MUI Sultra Larang Bunyikan Petasan dan Kembang Api di Bulan Ramadan – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

MUI Sultra Larang Bunyikan Petasan dan Kembang Api di Bulan Ramadan

Petasan yang ramai diperjual belikan saat bulan Ramadan

Petasan yang ramai diperjual belikan saat bulan Ramadan

kendaripos.fajar.co.id,KENDARI—Marhaban ya Ramadan. 1 Ramadan 1437 Hijriah jatuh pada tanggal 6 Juni 2016. Berbagai kegiatan dalam meningkatkan amaliah Ramadan. Dalam meningkatkan kekhusyukan menjalankan ibadah selama Ramadan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tenggara (Sultra) meminta masyarakat tidak membunyikan petasan dan kembang api. Apalagi saat pelaksanaan salat tarawih.

Pesta kembang api dan petasan pada Ramadan sebelumnya sering kali menyebabkan ketidaknyamanan pelaksanaan ibadah. Petasan dan kembang api acapkali diledakkan di dekat tempat ibadah saat penceramah menyampaikan dakwah. Bahkan, letusan petasan kadang masih terdengar saat salat tarawih dilaksanakan.

Polisi sulit melakukan penertiban terhadap penjual petasan karena mereka mengantongi izin penjualan. Izin tersebut diterbitkan oleh Direktorat Intelkam Polda Sultra. Memang ada beberapa spesifikasi petasan yang dilarang dijual. Namun, semua jenis petasan yang dibunyikan saat pelaksanaan tarawih dinilai sangat mengganggu.

Ketua MUI Sultra, KH Mursyidin mengungkapkan, Islam tidak pernah menganjurkan membunyikan petasan maupun kembang api. Justru sebaliknya, petasan memiliki banyak kemudaratan karena menggangu kenyamanan orang lain. Malah belanja petasan dan kembang api masuk kategori bersifat boros. “Boros itu dilarang agama (Islam, red). Itu jelas ketentuannya dalam Surat Al Israa ayat 27,” ujar KH Mursyidin.

Mursyidin menambahkan, harusnya ada upaya pencegahan yang maksimal terhadap masyarakat yang memperjualbelikan, memproduksi, dan membunyikan petasan. Ia mengajak segenap tokoh masyarakat, tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melakukan pengawasan serta memberikan kesadaran kepada masyarakat agar tidak membuat, mengedarkan dan membunyikan petasan. “MUI juga telah mengeluarkan imbauan kepada pengurus masjid untuk menjaga keamanan selama salat tarwih berlangsung,” katanya.

Tak hanya MUI, larangan membunyikan petasan dan kembang api selama pelaksanaan ibadah puasa dan salat tarawih juga disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sultra, Mohamad Ali Irfan. Ia menilai bulan suci Ramadan merupakan momentum tepat mendekatkan diri kepada Allah untuk menghapus dosa-dosa selama sebelas bulan yang telah berlalu dengan ibadah-ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam menyambut bulan suci. “Petasan membuat orang lain terganggu, lingkungan tercemar dan dampak negatif lainnya,” ungkap Ali Irfan.

Senada Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sultra, Ahmad Aljufri. Ia menilai, peran orang tua sangat penting untuk memperhatikan anak-anaknya agar tidak mengizinkan membeli petasan. “Daripada anak-anaknya dibelikan petasan sebagai mainan, lebih baik anak-anaknya dibelikan buku atau mainan lain yang lebih mendidik,” katanya.

“Kesadaran masyarakat untuk meninggalkan petasaan harus dibiasakan sejak dini. Walaupun bermain petasan itu ada sebagian orang memaknainya sebagai gaya hidup. Namun gaya hidup yang tidak baik serta menggangu ketenangan orang lain haruslah ditinggalkan. Kepada pihak berwajib dan pemerintah dapat mengawasi secara intens dan terus berskala terhadap penjual serta pengguna petasan tersebut sehingga kenyaman dan ketenangan dalam beribadah di bulan Ramadan bisa dirasakan seutuhnya,” jelasnya.

Kepala Biro Humas dan PDE Setprov Sultra, Kusnadi mengaku, pihaknya berkoordinasi dengan aparat kemanan terkait penertiban penjualan petasan. Pola penertiban tetap mengedepankan upaya persuasif. Tapi jika terus diulangi, bisa ditindak termasuk menyita barang dagangannya. “Untuk menjaga kekhusyukan ibadah puasa, tidak hanya THM yang dilarang. Petasan pun menjadi perhatian. Pada Ramadan sebelumnya, warga cukup terganggu dengan bunyi petasan, terutama saat warga melaksanakan salat tarawih. Untuk itulah, mulai tahun ini tidak boleh lagi ada bunyi petasan selama ramadan,” kata Kusnadi. (had/mal)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top