Ramadan Bersama, Lebaran Juga Diprediksi Kompak – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

Ramadan Bersama, Lebaran Juga Diprediksi Kompak

 Menteri Agama Lukman Hakim (kanan), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH.Maruf Amin saat memimpin sidang isbat di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Minggu (5/6). Foto : Ricardo/JPNN.com


Menteri Agama Lukman Hakim (kanan), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH.Maruf Amin saat memimpin sidang isbat di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Minggu (5/6). Foto : Ricardo/JPNN.com

kendaripos.fajar.co.id,JAKARTA—Sebagaimana telah diprediksi sebelumnya, 1 Ramadan jatuh hari ini (6/6/2016). Kepastian ini diputuskan dalam sidang isbat tertutup yang dipimpin oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin. Lukman menegakan tidak ada perbedaan penetapan awal puasa diantara ormas-ormas Islam di Indonesia.

Untuk kesekian kalinya sidang isbat dilaksanakan secara tertutup. Lukman menegaskan bahwa sidang yang tertutup itu bukan untuk menutup-nutupi akses informasi kepada publik. ’’Sidang tertutup ini masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI, red) dan pihak-pihak lainnya,’’ tutur dia usai sidang tadi malam.

Lukman menjelaskan bahwa mereka menggunakan pertimbangaan manfaat dan mudarat dalam memutuskan sidang isbat digelar tertutup untuk umum. Kesimpulan dari perhitungannya adalah, sidang isbat digelar tertutup justru lebih sedikit mudarat atau dampak negatifnya.

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu berujar bahwa pembahasan di dalam sidang isbat itu sangat teknis. Umumnya konten yang dibicarakan dipahami oleh orang-orang yang memiliki latar belakang ilmu astronomi yang bagus. Dia khawatir jika sidang isbat ditayangkan live di televisi, bisa membuat masyarakat salah paham.

’’Hasil masukan dari beberapa pihak, masyarakat itu lebih membutuhkan hasilnya (sidang isbat, red) ketimbang proses persidangannya,’’ jelas pria lulusan Pondok Darussalam Gontor itu. Dia berharap masyarakat Indonesia memanjatkan syukur karena tidak ada perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan 1437 H.

Terpusatnya penetapan awal puasa di kantor Kemenag Jakarta, juga menimbulkan dampak bagi masyarakat muslim di daerah waktu Indonesia timur (WIT). Tadi malam keputusan sidang isbat baru dipublikasi pukul 19.00 WIB. Itu artinya warga di Papua dan sekitarnya, mendapatkan kepastian awal puasa pada pukul 21.00 WIT.

’’Ini adalah konsekuensi dari luasnya wilayah Indonesia,’’ tutur Lukman. Orang-orang muslim di Papua, menuturnya, juga menetapkan awal bulan puasa berdasarkan posisi hilal. Tidak terkait dengan jam sehari-hari.

Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat Ma’ruf Amin mendampingi Lukman dalam menyampaikan hasil sidang isbat tadi malam. Ma’ruf menuturkan bulan puasa ini harus menjadi momentum bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memperbaiki bangsa. ’’Bangsa Indonesia ini sudah darurat,’’ jelas dia.

Kiai kelahiran Banten 73 tahun lalu itu menuturkan banyak sekali gejala bahwa Indonesia sekarang sedang masa darurat. Seperti maraknya kejahatan seksual pada anak, aksi terorisme, dan narkoba yang terus bergentayangan. Ma’ruf menuturkan umat Islam selayaknya tidak memaknai bulan puasa untuk menjaga ukhuwah Islamiyah saja. ’’Tetapi juga untuk menjaga ukhuwah wathaniyah (hubungan kebangsaan, red),’’ jelasnya.

Dengan berpuasa, umat Islam dituntut untuk menjaga hawa nafsunya. Tidak hanya hawa nafsu untuk tidak makan, tetapi juga untuk perbuatan-perbutan buruk lainnya. Seperti berbuat jahat, korupsi, nafsu birahi, dan lain sebagainya. Setelah bulan puasa selesai, upaya menjaga hawa nafsu itu diharapkan terus dijaga.

Ma’ruf juga menyampaikan rasa syukur bahwa awal bulan puasa tahun ini kompak. Sehingga tidak ada lagi waktu dan tenaga yang terbuang untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan seperti yang peRnah terjadi. ’’Insyallah lebaran nanti juga kompak,’’ tandasnya.

Prediksi Ma’ruf itu tidak asal-asalan. Saat dilakukan pengamatan hilal pada 29 Ramadan nanti, posisi hilal masih di bawah ufuk. Menurut perhitungan astronomi, posisi hilal nanti minus satu (-1) derajat di bawah ufuk. Sehingga jumlah hari bulan puasa digenapkan (isti’mal) menjadi 30 hari. Sehingga 1 Syawal atau lebaran jatuh pada Rabu, 6 Juli.

