WASPADA! Vaksin Palsu Mungkin Ada di Sultra – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

WASPADA! Vaksin Palsu Mungkin Ada di Sultra

kendaripos.fajar.co.id,KENDARI—Kepala Dinas Kesehatan Sultra, dr Asrum Tombili tidak berani menjami daerah ini bebas dai vaksin palu. Kekhawatiran Asrun cukup beralasan. Pasalnya, peredaran vaksin palsu sudah sangat massif dan berlangsung dalam tempo yang cukup lama atau sejak tahun 2003 silam. Asrun mengaku sulit mendeteksi peredaran vaksi palsu, Apalagi bukti fisik seperti kapsul atau botol yang menjadi sample pemerintah mengindentifikasi vaksin oplosan ini telah dimusnahkan. “Jangankan sample 2015 tahun ke bawah, vaksin tahun 2016 saja sudah dimusnahkan,” kata mantan Kepala Dinas Kesehatan Konawe ini.

Menurut Asrun, indikasi peredaran vaksin palsu di Sultra tetap terbuka. Apalagi vaksin ini dijual bebas sehingga bisa dibeli di berbagai jalur. Biasanya, kata dia, dokter praktek memperoleh vaksin melalui distributor perusahaan farmasi yang kemudian digunakan untuk disuntikan kepada pasiennya. Begitupun dengan RS swasta.  “Jalurnya inilah yang sementara ditelusuri. Selama ini, siapa produsen pemasok. Kalau memang ada keterkaitan dengan pabrik pembuat vaksin palsu, jangan dulu digunakan,” tandas dr Asrum di ruang kerjanya, Rabu (29/6/2016).

Sementara peredaran vaksin palsu di RS pemerintah kata mantan Direktur RSJ Ponggolaka ini, sangat sulit terjadi. Pasalnya, jalur pendistribusiannya jelas. Proses pengadaannya ditangani langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Produknya langsung di kirim ke provinsi untuk didrop ke kabupaten dan kota. Selanjutnya, vaksin ini disalurkan ke RS pemerintah, puskesmas hingga ke posyandu. Peluang adanya proses pengadaannya di daerah cukup mustahil. Apalagi harganya murah bahkan ada yang digratiskan. “Jika melihat prosesnya, penggunaan vaksin palsu di RS pemerintah sangat kecil. terkecuali, proses pendistribusiannya di pusat sebelum dikirim ke daerah. Namun sangat sulit, apalagi penyalurannya sangat ketat. Makanya, kasus-kasus penggunaan vaksin palsu di faskes pemerintah tidak ditemukan. Untuk saat ini, Sultra tergolong aman sebab belum termasuk provinsi yang diinstruksikan melakukan sweping terhadap RS maupun dokter praktek,” kata mantan Kepala Dinkes Konawe ini.

Ia menuturkan, tidak semuanya jenis vaksin ikut dipalsukan. Katanya, hanya vaksin yang harga agak mahal saja. Untuk saat ini, ada lima jenis vaksin yang menjadi perhatian pemerintah. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Masyarakat Kemenkes RI nomor 02.06/D.1/II.4/912 tahun 2016. Yang mana, 5 vaksin yang dipalsukan yakni, BCG, campak, polio, hepatitis b dan tetanus toxoid. Ke-5 jenis vaksin ini yang tengah ditangani Mabes Polri.

Atas dasar SE itu, Dinkes telah menerbitkan 5 poin upaya pencegahan bagi seluruh pelaksana pelayanan imunisasi baik pemerintah dan swasta. Pertama, memeriksa kembali sumber pembelian vaksin di RS dan klinik. Apabila sumber pembelian vaksin tersebut diragukan untuk tidak digunakan. Ketiga, vaksin dibeli langsung ke distributor resmi PT Bio Farma atau menggunakan vaksin disediakan Dinkes kabupaten dan kota. Ke-4, memantau dan melaporkan ke dinkes atau BPOM bila ada vaksin yang diragukan. Terakhir, segera merespon bila ada anak yang mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dengan melapor ke Dinkes.

Untuk saat ini katanya, dampak yang diakibatkan vaksin palsu belum ditemukan. Hasil penelitian, cairan dalam kapsul hanyalah air biasa. Hanya saja, cairan tersebut diberi kemasan. Yang dirugikan, bukan hanya orang tua dan anak namun juga tenaga kesehatan. Pada dasarnya, mereka mengingkan cairan yang dimasukan ke tubuh pasien bisa memberi kekebalan tubuh. Namun kenyataannya, tidak sama sekali. Apalagi cairan di dalam kapsul isinya plasebo (zat netral yang tidak merusak badan).

Terlepas dari cairan dalam kapsul, pengunaan vaksin palsu tetap beresiko. Pembuatan vaksin palsu yang tidak steril dan tidak mengikuti prosedur seperti pembuatan vaksin asli tentu akan menimbulkan banyak kuman dan menyebabkan infeksi. Gejala infeksi tersebut antara lain demam tinggi disertai laju nadi cepat, sesak napas, dan anak sulit makan. Jika anak hanya demam saja setelah divaksin, orangtua tak perlu khawatir, karena beberapa vaksin memang bisa membuat anak demam.

Pemprov Sultra tegasnya, tidak akan segan-segan memberikan sanksi. Distributor farmasi yang terbukti terlibat akan diberikan sanksi. Sementara RS, klinik atau dokter praktek lanjutnya, kemungkinan tidak sebab mereka juga korban. Terkecuali mereka turut mengetahui dan terlibat. Untuk menghindari resiko, anak yang mendapat vaksin palsu seharusnya diimunisasi ulang. Sebab, mereka yang mendapat vaksin palsu tentu tidak mendapat manfaat kebal terhadap suatu penyakit.

“Kalau ke RS atau dokter, saya kira tidak sampai ke sana. Mereka kan hanya memakai produk yang dijual distributor. Jadi mereka juga korban. Sama halnya dengan orang yang bertransksi tapi tak tahu uang yang digunakan palsu. Karena tak tahu, uangnya digunakan membeli. Yang ditangkap atau disanksi, orang yang mencetak. Kalau di Sultra, peluang peredaran vaksin palsu ini sangat kecil. Pasarannya di Sultra relatif kecil,” pungkasnya. (amal)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top