belum bisa memberikan jaminan. Apalagi penggunaan vaksin palsu ini sudah berlangsung sejak tahun 2003 lalu,” kata dr. H Asrum Tombili, Kepala Dinkes Sultra, akhir pekan lalu.

Guna mengoptimalkan pengawasan lanjut mantan Direktur RSJ Ponggolaka ini, koordinasi dengan Dinkes kabupaten/kota terus ditingkatkan termasuk bersama Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Selain melakukan identifikasi terhadap distributor, pemerintah pun melakukan sweeping vaksin yang beredar. Pasalnya, pembelian vaksin palsu ini kerap dilakukan dijalur tak resmi. Makanya, bukan hanya mengkroscek data administrasi, namun juga fisiknya (vaksin).

“Vaksin harus selalu steril. Idealnya, berada pada suhu 2 sampai 8 derajat celsius. Kalau suhunya tidak stabil, vaksinnya akan rusak. Makanya, dalam pendistribusian vaksin ditempatkan dalam wadah tertentu semacam termos. Jadi pemerintah ingin memastikan vaksin yang disuntikan memang benar-benar layak. Bila sudah rusak, vaksin yang disuntikan tidak memberi manfaat,” kata mantan Kepala Dinkes Konawe ini.

Dari hasil penyidikan, distributor vaksin palsu pandai mencari peluang untuk menyusupkan produk ke sejumlah rumah sakit atau klinik. Mereka memanfaatkan kebutuhan RS yang mencari vaksin dengan harga yang relatif murah. RS atau klinik swasta yang diincar karena mereka tidak mendapat pasokan resmi dari Bio Farma.

Selain itu, RS atau klinik yang kekurangan stok vaksin kerap menjadi peluang bagi distributor untuk memasukan produknya.
“Sebagai langkah antisipasi, orang tua yang merasa anaknya mengalami gangguan kesehatan pasca divaksin untuk segera melapor. Makanya, orang tua lebih cermat melihat Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI),” sarannya. (b/mal)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top