Sebelum sidang isbat digelar, Kemenag lebih dulu menjalankan sesi prasidang. Isinya adalah paparan perhitungan posisi hilal jelang 1 Ramadan. Paparan ini disampaikan oleh ahli astronomi dari Planetarium Jakarta, Cecep Nurwendaya. Cecep mengatakan posisi hilal pada 29 Syaban 1437 kemarin cukup tinggi. Yakni 4,1 derajat di atas ufuk.

Merujuk pengalaman sebelumnya, tinggi hilal di atas dua derajat itu sudah bisa terpantau oleh rukyat atau pengamatan langsung. Dia mengatakan tinggi hilal yang berpotensi menimbulkan perbedaan penetapan hari besar Islam adalah, ketika berada diantara 0-2 derajat di atas ufuk.
’’Bagi yang menggunakan hisab, tinggi hilal di atas nol derajat itu sudah memenuhi kriteria awal bulan,’’ kata dia. Namun bagi yang menggunakan sistem rukyat, tinggi hilal 0-2 derajat itu hampir bisa dipastikan sulit terlihat saat pengamatan.

Jadi sebelum keluar keputusan sidang isbat, Cecep sudah memperkirakan bahwa awal puasa tahun ini kompak jatuh pada Senin 6 Juni. ’’Hilalnya sedang baik hati. Karena posisinya tinggi,’’ paparnya diselingi canda.
Dambakan Puasa Bersama Sepanjang Masa

Mencari hilal atau bulan muda selalu menjadi topik yang ramai dibicarakan sebelum awal Ramadan. Perbedaan metode penentuan awal Ramadan antara mengamati hilal atau rukyat dan hisab tak meruncing jika organisasi masyarakat (ormas) besar seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Persatuan Islam (Persis) menemukan posisi hilal jauh di atas 2 derajat seperti kemarin petang. Semua dengan mudah sepakat bahwa Ramadan dimulai hari ini.

Namun, bulan 2 derajat di atas ufuk tidak terjadi setiap tahun. Karena itu, selalu muncul harapan akan adanya metode alternatif yang menjembatani perbedaan dua kriteria tersebut.

Ketua PB NU Mohammad Nuh menuturkan sudah berusaha mencari titik temu antara konsep yang digunakan Muhammadiyah dan NU. ”Saya melakukan ketika awal-awal ditunjuk menjadi menteri kominfo,” ujar Nuh. Menurut dia, peluang untuk mempertemukan dua konsep itu memang masih ada. Intinya adalah terbangunnya rasa saling menghormati serta menghargai di antara Muhammadiyah dan NU.

Cara membangun rasa hormat dan menghargai itu adalah memperbanyak intensitas pertemuan antar ormas Islam. Nuh mengatakan, hilal muncul setiap bulan, bukan hanya saat awal bulan puasa, penentuan Lebaran, dan penetapan Idul Adha. Nah, dari kondisi itu, Nuh mengatakan bahwa NU dan Muhammadiyah dengan difasilitasi Kemenag duduk bersama untuk mengamati serta menghitung hilal setiap bulan.

Hasilnya lantas dirangkum untuk mengetahui seberapa besar jurang perbedaan antara model rukyat dan hisab. ”Jadi, bukan dengan petentengan (tegang, Red) seperti selama ini,” jelas mantan rektor ITS itu.

Nuh mengibaratkan dua konsep tersebut seperti yang ada dalam penetapan anggaran negara. Sistem hisab itu diibaratkan pagu indikatif APBN. Sedangkan sistem rukyat adalah pagu definitif APBN. Jadi, keduanya memang bukan sesuatu yang berbeda, melainkan metode untuk melihat fenomena alam sebagai penentu ibadah yang saling terkait dan bisa dijembatani.

Dirjen Bimas Islam Kemenag Machasin mengatakan, memang ada beberapa alternatif metode untuk menentukan awal Ramadan. Misalnya rukyat qobla ghurub atau pengamatan hilal sebelum magrib. Metode itu pernah ramai dibahas, tapi Kemenag sampai saat ini belum mengakui alternatif itu sebagai mekanisme formal pemerintah.

Machasin mengatakan, Kemenag sebagai institusi pemerintah tentu harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Menurut dia, sidang isbat yang digunakan saat ini tidak berarti mengabaikan mekanisme hisab. Namun, sidang isbat juga tidak serta-merta menghapus metode rukyat yang digunakan oleh kelompok NU. (wan/far/jpg)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top