Alamak! Gudacil Bombana Gundah, Bonus Triwulan Bermasalah – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Sulawesi Tenggara

Alamak! Gudacil Bombana Gundah, Bonus Triwulan Bermasalah

kendaripos.fajar.co.id, RUMBIA- Guru-guru daerah terpencil di Bombana kini banyak yang mengurut dada. Ini gara-gara jumlah penerima tambahan penghasilan dari negara itu mendadak menyusut. Tahun ini, dari 884 guru yang diusul, kabarnya hanya 414 guru saja yang dinilai layak dapat  “bonus” pertriwulan itu. Para guru ini, merupakan tenaga pengajar di semua tingkatan sekolah yang terletak di 32 desa di wilayah eks otorita Buton tersebut.

gudacil

Hanya saja, standarisasi soal siapa yang layak inilah yang jadi masalah. Sejumlah guru mengeluhkan adanya perlakuan tidak sama, dan diduga itu karena pihak berwenang di Diknas menerapkan standar ganda. “Di Kabaena saja rata-rata yang dapat itu guru-guru yang sekolahnya di jalur utama, bukan terpencil. Bagaimana logikanya pak, SD Eeemokolo itu dapat, padahal di jalan utama, sedangkan SD Sangia Makmur, tidak ada satupun yang dapat,” keluh seorang guru pria dari Kabaena Utara, kemarin.

Padahal, kata dia, Sangia Makmur itu jauh lebih terpencil. Kampung itu dulunya kawasan transmigran, belum ada listrik, sekolahnya langganan banjir, guru-gurunya harus menempuh perjalanan jauh dari rumah untuk sampai ke sekolah. Tapi justru dianggap tidak terpencil. “Lengora itu kampung sudah di jalan utama, ramai penduduk, ekonomi maju, malah masuk kategori terpencil. Lucu-lucu ini Diknas,” sindir guru yang mengajar di salah satu SD ini.

Tapi Kepala bidang Peningkatan Mutu, Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK), Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Bombana, Lukman, S.Pd mengatakan, 414 guru penerima Gudacil itu sudah sesuai kuota yang diberikan Kementerian Pendidikan. Rinciannya, 47 jenjang Taman Kanak-Kanak, 327 guru pendidikan dasar (SD dan SMP),  serta 70 guru di tingkat pendidikan menengah.

“Sesuai data yang ada, guru-guru yang menerima tunjangan gudacil sudah sangat tepat sasaran. Tidak ada lagi yang tidak layak, semua layak menerima, karena yang dapat tunjangan gudacil kebanyakan di pulau-pulau atau daratan terpencil,” katanya.

Mantan Kepala Bidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ini menambahkan, usulan Gudacil Bombana diajukan Bupati, H Tafdil berdasarkan nama sekolah. Sekolah ini tersebar di 85 Desa se Bombana dengan rincian 113 Dikdas, TK 50 sekolah dan Dikmen 14 sekolah. “Data inilah yang diusulkan di Kementerian Pendidikan berdasarkan SK bupati,” sambungnya.

Ia akui bahwa keluarnya data-data penerima gudacil tahun ini memang sempat diprotes oleh beberapa guru karena nama mereka tiba-tiba hilang dari SK. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, mereka rutin mendapatkan tambahan gudacil. Namun setelah dikroscek, guru-guru yang protes tidak termasuk dalam daftar prioritas desa terpencil. “Kalau ada yang protes, saya arahkan agar mereka bermohon pindah di desa terpencil yang masuk skala prioritas,” ungkapnya.

Sayangnya, meski bercerita panjang lebar soal daerah terpencil, Lukman menolak memberikan data soal sekolah mana saja yang tahun ini menerima tunjangan gudacil. Diduga, ia khawatir bila ada sekolah yang harusnya tak masuk kategori terpencil, tapi ikut jadi penerima. (nur/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top