Ranjau di Teluk Kendari Sudah Diledakkan – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Ranjau di Teluk Kendari Sudah Diledakkan

Kapal Pulau Rapat saat melakukan pembersihan ranjau di lokasi pembangunan jemabatan Teluk Kendari, Minggu (19/6/2016)

Kapal Pulau Rapat saat melakukan pembersihan ranjau di lokasi pembangunan jemabatan Teluk Kendari, Minggu (19/6/2016)

kendaripos.fajar.co.id,KENDARI—Satu persatu kegiatan mempercepat pembangunan jembatan Bahteramas yang melintasi Teluk Kendari mulai digenjot. Setelah pembebasan lahan, proses tender, selama tiga hari terakhir ini dilakukan pembersihan Teluk Kendari dari sisa-sisa bom perang dunia kedua. Operasi sapu ranjau ini dilakukan Satuan Tugas (satgas) TNI-AL dari Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim)

Ada 15 titik yang dideteksi untuk diledakkan. Dari jumlah itu akan diledakan sebanyak 9 kali, mengingat letak bom yang saling berdekatan. Hingga Minggu (19/6/2016) telah 6 kali peledakkan. Sebab, beberapa titik yang dicurigai ranjau lokasi cukup berdekatan. Makanya, satgas pun memutuskan ranjau yang lokasinya berdekatan hanya sekali diledakan. Rencananya, hari ini satgas akan meledakan 3 kali peledakan terhadap ranjau yang masih tersisa.

Gubernur Sultra, H Nur Alam turut menyempatkan hadir pada hari kedua operasi, Minggu (19/6/2016). Nur Alam melakukan pemantauan dari atas  Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Pulau Rapat 712. Bahkan, gubernur diberi kesempatan Komandan Satgas (Dansatgas), Kolonel Laut (P) Bayu Trikuncoro menghitung mundur detik-detik peledakan bom. Namun keberadaan orang nomor 1 di Sultra tidak lama. Setelah mengomandoi hitungan mundur ledakan pertama, gubernur mohon izin meninggalkan lokasi.

Pasangan HM Saleh Lasata ini berharap operasi pembersihan ranjau bisa berjalan sukses. Dengan begitu, pengerjaan Jembatan Teluk Kendari ini bisa segera dimulai. Menurutnya, masyarakat sudah lama menunggu rencana pemasangan tiang pancang proyek senilai Rp 726 miliar ini. Bila tuntas, operasi pembersihan ranjau bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya. Meskipun masih ada tahapan operasi yang akan dilakukan TNI-AL, ia optimis bisa dituntaskan dalam waktu dekat. Dengan demikian, ground breaking jembatan Teluk Kendari bisa dimulai.

Prosedur pengamanan yang diterapkan Satgas TNI-AL sangat ketat. Selama operasi, tak satupun perahu diperkenankan melintas. Tim yang diturunkan pun sibuk menyelesaikan tugas masing-masing. Ke-90 personil ini berasal dari kesatuan TNI AL, Satuan Ranjau, Satuan Pasukan Khusus, Pasukan Katak, Penyelam TNI AL, Labinsen, Arsenal, Brigros serta tenaga medis. Fungsi dermada pelabuhan Nusantara pun terpaksa harus dipindahkan ke Pelabuhan Bungkutoko. Untuk memastikan area benar-benar steril, KRI Pulau Rapat 712 tetap berada di tengah teluk melakukan pemantauan.

Operasi pembersihan ranjau, dimulai sekitar pukul 08.00 Wita. Setelah melakukan persiapan, satgas yang menggunakan sejumlah unit speedboat TNI-AL berputar mengitari teluk guna memberikan peringatan. Setelah areal dianggap aman, prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) mulai melakukan penyelaman. Lokasi yang dicurigai kemudian diberi tanda berupa angka. Agar mudah dikenali, areal yang akan diledakan diikatkan wadah berwarna merah yang bisa terampung. Selanjutnya, tim pun mulai menurunkan dinamit yang tersambung kabel detenator.

Proses penanaman bom dilakukan tidak secara bersamaan. Satu persatu area yang telah beri tanda akan diturunkan bom. Selama pemasangan bom, hanya 2 unit speedboat yang berada di teluk. Satu speedboat bertugasnya membawa dinamit dan menyambungkan dengan kabel detenator. Sementara satunya mengawasi dan memberi aba-aba. Untuk menghindari dampak ledakan, satgas menggunakan 2 jenis bom. Daerah yang lokasinya dekat dengan daratan, TNI-AL lebih memilih menggunakan bom jenis TNT, sementara jenis bom laut agak ke tengah. Pertimbangnya, daya ledak bom laut cukup besar.

