Diduga Begal, Honorer di BNNP Tewas Ditangkap Polisi – Kendari Pos –
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Hukum & Kriminal

Diduga Begal, Honorer di BNNP Tewas Ditangkap Polisi

kendaripos.fajar.co.id,KENDARI—Kisah tentang tangkapan polisi yang mendadak tewas tanpa penyebab jelas, lagi-lagi terulang. Adalah Abdul Jalil alias Jalil, seorang warga Kelurahan Tobimeita, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, tewas sesaat setelah ia diamankan polisi dari rumahnya. Lelaki berusia 25 tahun ini ditangkap karena diduga sebagai pelaku begal, dan sudah lama diburu. Ketika ditangkap ia sehat, tak sampai 8 jam kemudian ia sudah jadi mayat.

Polisi menyebut bahwa lelaki yang bekerja sebagai honorer di Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Sultra itu, meregang nyawa karena kehabisan darah, setelah betisnya di tembak polisi. Walau jarang ditemukan adanya kasus betis berdarah yang sampai membuat orang dijemput ajal, tapi seperti itulah hasil visum Dokter Kepolisian di RS Bhayangkara, Kompol Mauluddin. “Jalil meninggal akibat pendarahan betis kirinya. Pendarahaan akibat peluru yang mengenai korban,” katanya, kemarin saat dikonfirmasi.

Ironi dalam proses penegakan hukum itu terjadi Senin (6/6) malam lalu. Menjelang tengah malam, sekelompok anggota polisi mendadak memenuhi rumah Abd Jalil di Abeli. Nama lelaki itu muncul setelah kawannya bernama Ambang yang selama ini menjadi Daftar Pencarian orang (DPO) beberapa saat sebelumnya tertangkap dan menyebut pihak-pihak yang membantunya beraksi. Malam itu, jajaran Buru Sergap Polres Kendari dipimpin Ben Boy.
Menurut ibu Jalil, Rahmatia, ketika para penegak hukum itu datang ke rumahnya. Tanpa sempat menyodorkan surat perintah penangkapan, anaknya disergap. Demi menghargai kinerja aparat, sang ibu meminta anaknya untuk taat. “Dia dibawa baik-baik pak, anak saya juga tidak melawan. Ehh, kenapa pagi-pagi saya mau pergi besuk di Polres, sudah jadi mayat mi kasian,” cerita Rahmatia, kepada Kendari Pos, kemarin.

Ia tidak tahu persis, dimana tepatnya anaknya meninggal dunia. Apakah di tahanan polisi, atau di rumah sakit Bhayangkara. Yang jelas, ketika perempuan itu tiba di Mapolres sekira pukul 10.00 Wita, Selasa (7/6) lalu, hanya kabar bahwa anaknya sudah tak bernyawa yang ia peroleh. Ia hanya menduga, ada yang salah dalam penanganan anaknya hingga kemudian berakibat pada kematian. “Polisi harus tanggung jawab. Mereka datang tangkap anak saya tanpa perlawanan. Kenapa pagi sudah sudah mati,” katanya dengan linangan air mata.

Selain ibunya, kakak almarhum, bernama La Abu juga ikut protes. Abu mengutuk keras sikap kepolisian yang ia sebut sudah “membunuh” adiknya. Abu menganalisa kematian adiknya karena ulah polisi yang sengaja menyiksa dan menembak demi memperoleh pengakuan soal keterlibatan adiknya dalam aksi begal yang diotaki Ambang.

Ia menuturkan kasus ini harus diproses apalagi polisi belum dapat menyatakan secara resmi apa penyebab kematian adiknya itu. Selasa (7/6) sekitar pukul 11.00 Wita, ibunya memang sempat menanyakan hal itu kepada pihak Polres dan hanya dijawab bahwa Jalil meninggal karena riwayat penyakit yang diidapnya selama ini. “Kami tanya Wakapolres dan Kapolres. Anak saya mati karena apa? eh, mereka balik nanya soal riwayat penyakit keluarga kami. Ketika ibu saya sebut kakek saya ada riwayat penyakit. Mereka bilang penyebabnya gara-gara itu. Kan itu aneh,” cerita Abu bersama ibunya.

Ketika dikonfirmasi soal kematian Jalil, Kapolres Kendari, AKBP Sigid Hariyadi S.IK mengatakan pihaknya belum dapat menduga penyebab kematian yang bersangkutan. Kapolres membenarkan bahwa anak buahnya memang melakukan penangkapan, Senin (6/6) malam lalu karena Ambang dan Jalil, terlibat banyak kasus diantaranya begal. Dia memastikan jajarannya menangkap Jalil sesuai ketentuan, dan ada alat bukti yang dimiliki.
“Soal hasil visum, yang meninggal karena pendarahan di betis, itu karena yang bersangkutan melawan saat ditangkap. Makanya ditembak. Ibaratnya anda lakukan perlawanan karena saya sebut tersangka, masa kami hanya diam. Pasti kita tembak. kan begitu (prosedurnya),” kata Kapolres sambil tersenyum ketika ditemui Rabu kemarin (8/6).

Untuk memperjelas sebab kematian Jalil, saat ini Sigid membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kasus tersebut. Sigid tak mau berspekulasi ketika ditanyakan terkait apakah ini kesalahan kepolisian. Ia hanya meminta agar semua pihak menunggu hasil investigasi. “Karena asumsi itu tidak dibenarkan dalam hukum. Intinya tunggu saja hasil penyidikan internal, karena timnnya sudah bekerja dan juga berasal dari Propam,” ungkapnya.
Di tempat terpisah Kabid Humas Polda Sultra AKBP Sunarto turut membenarkan kejadian itu. Sejauh ini, Narto baru menerima laporan dari keluarga Abdul Jalil yang ditujukan ke Propam terkait indikasi kematian tak wajar Abd Jalil. Ketika disinggung berapa jumlah anggota Buser yang sudah diperiksa? Narto belum dapat menjawab hal itu.

“Intinya laporannya telah masuk ke bidang Propam. Keluargannya baru melaporkannya kemarin,” kata lelaki yang sebentar lagi mendapat pangkat Kombes itu. (KENDARIPOS)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top