Waspada Jajanan Pangan Berformalin! – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Metro Kendari

Waspada Jajanan Pangan Berformalin!

kendaripos.fajar.co.id,KENDARI—Hasil uji laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sultra terhadap jajanan pangan selama satu dekade terakhir cukup mencengangkan. Pasalnya, 58 persen jajanan pangan yang dijadikan sample ternyata mengandung bahan berbahaya. Tidak hanya formalin, hasil uji laboratorium pun menemukan jajanan pangan mengandung boraks, rhodamin-b serta methanyl yellow. Padahal bahan-bahan ini cukup berbahaya bila dikomsumsi. Apalagi bahan mengandung zat-zat tersebut hanya diperuntukan sebagai bahan pengawet dan pewarna pakaian.

Panganan yang menjadi sample BPOM tidak hanya jajanan yang dijual dipasar. Namun juga jajanan sekolah, tempat umum hingga jajanan takjil. Sebagian besar kasus penggunaan bahan berbahaya pada jajanan pangan dilakukan tanpa sengaja. Hanya karena menggunakan produk tertentu sehingga jajanan pangannya ikut tertular. Seperti penggunaan sirup pada panganan es buah atau es pisang ijo. Hasil uji laboratorium menemukan penularannya berasal dari produk sirup berformalin. Begitupun dengan penggunaan sagu mutiara berformalin.

Meskipun presentase jajanan pangan yang mengandung bahan berbahaya cukup tinggi, Kepala BPOM Sultra, Adilla Pababbari mengklaim jumlah temuan jajanan pangan berformalin dalam 3 tahun terakhir semakin menurun. Melalui razia yang dilakukan secara rutin, kasus jajanan berbahaya turun hingga 2 persen. Apalagi produsen dan pelaku yang ketahuan mendistribusikan produk tersebut juga dikenakan sanksi. Untuk menimbulkan efek jera, BPOM pun membawa kasus ini ke ranah hukum. Tak heran, ada beberapa produsen dan distributor dikenakan sanksi pidana.

Jajanan pangan yang mengandung berformalin katanya, cukup beragam. Diantaranya, jajanan es, bakso, keripik, somay, tahu dan ikan kering. Untuk jajanan es biasanya terkontaminasi dari sirup, sagu mutiara atau kerupuk es krim. Hasil uji produk sirup dan sagu mutiara positif mengandung bahan berformalin dan rhodamin-b. Sementara kerupuk wadah es krim mengandung boraks. Demikian halnya dengan bakso, somay dan tahu. Agar tidak mudah rusak, jajanan pangan ini kerap direndam dengan bahan berformalin dan boraks.

“Lauk yang mengandung formalin cukup banyak. Mulai ikan sunu merah, ikan kerapu, kakap, gurita atau cumi kering. Selain ikan kering, bumbu masak seperti terasi ditemukan bahan rhodamin-b dan boraks. Makanya, beberapa produk lokal di Sultra terpaksa ditutup. Sementara produk yang dikirim dari daerah disampaikan ke pusat. Kandungan zat kimia berbahaya seperti boraks ditemukan pada produk penganan kerupu. Sementara formalin dan rodhamin-b terdapat pada sampel tahu dan bakso, sementara methanyl yellow pada cendol,” kata mantan Kabid Pemeriksaan dan Penyidikan Balai Besar POM Makasar.

Kendati jajanan pangan yang terkontraksi bahan berbahaya menurun lanjut alumnus Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin (Unhas) ini, BPOM tetap intens melakukan pengawasan. Apalagi selama bulan ramadan. Penjual jajanan musiman cukup banyak. Makanya, pihaknya akan mengambil sample pada jajanan takjil. Bila ada yang positif, BPOM akan memberi pemahaman sebab kebanyakan pedagang sendiri tidak tahu. Namun jika ada faktor kesengajaan, pelaku akan ditindak.

“Saya berharap masyarakat agar lebih jeli dan teliti dalam membeli ataupun mengonsumsi makanan. Memang dampaknya tidak langsung karena bersifat akumulatif, namun ia memastikan makanan itu berbahaya bagi tubuh. Apalagi bila dikomsumsi secara terus menurus,” mantan Kabid Pengujian Mikrobiologi. (amal)

Komentar

komentar

1 Comment

1 Comment

  1. La Tautau

    3 Jun 16 18:55 at 18:55

    Bagaimana dengan jajanan dan bahan pangan serta makanan yang ada di Kota Baubau..,,apa sudah di uji juga…???????/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top