Selama penanaman dinamit, satgas memberi kode bendera. Bendera merah berarti, penanaman dinamit tengah dilaksanakan. Kuning menandakan, penanaman dinamit sudah selesai. Speed boat yang mengawasi pun merapat ke sisi darat. Speed boat yang membawa detenator pun mengibarkan bendera hijau dan menjauh dari lokasi. Sekitar 150 meter dari lokasi peledakan, satgas memberi aba-aba dengan menghitung mundur 5 sampai 1. Pada hitungan 1 berakhir, detenator ditekan sehingga terdengar ledakan yang cukup keras.

Pada hari pertama, ada 3 titik yang diledakan. Kotak nomor 6 menjadi lokasi yang diledakan pertama sekitar pukul 10.10 Wita. Sekitar 48 menit kemudian atau pukul 10.58 Wita, lokasi kedua kembali diledakan. Di dua lokasi ini, TNI-AL menggunakan bom laut seberat 175 kg. Sementara titik nomor 9 diledakan menggunakan TNT seberat 20 kg pada pukul 11.35 Wita. Pada hari kedua, peledakan baru dimulai pukul 10.45 Wita. Disusul ledakan kedua pada pukul 11.45 Wita. Selang 27 menit atau pukul 12.12 Wita, lokasi ketiga akhirnya diledakan.

Dansatgas Kolonet Laut (P) Bayu Trikuncoro mengatakan operasi pembersihan ranjau akan dilaksanakan selama 3 hari. Rencana awal, setiap hari akan diledakan 5 buah titik. Tapi setelah dilakukan evaluasi, tim memutuskan 3 titik saja. Pasalnya, ada beberapa titik yang lokasinya berhimpitan. Atas dasar itu, titik-titik yang berdekatan diputuskan hanya sekali diledakan. Makanya, titik kontak ledakan berkurang dari 15 titik menjadi 9 titik.
“Sejauh ini, operasi berjalan lancar. Titik yang telah terdeksi bisa diledakan. Saya berharap operasi ini bisa sukses sesuai jadwal. Setelah peledakan akan ada tim lagi yang melakukan netralisasi untuk mengecek apakah peledakan tadi mengenai obyek sasaran. Jadi kami akan melakukan ceking area. Apakah hasil peledakan sudah selesai dan terlaksana sesuai keinginan kita,” kata perwira tiga bunga dipundak.

Kasie Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kendari, Rahman Soamole mengatakan selama operasi berlangsung pengoperasian dermaga untuk sementara dipindahkan ke Pelabauhan Bungkutoko. Meskipun dipindahkan, jadwal pelayaran tidak terganggu. Apalagi penutupan pelabuhan Nusantara hanya pada saat operasi. Selain itu, pelaksanaan operasi digelar usai jadwal keberangkatan kapal. Bila pelaksanaan operasi belum berakhir saat jadwal kedatangan kapal, maka akan dipindahkan ke Bungkutoko. Namun jika sudah selesai, kapal sudah bisa berlabuh di Pelabuhan Nusantara. “Seperti hari ini, pelaksanaan operasi dimulai sekitar pukul 8 sampai 12 siang. Kalau jadwalnya terus seperti ini, dermaga pelabuhan Nusantara sudah bisa berlabuh. Namun untuk memastikan keamanan pelayaran, kami tetap harus terus melakukan koordinasi dengan TNI-AL. Makanya, setiap saat kami akan menunggu komando,” kata Rahman.

Operasi pembersihan ranjau mendapat perhatian masyarakat. Selama dua hari pelaksanaan, cukup banyak warga menyaksikan satgas melakukan peledakan. Tak heran, daerah pesisir laut di seputaran teluk nampak orang terlihat berkerumun. Mulai dari are pelabuhan, hingga pesisir Kendari Caddi, Lemo Baju, Mata hingga wilayah Lapulu. Apalagi daya ledaknya hingga menggetarkan dinding rumah. Makanya, banyak warga yang memilih keluar rumah.

Warga Kelurahan Lapulu, Kecamatan Abeli yang dekat dengan lokasi peledakan tidak semua mengetahui adanya peledakan ranjau oleh KRI Pulau Rupat 712 Satuan Kapal Ranjau (Satran), Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). Banyak yang masyarakat kaget dengan kerasnya ledakan ranjau. “Panciku jatuh semua. Saya lagi cuci piring langsung saya kaget dan lari keluar rumah. Kukira ada gempa besar. Saya kaget, saya kira mau tsunami. Saya tidak tahu kalau ada peledakan ranjau,” ungkap Anti, warga Lapulu. (KENDARIPOS)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top