MERAIH LAILATUL QADAR – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Lautan Ilmu

MERAIH LAILATUL QADAR

malam-bintang-720x340

Meraih laitul qadar merupakan dambaan setiap insan muslim. Mengapa demikian? Ya, memang begitu seharusnya seorang muslim, selalu mengharap hidayah, maghfirah serta rahmat Allah.

Bukankah pada malam tersebut terdapat keutamaan-keutamaan yang luar biasa sebagaimana yang Allah jelaskan di dalam Al Qur’an maupun Rasul-Nya terangkan di dalam As Sunnah ? Diantara keutamaan-kutamaannya adalah :
1. Diturunkannya Al Quran pada malam tersebut, ibadah di malam tersebut lebih baik daripada ibadah seribu bulan dan para Malaikat turun pada malam tersebut . (Al Qadr: 1-5)
2. Akan diampuni dosa-dosa bagi siapa saja yang shalat pada malam tersebut. Berdasarkan hadits Rasulullah :

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ له مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam lailatul qadar dalam keadaan iman dan dengan penuh harapan (balasan dari Allah) niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

KAPAN MUNCULNYA LAILATUL QADAR ?

Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat jumhur ulama’ bahwa munculnya lailatul qadar pada salah satu malam diantara malam-malam ganjil di sepertiga akhir (10 terakhir) Ramadhan. Dasarnya hadits ‘Aisyah, beliau berkata: ”Dahulu Rasulullah selalu menantinya pada malam-malam akhir di bulan Ramadhan kemudian beliau berkata: “Raihlah lailatul qadar pada malam-malam ganjil di akhir bulan”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

BACA JUGA :  Bolehkah Bayar Zakat dengan Uang ?

Apabila keadaan seorang muslim tidak memungkinkan karena sakit atau yang lainnya, maka jangan sampai luput baginya malam keduapuluh tujuh Ramadhan. Sebagaimana hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda :

اِلْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَوْ عَجِزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ علَىَ السَّبْعِ الْبَوَاقِى
“Carilah lailatul qadar pada malam sepuluh hari terakhir, jika salah seorang diantara kalian dalam keadaan lemah (tidak mampu) maka jangan sampai luput baginya malam keduapuluh tujuh”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

KESUNGGUHAN MENGHIDUPKAN LAILATUL QADAR

Barangsiapa yang terhalangi untuk mendapatkan lailatul qadar yang penuh barokah ini dia telah terhalangi pula dari seluruh kebaikan-kebaikan tesebut. Sehingga sudah seharusnya bagi setiap muslim untuk bersemangat mencari keutamaan malam tersebut sebagaimana hadits Aisyah, beliau berkata: ”Dahulu Rasulullah jika memasuki sepuluh terakhir mulai menjauhi istrinya, menghidupkan malamnya, serta mambangunkan keluarganya pada malam tersebut”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dalam riwayat Muslim: ”Dahulu Rasulullah bersungguh-sungguh (dalam beribadah) pada sepertiga akhir bulan, yang tidak sama kesungguhannya diselain malam-malam tersebut”.

BACA JUGA :  Bagaimana Sifat-sifat Lailatul Qadar?

TANDA MUNCULNYA LAILATUL QADAR
Telah diriwayatkan dari Ubay Bin Ka’ab, Rasulullah bersabda: “Pagi harinya matahari terbit dalam keadaan tidak menyilaukan, seperti halnya bejana yang dari kuningan”. (H.R Muslim), dalam riwayat yang lainnya dari jalan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda: ”Lailatul qadar adalah malam yang tenang dan sejuk yang tidak panas maupun dingin serta sinar matahari di pagi harinya tidak menyilaukan”. (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

Dan kita tidak boleh menentukan tanda-tanda lailatul qadar selain dari yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.

BACA JUGA :  Bagaimana Sifat-sifat Lailatul Qadar?

DOA YANG DISUNNAHKAN PADA MALAM TERSEBUT

Aisyah bertanya kepada Rasulullah : ”Wahai Rasulullah jika aku mendapati lailatul qadar, do’a apa yang kuucapkan pada malam tersebut?”, Rasulullah berkata :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبَّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
* * *

HADIST-HADIST DHO’IF YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMMAT

أَوَّلُ شَهْرِ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
“Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (ampunan), dan akhir bulan adalah pembebasan dari (adzab) an-naar”.

Hadist munkar, karena di dalamnya terdapat dua rawi yang dha’if (lemah), yaitu Sallam bin Sawwar, Ibnu Adi berkata: “Dia adalah munkarul hadits, dan Maslamah bin Ash Shalt, Abu Hatim berkata: ” matrukul hadits. (Lihat Mizanul I’tidal juz 4, hal.109, no. 8523 dan As silsilah Adh Dho’ifah hadits no. 1569)

Sumber: http://mahad-assalafy.com

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top