Pariwara
HEADLINE NEWS

DIPENUHI SAMPAH, Bendungan Ameroro Terancam Jebol

Petugas DAS Konawe melakukan pembersihan bendungan Ameroro di Kabupaten Konawe, Sultra, Sabtu (7/5/2016)

Petugas DAS Konawe melakukan pembersihan bendungan Ameroro di Kabupaten Konawe, Sultra, Sabtu (7/5/2016)

kendaripos.fajar.co.id,UNAAHA—Bendungan Ameroro Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi langganan sampah setiap musim penghujan. Setiap tahunnya, volume sampah yang terbawa arus aliran sungai Konawe terus meningkat. Jika tidak diantisipasi, status Konawe sebagai lumbung padi Sultra terancam. Sampah yang terbawa arus tidak hanya ranting dan sampah kecil, namun kerap membawa balok kayu ukuran besar. Bila kejadian ini terus terulang, Bendungan Ameroro Konawe bakal jebol.

“Volume sampah yang menumpuk di Bendungan Ameroro terus meningkat. Saat ini, sudah sekitar 400 meter kubik sampah yang diangkut. Kemungkinan jumlahnya masih akan terus tertambah lantaran kegiatan pembersihan sampah masih terus berlangsung,” kata Suparji ST MT, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah IV Sultra saat menggelar pembersihan sampah di Bendungan Ameroro akhir pekan lalu.

Menurutnya, sampah yang didominasi ranting kayu harus segera diangkut. Bila dibiarkan, sampah yang menumpuk ini akan membentur terus mengurus bendungan. Apalagi arus sungai Konawe saat musim banjir cukup deras. Untuk itulah, sampahnya harus diangkat. Terlebih durasi musim penghujan dan banjir di Sultra cukup panjang. Makanya, kegiatan ini menjadi rutinitas BWS IV Sultra setiap tahun atau periode musim banjir.

Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Konawe yang rusak kata alumnus Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (FT-UH) ini, menjadi faktor penyebabnya. Makanya, semua pihak harus dilibatkan. Tidak hanya Pemda, BPDAS, BWS dan instansi terkait lainnya, namun juga masyarakat. Apalagi keberadaan bendungan ini begitu vital. Pasalnya, bendungan ini menyuplai air di jaringan irigasi sekitar 13 ribu lahan persawahan di Konawe. Bila jebol, ketersedian air di lahan persawahan akan terganggu.

“Saya kira, ini bukan waktu tepat untuk saling menyalahkan. Lebih baik, turun langsung mengangkut sampah. Sebab inilah solusi terbaik. Makanya, setiap tahunnya BWS rutin menggelar kegiatan ini. Selain membersihkan tumpukan sampah, petugas juga melakukan pembersihan sedimen yang menyebabkan pendangkalan areal bendungan,” kata mantan Satker Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) ini.

Proses pengangkutan sampah ini lanjut Suparji, sudah berlangsung sekitar satu pekan. Untuk mengangkat sampah ini, pihaknya mengerahkan sejumlah alat berat. Seperti mobil crane untuk menarik kayu gelondongan ukuran besar. Proses pengangkatan batang pohon kepala cukup menyulitkan petugas karena bagian ujung pohon tersangkut diantara bebatuan. (amal)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top