Kisah Habibie (3): Habibie Ternyata Pernah Menggoda Guru Matematikanya – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Feature

Kisah Habibie (3): Habibie Ternyata Pernah Menggoda Guru Matematikanya

Rudy Habibie dengan pesawat pertamanya di Koln-kalk, Jerman. Temuan-temuan Habibie di bidang aeronautika telah memberi sumbangan besar di dunia dirgantara. FOTO: THE HABIBIE CENTER

Rudy Habibie dengan pesawat pertamanya di Koln-kalk, Jerman. Temuan-temuan Habibie di bidang aeronautika telah memberi sumbangan besar di dunia dirgantara. FOTO: THE HABIBIE CENTER

kendaripos.fajar.co.idSoal kenakalan remaja, Rudy Habibie juga sempat mengalaminya. Dia pernah menggoda guru matematikanya hingga guru itu melayangkan penghapus papan tulis ke arah Rudy.

Kendati nakal, Rudy tetap pandai untuk urusan pelajaran. Terutama bidang eksakta.

’’Kenapa saya pintar? Saya selalu fokus dalam setiap hal yang saya kerjakan. Saya akan mencari jawaban dan solusi atas semua masalah yang saya hadapi sampai sedetail-detailnya,’’ kata kepada Jawa Pos di Wisma Habibie-Ainun, Kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Minggu (19/6).

Kegeniusan Rudy di bidang ilmu eksakta mengantarnya untuk kuliah di Jurusan Elektro Arus Rendah Fakultas Teknik Universitas Indonesia atau yang sekarang dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Enam bulan kuliah, Rudy berangkat ke Jerman untuk kuliah penerbangan di Universitas Teknologi Rhein Westfalen, Aachen, Jerman.

Proses kepergiannya ke Jerman itu pun terbilang singkat. Keinginan kuliah di Jerman muncul setelah Rudy tidak sengaja berpapasan dengan teman SMA-nya, Lim Keng Kie, yang baru saja pulang setelah mengambil visa di Kedutaan Besar Jerman.

Keng Kie kemudian bercerita tentang rencananya belajar penerbangan di Jerman dengan beasiswa. ’’Ik ga met jou mee! Saya ikut dengan kamu,’’ teriak Rudy penuh semangat.

Keinginan Rudy itu bukan sekadar keinginan. Dia menjadikan keinginan itu sebagai cita-cita yang harus dikejar.

Sayang, pendaftaran beasiswa yang diikuti Keng Kie sudah tutup. Rudy pun mencari berbagai informasi tentang perkuliahan di Jerman.

Setelah informasi terebut lengkap, dia meminta izin kepada Tuti untuk mengikuti tes.

Lazimnya, yang mengikuti tes tersebut adalah mahasiswa tingkat dua. Rudy yang baru tiga bulan kuliah sempat dipandang sebelah mata saat mengikuti tes itu. Namun, ternyata dia berhasil mendapatkan nilai tinggi.

Berbekal nilai bagus, Rudy mendatangi para profesor untuk meminta rekomendasi. Setelah mendapat rekomendasi, dia langsung mendatangi dinas pendidikan untuk mengurus persyaratan kuliah di Jerman.

Menurut pegawai dinas pendidikan, Rudy sudah tidak bisa mendaftar beasiswa ke Jerman karena memang sudah ditutup. Namun, ada cara lain agar dia bisa tetap kuliah di Jerman.

Yakni, membiayai sendiri keberangkatan, perkuliahan, dan kebutuhan hidup. Untuk biaya hidup saja, Rudy butuh 375 Deutsche mark (DM). Belum lagi biaya lainnya.

Rudy bergegas pulang dan bercerita kepada ibunya, Tuti Marini Puspowardojo. Tanpa pikir panjang, Tuti langsung setuju. Masalah uang, dia akan berusaha mendapatkannya melalui usaha yang dijalaninya.

’’Apalagi Mami sudah terikat janji. Bahwa beliau akan memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya dengan tangannya sendiri. Tidak dengan bantuan siapa pun, termasuk beasiswa,’’ tegas Habibie.

Akhirnya, berangkatlah Rudy ke Jerman. Dia menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia berpaspor hijau saat itu. Mahasiswa lain yang berangkat dengan beasiswa memegang paspor biru alias paspor dinas.

Rudy pun terbang ke Jerman. Memulai kehidupan baru sebagai calon orang besar. (JPNN)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top